Terobosan Baru Dalam Pengobatan Gangguan Mental

DokterSehat.Com – Melissa, perawat berusia 45 tahun di Afrika memiliki riwayat depresi yang telah berlangsung cukup lama. Ketika depresinya memberat, Melissa pergi berobat dan diterapi dengan Paroxetine (Paxil). Kurang dari sebulan kemudian, Melissa ditemukan mati bunuh diri.



Hasil otopsi menunjukkan walaupun Melissa mengkonsumsi obat sesuai yang diresepkan, namun tidak ditemukan adanya tanda keberadaan Paxil di darahnya. Ternyata, selama masa pengobatan tersebut, Melissa tidak terbantu dengan Paxil karena sesuatu terjadi dan ‘menghilangkan’ Paxil dari tubuhnya. Apa yang terjadi?

Tidak ditemukannya Paxil dalam darah Melissa, mendorong dokter untuk melakukan emeriksaan genetik terhadap jasad Melissa. Hasilnya, terdapat duplikasi gen CYP2D6, yang mengkode pembentukan enzim yang bertugas memecah dan menonaktifkan obat-obatan seperti Paxil.

Dari temuan ini, dokter menyimpulkan bahwa gen yang dimiliki Melissa menyebabkan kegagalan pengobatan Paxil terjadi sejak awal terapi karena sistem tubuhnya yang memecah dan mengeliminasi obat tersebut dua kali lebih banyak daripada sistem tubuh pada umumnya sehingga obat tidak dapat bekerja.

Seperti Melissa, Andrew mengalami anxietas berat dan depresi selama betahun-tahun. Perbedaannya dengan kasus Melissa, Andrew mengalami efek samping yang berat akibat konsumsi antidepresan. Andrew pun memeriksakan diri ke Mayo Clinic yang rutin melakukan uji farmakogenomik pada pasien. Dokter dari Mayo menemukan bahwa Andrew mengalami masalah yang berkebalikan dari Melissa, Andrew kekurangan gen yang bertugas mengkode untuk pembentukan enzim pemecah obat. Akibatnya, kadar antidepresan di dalam tubuh Andrew selalu tinggi sehingga menimbulkan efek samping yang berat.

Dengan mempertimbangkan profil genetik Andrew, dokter dari Mayo meresepkan obat alternatif yang sesuai untuk mengurangi efek samping dan mengembalikan Andrew pada fungsinya.

Sepuluh persen penduduk Amerika pernah mengkonsumsi antidepresan selama hidupnya. National Institutes of Mental Health memperkirakan pengobatan ini hanya sedikit lebih efektif dibanding dengan plasebo. Bahkan penelitian menunjukkan hanya sepertiga pasien yang berespon saat mendapatkan terapi pertama dan dibutuhkan trial dan error pada sepertiga pasien lain hingga akhirnya berespon terhadap pengobatan. Sayangnya, tiga puluh persen dari penderita depresi tidak berespon sama sekali terhadap terapi.

Baca Juga:  Sperma Dapat Merangsang Kontraksi Rahim

Uji klinis lebih lanjut menunjukkan hingga 70% pasien yang mendapat antidepresan tidak mengalami perbaikan. Bahkan seperempatnya mengalami efek samping yang dialami Andrew. Efektivitas yang beragam dan efek samping yang menyebabkan masalah dari obat-obatan psikoaktif juga mempengaruhi pengobatan OCD, skizofrenia, ADHD, bipolar, PTSD, dan gangguan jiwa lainnya. Ahli genetik dan neuroscience belum menemukan marker genetik yang dapat memprediksi pasien mana yang berespon dengan obat apa tanpa efek samping untuk menyusun strategi terapi yang lebih baik.

Uji psikofarmakogenomik ini dapat meningkatkan efektivitas terapi untuk depresi sekaligus mengurangi efek samping. Namun uji tersebut masih jauh dari sempurna, namun perkembangannya cukup cepat. Hal ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan farmakogenomik sebelum meresepkan obat untuk penyakit jiwa. Suatu hari nanti, dokter harus melakukan pemeriksaan gen secara rutin sebelum memberikan pengobatan psikoaktif untuk mendapatkan hasil yang optimal.