Tokofobia, Kecemasan Berlebih Jelang Persalinan dan Kehamilan

Doktersehat - Tokofobia
Photo Credit: Flickr.com/kkasabian

DokterSehat.Com– Kecemasan yang dihadapi seorang perempuan jelang kelahiran adalah sesuatu yang wajar, hampir semua wanita mengalami kegugupan jelang proses persalinan. Tetapi, bagi wanita yang mengalami tokofobia, kecemasan yang dialaminya jauh lebih parah daripada wanita pada umumnya.

Tokofobia adalah ketakutan seorang wanita terhadap kehamilan hingga memengaruhi keputusannya untuk memiliki anak. Diperkirakan satu dari sepuluh wanita telah menghindari kehamilan. Dan menurut sebuah penelitian, permasalahan wanita saat menghadapi kelahiran menanamkan rasa takut berlebihan pada 7 persen wanita.

Tokofobia dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu primer dan sekunder. Tokofobia primer terjadi pada wanita yang belum melahirkan sebelumnya. Bagi ibu hamil yang mempunyai ketakutan akan kelahiran cenderung berasal dari pengalaman traumatis pada masa lalu, termasuk pelecehan seksual.

Hal itu juga bisa dikaitkan dengan menyaksikan kelahiran yang sulit atau mendengarkan cerita atau menonton acara yang menggambarkan kelahiran sebagai hal yang memalukan atau berbahaya. Sedangkan ibu hamil yang menderita tokofobia sekunder, cenderung mengalami pengalaman melahirkan yang traumatis, sehingga membuat mereka takut melahirkan lagi.

“Kami melihat wanita begitu yakin untuk tidak melanjutkan kehamilan, (sehingga) mereka melakukan aborsi,” kata Clare Murphy dari British Pregnancy Advisory Service seperti dikutip dari Independent.

“Sebagian ketakutan wanita bukan hanya kelahiran, tetapi ketakutan memiliki orang lain yang berada di dalam tubuhnya atau membelah menjadi dua. Wanita-wanita ini membutuhkan dukungan kuat. Kami memiliki kasus di mana wanita telah berakhir di unit kejiwaan ibu dan bayi karena mereka sangat takut,” kata Maureen Treadwell dari Birth Trauma Association.

Murphy mengungkapkan, pada beberapa kasus, memilih operasi caesar merupakan pilihan untuk meredakan kecemasan yang dihadapi seorang wanita dengan tokofobia. Namun profesional kesehatan tetap harus menawarkan jenis persalinan apa yang akan dilakukannya.

Dia memperingatkan bahwa wanita yang takut melahirkan seharusnya tidak dilabeli sebagai abnormal. Karena hal ini bisa saja disebabkan oleh gangguan stres pasca-trauma dari pengalaman masa lalu.

“Kita perlu melihat cara-cara untuk mengurangi tokofobia sekunder dengan mengatasi masalah yang menimbulkan persalinan traumatik dengan memastikan wanita mendapatkan dukungan dan penghilang rasa sakit yang mereka inginkan, memastikan persetujuan untuk menghindari hilangnya rasa kontrol, memastikan informasi antenatal yang realistis.” katanya.

Penanganan Tokofobia

Helen Bremner, seorang hipnoterapis NHS mengalami tokofobia setelah kehamilan traumatis dan kelahiran anak pertamanya. Bremner menderita hiperemesis gravidarum, yaitu mual dan muntah di masa kehamilan dengan frekuensi serta gejala yang jauh lebih parah daripada morning sickness—selama delapan bulan.

“Setelah trauma kelahiran, saya menjadi panik di sekitar wanita hamil dan merasa lebih iri karena mereka dapat menikmati kehamilan mereka dan mengantisipasi dengan baik persalinan normal,” tuturnya.

Bremner mengungkapkan, bahwa hipnoterapi telah membantunya mengurangi kecemasan. Selain itu, ia juga menggunakan pengalamannya mengatasi tokofobia untuk membantu wanita dengan ketakutan melahirkan dan memiliki pengalaman traumatis.

Senada dengan apa yang dikatakan Bremner, Dr Patrick O’Brien dari Royal College of Obstetricians and Gynecologists, mengatakan, untuk perempuan yang ingin pulih dari tokofobia harus mendapatkan konseling untuk membantu mengatasi ketakutan yang dialaminya.

Bidan, ahli kandungan, dan spesialis kesehatan mental perinatal dapat membantu meredakan ketakutan dan membantu wanita memilih cara terbaik untuk melahirkan bayinya.

“Seperti fobia apa pun, ada bantuan untuk Anda melewati hal ini. Jika tidak, ada orang-orang yang telah melalui pengalaman serupa yang bisa membuat Anda tersenyum,” ungkap O’Brien.

Sementara itu, penulis buku A Labour of Love, Gabrielle Targett, mengungkapkan, bahwa cerita negatif dapat menimbulkan epidemi ketakutan pada masa persalinan, bahkan sejak sebelum masa mengandung. Targett mengimbau supaya calon ibu ‘mengkonsumsi’ informasi yang tepat mengenai persalinan, baik dari teman, kerabat yang mengalami persalinan dengan selamat.

Jika rasa takut tidak mampu diatasi juga, operasi caesar dapat menjadi alternatif untuk proses persalinan. Selain itu, Anda juga bisa mencoba terapi hypnobirthing untuk meminimalisir ketakutan dan menciptakan perasaan tenang.