<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dokter Sehat &#187; bayi</title>
	<atom:link href="http://doktersehat.com/tag/bayi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://doktersehat.com</link>
	<description>Informasi Kesehatan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:38:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>ASI ekslusif untuk masa depan yang lebih cerah</title>
		<link>http://doktersehat.com/asi-ekslusif-untuk-masa-depan-yang-lebih-cerah/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/asi-ekslusif-untuk-masa-depan-yang-lebih-cerah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 06:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fitriyono Ayustaningwarno STp MSi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pangan]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[asi]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=2792</guid>
		<description><![CDATA[Doktersehat.com-Ibu muda saat ini mulai menggemari aktivitas menyusui bayinya dengan air susu ibu (ASI) bahkan di sejumlah daerah sudah menjadi gaya hidup meskipun mereka sudah harus kembali bekerja di kantor. &#8220;Saya melihat ibu dan ayah muda sudah sadar pentingnya memberikan ASI dan inisiasi menyusui dini adalah keharusan,&#8221; kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://doktersehat.com/" title="doktersehat.com" >Doktersehat.com</a>-Ibu muda saat ini mulai menggemari aktivitas menyusui bayinya dengan air susu ibu (ASI) bahkan di sejumlah daerah sudah menjadi gaya hidup meskipun mereka sudah harus kembali bekerja di kantor.</p>
<p>&#8220;Saya melihat ibu dan ayah muda sudah sadar pentingnya memberikan ASI dan inisiasi menyusui dini adalah keharusan,&#8221; kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli dalam acara ulang tahun ke delapan program studi ilmu gizi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, di Semarang, Sabtu.</p>
<p>Banyak manfaat yang akan dirasakan oleh ibu maupun bayi dengan pemberian ASI di antaranya untuk risiko terkena kanker berkurang delapan kali dibanding yang tidak memberikan dan tidak mendapatkan ASI.</p>
<p>Bayi yang mendapatkan ASI akan memiliki daya tahan tubuh lebih bagus dan mengurangi gizi buruk, sedangkan pada ibu akan mendapatkan kualitas hidup lebih baik di hari tuanya (risiko untuk terkena kencing manis, stres, dan tulang keropos akan jauh lebih sedikit dibanding yang tidak memberikan ASI-nya).</p>
<p>Dalam kesempatan sama, Ketua Cabang Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jawa Tengah Rachmadhani menambahkan saat ini sudah banyak ibu muda yang terus melanjutkan memberikan ASI meskipun sudah masuk kerja dengan cara memeras susu di kantor.</p>
<p>Rachmadhani menjelaskan indikator dari banyaknya ibu muda mulai mengemari memberikan ASI dapat terlihat dari data yang dimiliki AIMI dan antusiasnya para ibu hamil serta ibu menyusui untuk mengikuti kelas pendidikan inisiasi menyusui dini.</p>
<p>&#8220;Kelas edukasi hingga saat ini sudah ada di 12 kota dan untuk di Jateng yakni Semarang, Surakarta, Purwokerto, Tegal, dan Yogyakarta,&#8221; katanya.</p>
<p>Data dari Dinkes Jateng juga menyebutkan bahwa pencapaian sasaran ASI ekslusif dari tahun 2007 terus mengalami peningkatan yakni dari 27,35 persen (2007); 28,82 persen (2008), 40,06 persen (2009), dan 52,3 persen (2010).</p>
<p>Rachmadhani menambahkan biasanya untuk awal menyusui yang tertunda dikarenakan tidak adanya inisiasi menyusui dini, antara ibu dan bayi tidak dirawat gabung, bayi sudah diberikan susu formula, bayi sudah diberi botol dot, dan ibu tidak mendapat rujukan yang tepat untuk membantu dalam hal menyusui.</p>
<p>Begitu juga sesampai di rumah permasalahan yang biasa muncul ibu stres dan tidak percaya diri, puting lecet, bayi bingung puting, bayi nangis terus, ibu tidak tahu harus meminta bantuan ke mana, serta ibu memutuskan menambah susu formula sampai akhirnya berhenti menyusui.</p>
<p>&#8220;Kami dari IAMI berharap jumlah ibu memberikan ASI semakin banyak dan hal tersebut dapat didukung dengan regulasi dan kebijakan tertulis yang mendukung ibu menyusui,&#8221; katanya.</p>
