Terkena Komplikasi Influenza, Bocah Ini Akhirnya Meninggal Dunia

DokterSehat.Com – Kebanyakan dari kita masih menganggap remeh penyakit influenza atau yang kerap kita sebut dengan flu ini. Namun, apa yang terjadi pada bocah dari Ohio, Amerika Serikat, ini akan mengubah pendapat kita tentang penyakit flu. Bagaimana tidak, gara-gara terkena influenza, bocah kecil berusia enam tahun bernama Eva Marie Harris ini akhirnya meninggal dunia. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

doktersehat-anak-flu-pilek-sakit

Semua ini berawal dari tanggal 7 Februari lalu dimana Eva mengalami demam tinggi hingga 40,5 derajat Celcius. Orang tuanya pun segera memeriksakan kondisi sang bocah ke klinik anak. Di klinik tersebut, Eva didiagnosis terkena penyakit influenza B. Sebagai informasi, virus influenza A dan influenza B memang kerap menyerang manusia di musim dingin.

Yang menjadi masalah adalah, influenza B yang diderita oleh Eva ternyata memicu kerusakan otak karena sistem kekebalan tubuh sang bocah justru menyerang organ-organ tubuhnya sendiri. Kondisi ini sendiri menurut dokter disebut sebagai acute disseminated encephalomyelitis atau ADEM. Kondisi penyakit ADEM yang diderita Eva ternyata semakin parah sehingga dalam tubuhnya harus dipasang alat penunjang kehidupan. Sayangnya, pada tanggal 9 Februari lalu, tubuh Eva menyerah dan akhirnya meninggal dunia.

Pakar kesehatan di bidang saraf anak bernama dr. Maz Wiznitzer dari University Hospital Rainbow Babies & Children Hospital, berkata bahwa ADEM adalah sejenis penyakit automiun yang memicu sistem kekebalan tubuh menyerang otak dan tulang belakang penderitanya. Biasanya, gejala awal dari penyakit ini adalah tubuh yang lemas dan kaku, hilangnya keseimbangan, dan juga semakin kaburnya penglihatan. Biasanya, sebelum penyakit ADEM ini berkembang, penderitanya akan terkena infeksi berat dari beberapa virus layaknya influenza selama dua atau tiga pekan.

Untuk mencegah penyakit mengerikan ini, dr. Wiznitzer menyarankan setiap orang untuk mendapatkan vaksin virus influenza quadrivalent yang bisa melindungi seseorang terkena infeksi influenza hingga 90 persen.