Tidak Subur Perlu Akupunktur?

DokterSehat.Com – Wanita mana yang tidak kaget saat mendapati dirinya hamil lagi di usia menjelang separuh baya, sementara selama bertahun-tahun setelah kehamilan anak kedua dan lepas dari alat kontrasepsi, hubungannya dengan sang suami tidak sampai menyebabkan kehamilan. Itulah mengapa, ia yakin dirinya tidak subur lagi. Ketika ternyata kehamilan terjadi, semua itu diyakininya terpicu oleh terapi tusuk jarum atau akupunktur yang dijalaninya.



Perkiraan ibu tadi tidak tidak meleset, karena seperti dikatakan dr. Adiningsih Srilestari, M.Epid, akupunktur memang dapat mengembalikan kesuburan wanita, sebab, prinsip pengobatan akupunktur adalah mengembalikan keseimbangan fungsi-fungsi organ tubuh.

Masalah ketidaksuburan apa saja yang dapat diterapi? Terapi akupuntur membantu masalah ketidaksuburan pada wanita, yang disebabkan gangguan fungsi sistem reproduksi, misalnya ketidakseimbangan sistem hormonal. Terapi ini tidak bisa mengatasi masalah ketidaksuburan akibat gangguan atau kelainan organ reproduksi.

Bisa mengatasi penyumbatan atau penyempitan saluran telur? Tidak bisa, karena keduanya termasuk gangguan pada organ reproduksi, sehingga diperlukan tindakan medis.

Bagaimana prinsip dasar terapi ini? Dasarnya adalah merangsang titik-titik akupunktur pada permukaan kulit, yakni suatu bagian tertentu pada tubuh yang memiliki perbedaan tekanan listrik, gelombang suara, serta kepadatan jaringan saraf. Perangsangan menggunakan jarum-jarum akupunktur akan memberikan efek tertentu pada titik tersebut dan bagian tubuh lainnya yang saling berhubungan. Kini akupunktur tidak melulu memakai jarum, tapi juga sinar laser (laserpunktur) dan penyuntikan cairan (akuapunktur). Namun jarum masih paling banyak digunakan karena dapat diterapkan untuk semua umur dan berbagai kondisi kesehatan. Laserpunktur tidak menimbulkan rasa nyeri sehingga cocok untuk anak-anak atau pasien yang takut jarum. Sementara akuapunktur biasanya diterapkan pada pasien dengan penyakit kronis, karena sekaligus dapat digunakan untuk menyuntikkan cairan obat.

Adakah efeknya dalam mengatasi ketidaksuburan? Ada efek yang bersifat terpusat, yaitu berupa peningkatan aliran darah ke rahim dan indung telur (ovarium). Aliran darah yang lebih lancar ini membuat aliran oksigen dan zat-zat nutrisi menuju kedua organ tersebut berlangsung lebih optimal. Sementara contoh efek yang bersifat menyeluruh berupa peningkatan fungsi ketahanan dan keseimbangan sistem hormonal. Kedua jenis efek tersebut secara bersama-sama akan meningkatkan kesuburan serta fungsi organ reproduksi untuk mempersiapkan terjadinya proses kehamilan.

Baca Juga:  Bagaimana Cara Mengatasi hypersomnia?

Kapan sebaiknya mulai diterapi? Begitu seorang wanita didiagnosa menderita gangguan fungsi pada organ reproduksinya yang menyebabkan ketidaksuburan atau sulit hamil.

Suami juga harus ikut terapi? Ya, sebaiknya sejak awal, keduanya sama-sama menjalani pemeriksaan untuk mengetahui penyebab ketidaksuburan. Sebab kenyataannya, 40% kasus ketidaksuburan disebabkan gangguan sistem reproduksi pada pria. Misalnya, jumlah dan kualitas sperma yang rendah, ketidakseimbangan sistem hormonal, pelebaran pembuluh darah balik pada buah zakar (varikokel), atau terjadi penyumbatan pada saluran epididimis (saluran keluar sperma). Dengan terapi akupunktur, jumlah dan kualitas sperma dapat ditingkatkan.

Berarti terapi ini menunjang program bayi tabung? Ya, bisa. Dari sejumlah penelitian di beberapa negara, diketahui angka keberhasilan proses inseminasi buatan pada pria yang menjalani terapi akupunktur mencapai 57%, sedangkan yang tanpa terapi akupunktur rata-rata hanya 30%.

Kapan pasangan yang akan ikut program bayi tabung sebaiknya mulai menjalani terapi akupunktur? Biasanya sebelum proses transfer embrio ke dalam rahim dilakukan, mereka lebih dahulu disarankan menjalani terapi sebanyak 4 kali, lalu dilanjutkan 2 kali terapi menjelang jadwal pelaksanaan proses tersebut. Jadwal terapi akan diatur oleh dokter kandungan, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasangan.

Adakah efek sampingnya? Setiap pengobatan memiliki risiko serta efek samping, begitu juga terapi akupunktur. Paling ringan berupa infeksi, kulit membiru karena ada pembuluh darah yang pecah (hematom), nyeri atau rasa tidak nyaman, timbul luka pada organ bagian dalam, atau jarum patah. Sedangkan efek samping yang berat biasanya terjadi jika terapi akupunktur dilakukan terapis yang bukan tenaga medis. Misalnya, kegagalan melakukan deteksi kontraindikasi dan komplikasi penyakit pasien. Namun, risiko tersebut dapat diperkecil dengan cara mendatangi dokter spesialis akupunktur medik.