TKW di Hong Kong yang Hamil di Luar Nikah Ini Berakhir Bahagia

DokterSehat.Com– Annie, seorang tenaga kerja wanita (TKW) dari Indonesia, telah bekerja di Hong Kong selama lebih dari satu dekade. Wanita berusia 42 tahun ini pun mulai berkencan dengan seorang pria setempat yang dia percaya akan menjadi teman hidupnya.

doktesehat-tes-kehamilan-test-pack

Photo Credit: Flickr.com

Tapi hubungan mereka secara tiba-tiba berubah. Bagi sebagian besar pasangan adalah saat sukacita menjadi sumber kegelisahan dan perhatian. Annie, bukan nama sebenarnya, hamil dan pacarnya berhenti meneleponnya, seperti mengutip South China Morning Post, Rabu (10/1/2018).

“Saya tidak ingin berhubungan seks dengannya tanpa pernikahan. Di Indonesia, itu tidak bisa diterima. Tapi dia bersikeras mengatakan bahwa budaya di Hong Kong berbeda. Aku juga takut hamil, tapi dia yakin dia tidak punya anak. Dokternya sudah memberitahunya, jadi dia menolak menggunakan kondom,” kenang Annie.

“Saya memanggilnya dan memberitahu kabar tersebut dan dia menuduh saya tidur dengan laki-laki lain. Tapi aku hanya bersamanya. Aku sangat kesal dan khawatir,” Annie menambahkan.

Annie harus menghadapi ketidakpastian memiliki anak di kota asing sendirian. Dan kasusnya tidak biasa.

Dengan jangka waktu yang lama, banyak pembantu tinggal di Hong Kong, tidak mengherankan jika mereka mulai membangun hubungan di kota.

Jessica Chow, direktur pekerjaan sosial dan perawatan kesehatan di kelompok amal Pathfinders, akrab dengan keadaan sulit seperti kasus Annie.

“Mereka merasa kesepian, menghabiskan bertahun-tahun jauh dari keluarga mereka dan sangat sering suami mereka saat kembali ke rumah sudah berselingkuh,” kata Chow.

“Sebagian besar para pambantu memiliki sedikit pengetahuna soal pendidikan seks atau tidak memiliki akses terhadap keluarga berencana di kota tersebut,” tambahnya.

Setelah mereka hamil, mereka akhirnya ketakutan: dari memberi tahu pada majikan di Hong Kong mereka, yang biasanya mengarah pada pemecatan mereka, untuk meminta bantuan dari negara asal mereka, di mana banyak keluarga menolak untuk membantu.

“Jika keluarga di rumah tidak bisa menerima anak, kemana anak ini bisa pergi?. “Siapa yang bisa menjaganya? Tanya Chow.

biasanya, sang ibu di sini sering didorong untuk memperpanjang visa sehingga dia bisa merawat anaknya.

Warga asing tidak memenuhi syarat untuk layanan penitipan anak, katanya, dan pengasuhan tidak tersedia bagi wanita yang seringkali diharapkan siap bekerja 24 jam selama enam hari.

“Bila mereka tidak ingin mengakhiri kehamilan mereka, pada dasarnya mereka tidak memiliki pilihan.” kata Chow.

Beberapa bahkan mencapai keputusasaan sedemikian dalam sehingga mereka berpikir untuk bunuh diri.

“Terkadang kita sulit melindungi mereka saat mereka sangat depresi. Tapi mereka sangat luar biasa dalam hal ketahanan,” Chow memuji.

Menurut laporan Pathfinders 2016, 88 persen ayah anak-anak yang lahir dalam keadaan seperti itu berada di Hong Kong. Dari jumlah keseluruhan, 48 persen adalah pencari suaka dan 52 persen adalah penduduk tetap, memegang visa lain atau berada di luar kota.

Seperti banyak wanita lain dalam posisinya, Annie harus mencari bantuan badan amal.

“Majikan saya sangat marah dan kaget. Saya ditawari pilihan untuk melakukan aborsi di Shenzhen, tapi saya tidak setuju dengan itu, “katanya. Bahkan agen pekerjaannya membuat saran serupa.

Tak lama sebelum Annie melahirkan bayinya, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Menurutnya, dia tidak ingin bertengkar dan terlibat masalah.

Annie akhirnya menerima bantuan seorang pastor dan keluarganya, yang merawat anaknya selama dua tahun, sementara dia menemukan majikan lain dan berjuang di pengadilan agar anaknya diakui oleh ayahnya.

Setelah mengalami cobaan berat, pengadilan membuktikannya benar. Ayah anak itu setuju untuk memberikan uang saku kepada putra Annie, yang akhirnya dikenali sebagai penduduk tetap.

Anak laki-laki Annie, yang saat ini berusia 4 tahun, telah dibesarkan oleh keluarga lain yang dia temui melalui gereja. Dia bisa menemu sang anak di hari liburnya, tapi harapan itu akan berubah tahun ini.

“Saya menemukan majikan yang tidak keberatan ketika saya membawa anak itu bersama. Saya akan mulai bekerja untuk mereka di bulan Maret,” katanya sambil menyeringai.

Terlepas dari semua kesulitan itu, mata Annie berbinar dan tersenyum melebar saat dia berbicara tentang anaknya. Dia menghitung hari sampai akhirnya dia bisa melihat anaknya tumbuh dewasa setiap hari, sebuah kesempatan yang tidak dimiliki banyak pekerja rumah tangga.

Bahkan di masa-masa sulit, Annie mengatakan bahwa dia tidak pernah mempertimbangkan anaknya untuk diadopsi.

“Itu bukan pilihan, dia adalah darah dan daging saya sendiri,” Annie menjelaskan.

“Meskipun kita tidak hidup bersama, kita benar-benar dekat. Terkadang, saat dia merasa khawatir, anaku berkata: ‘Jangan khawatir, Mummy. Aku akan menjagamu saat aku dewasam,” tutup Annie.