Tips untuk Mendapatkan Keefektifan Dari Obat-Obat Herbal

DokterSehat.com– Penggunaan obat tradisional (herbal) yang menggunakan bahan-bahan alami saat ini banyak dipilih oleh masyarakat. Meskipun masih banyak yang lebih mengandalkan obat-obat kimia. Jika dilihat dari prosesnya memang obat kimia memiliki efek yang lebih cepat dibanding obat herbal. Namun obat kimia pun memiliki efek yang kurang bagus bagi tubuh, terlebih lagi jika berlebih. Sedangkan obat herbal akan jauh lebih aman. Namun satu hal yang perlu diperhatikan saat mengkonsumsi obat herbal adalah ketelatenan, kedisiplinan, dan keteraturan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.



Berikut ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mendapatkan keefektifan dari obat herbal.

  • Sebelum mengolahnya menjadi obat atau jamu, cuci bersih bahan atau tanaman herbal.
  • Segera gunakan bahan herbal yang telah bersih untuk menjaga kesegarannya. Jika memiliki ukuran yang besar, potong bahan tersebut, barulah direbus. Hal ini juga untuk memudahkan keluarnya zat yang terkandung di dalamnya. Jika ingin menyimpan bahan herbal tersebut, keringkan terlebih dahulu agar tidak busuk oleh bakteri dan jamur. Bahan kering atau yang disebut simplisia ini akan lebih mudah dihaluskan jika ingin dibuat serbuk.
  • Untuk mengkonsumsinya seduh langsung serbuk tersebut dengan air panas mendidih. Jika bahan keras dan sukar untuk diekstrak, hancurkan dan rebus terlebih dahulu selama kurang lebih 10 menit sebelum memasukkan unsur atau bahan lainnya. Gunakan air tawar yang bersih yang tidak mengandung zat kimia berbahaya. Pastikan air yang digunakan cukup hingga bahan terendam untuk menghasilkan khasiat obat yang lebih efektif.
  • Saat merebus obat, pakailah tempat atau wadah yang terbuat dai periuk tanah atau keramik, panci enamel, atau panci beling. Jangan menggunakan wadah yang terbuat dari logam, seperti besi, alumunium, dan kuningan. Logam-logam tersebut mengandung zat iron trichoride dan potassiun ferrycianide. Zat ini akan menimbulkan endapan pada air rebusan. Perlu diperhatikan saat melakukan rebusan, yaitu jangan sering membuka tutupnya, agar minyak atsirinya tidak mudah hilang.
  • Api yang digunakan saat merebus pun disesuaikan dengan jenis herbal. Api kecil digunakan untuk merebus herbal yang berkhasiat sebagai tonikum, seperti ginseng dan jamur ling zhi dengan waktu selama kurang lebih 2 jam. Hal ini untuk mendapatkan air rebusan dengan kandungan aktifnya benar-benar terserap ke dalam air. Selain itu, api kecil juga digunakan untuk perebusan obat yang mengandung toksin, seperti mahkota dewa agar kadungan toksinnya berkurang. Sedangkan api besar digunakan untuk herbal simplisia yang berkhasiat diaforetik (mengeluarkan keringat) dan mengandung minyak atsiri, seperti daun mint, cengkih, dan kayu manis. Setelah air mendidih masukkan bahan-bahan tersebut, dan rebus sebentar saja. Cara ini tidak akan menyebabkan minyak atsiri banyak hilang karena proses penguapan yang berlebih.
  • Apabila tidak ada ketentuan mengenai ukuran air yang dibutuhkkan untuk merebus, sisakan air tersebut hingga berukuran setengah dari jumlah air semula. Namun jika bahan yang direbus berupa bahan keras seperti akar atau biji maka sisakan hingga sepertiga bagian. Biasanya jika mengandung bahan kering, takarannya adalah setengah dari jumlah bahan segar. Misalnya jika menggunakan daun segar 90 gram, namun jika kering menggunakan 15 gram.
  • Penggunaan dosis bahan herbal pun sebaiknya sesuai dengan yang dianjurkan. Pada umumnya satu resep digunakan untuk diminum dua kali sehari. Sisa ampas pada rebusan pertama digunakan untuk rebusan kedua. Saat meminumnya pun sebaiknya dalam keadaan hangat. Namun, pengecualian untuk obat herbal seperti buah pinang, untuk menghindari kontraksi dengan lambung yang bisa menyebabkan muntah-muntah, mual, dan kram perut.
  • Minumlah jamu herbal sebelum makan agar mudah terserap oleh tubuh. Namun jika ramuan yang dapat merangsang lambung, minumlah sehabis makan. Ramuan obat yang berkhasiat sebagai penguat atau tonikum pada waktu pagi hari sewaktu perut dalam keadaan kosong. Sedangkan ramuan yang berkhasiat sebagai penenang misalnya pada penyakit insomnia, minumlah menjelang tidur.
Baca Juga:  Jangan Asal Memilih Minyak Aromaterapi

Obat herbal merupakan obat yang bersifat konstruktif, yaitu memperbaiki dan membangun, sehingga dibutuhkan keteraturan saat meminumnya. Sehingga Anda harus sabar, karena khasitanya tidak akan langsung bereaksi. Berbeda dengan obat kimiawi yang bersifat cepat dan destruktif. Maka dari itulah obat herbal sangat tidak disarankan untuk digunakan pada penyakit yang bersifat akut atau mendadak yang harus segera mendapatkan pertolongan medis, seperti demam berdarah, muntaber, dan lain-lain. Tanaman herbal lebih ditekankan pada pengobatan yang bersifat untuk memelihara kesehatan dan penyakit yang bersifat kronis atau menahun.

Selain itu obat herbal dapat dikombinasikan dengan obat kimia, terutama pada penyakit kronis yang susah disembuhkan, seperti kanker. Hal ini dilakukan untuk hasil pengobatan yang efektif. Aturan untuk meminum obat herbal sekitar dua jam setelah meminum obat kimia. Namun satu hal yang sangat perlu diperhatikan saat mengkonsumsi obat kimia bersamaan dengan obat herbal adalah berkonsultasilah kepada dokter terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan tidak semua jenis obat kimia dapat dikombinasikan dengan obat herbal. Bisa-bisa bukan sembuh yang didapat, namun malah bahaya yang akan didapatkan tubuh.