<p>Sejumlah hal yang mendukung seperti adanya ruang untuk memerah ASI beserta fasilitasnya dan ruangan menyusui di tempat kerja dan ruang publik seperti terminal, bandara, stasiun kereta api, pusat perbelanjaan, bank, kantor pos, kantor imigrasi, rumah sakit, puskesmas, kantor pemerintahan, dan hotel. (N008/M027)</p>
<p><em>Editor: B Kunto Wibisono</em></p>
<p>COPYRIGHT © 2011</p>
<p>Sumber berita http://www.antaranews.com/berita/282169/kegemaran-ibu-muda-berikan-asi-meningkat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/asi-ekslusif-untuk-masa-depan-yang-lebih-cerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menolong Bayi Jatuh</title>
		<link>http://doktersehat.com/menolong-bayi-jatuh/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/menolong-bayi-jatuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Apr 2011 11:56:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya bayi jatuh]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[bayi jatuh]]></category>
		<category><![CDATA[bunda dan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi bayi jatuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1784</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Hati-hati jangan langsung menggendong bayi anda apabila terjatuh !. Pastikan dulu bagaimana kondisinya! Usia bayi adalah masa rawan terjadi kecelakaan. Saat ia belajar berguling umpamanya dan orangtua lengah, ia bisa saja terjatuh dari tempat tidur. Untuk itulah manajemen penanganan kasus bayi terjatuh amat diperlukan. Yang pasti, saat si kecil terjatuh, jangan hanya mengkhawatirkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Hati-hati jangan langsung menggendong bayi anda apabila terjatuh !. Pastikan dulu bagaimana kondisinya!</p>
<p>Usia bayi adalah masa rawan terjadi kecelakaan. Saat ia belajar berguling umpamanya dan orangtua lengah, ia bisa saja terjatuh dari tempat tidur. Untuk itulah manajemen penanganan kasus bayi terjatuh amat diperlukan. Yang pasti, saat si kecil terjatuh, jangan hanya mengkhawatirkan bagian kepala saja, karena semua anggota tubuhnya memiliki risiko yang sama untuk mengalami benturan yang dapat membahayakannya. Berikut penjelasan dr. Anna Tjandra, Sp.A dari RSAB  Harapan Kita, Jakarta mengenai manajemen kecelakaan pada anak yang sederhana, yaitu:</p>
<p><strong>Menyaksikan langsung anak terjatuh.</strong><br />
- Perhatikan bagian mana dari tubuh anak yang mengalami benturan.<br />
- Ingat proses jatuhnya, apakah langsung menghujam ke lantai atau terbentur sesuatu terlebih dahulu baru ke lantai.<br />
- Pastikan dari ketinggian berapa meter anak terjatuh dan media apa yang menjadi tempat pendaratannya.<br />
- Lihat dan perhatikan baik-baik kondisi si kecil. Apakah setelah jatuh langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota badannya? Jika ya, kita bisa langsung menggendong untuk<br />
menenangkannya. Setelah ia tenang, baru lakukan observasi.<br />
- Adapun observasi yang perlu dilakukan adalah:<br />
+ Cari dan ingat bagian-bagian mana saja yang lebam/benjol/ memar di seluruh anggota badan bayi. Jika menemukan benjolan di kepala atau memar di badan, boleh diobati dengan obat antitrauma oles. Jika pada<br />
bagian kepala tidak ditemukan lebam atau benjol, tapi bayi menangis saat dipegang, larikan segera ia ke rumah sakit terdekat.<br />
+ Coba gerakkan kedua tangan bayi, ke samping, ke atas, ke bawah, ke depan, lalu rentangkan dan angkat-angkatlah. Jika ada keluhan pastikan di tangan yang mana dan saat dalam posisi seperti apa. Ini<br />
sebagai bahan untuk dilaporkan ke dokter.<br />
+ Lakukan hal yang sama pada kaki.<br />
+ Tengokkan kepala bayi ke kanan dan ke kiri. Coba dekatkan dagu bayi ke dada secara perlahan. Jika ada keluhan catat sebagai laporan pada dokter.<br />
+ Miringkan badan si kecil ke kiri dan ke kanan. Jika ada keluhan catat dan laporkan ke dokter.</p>
<p>- Observasi perlu dilakukan selama 2×24 jam. Jika dalam kurun waktu itu ada keluhan, apalagi sampai muntah dengan menyembur, segera larikan ke rumah sakit terdekat.<br />
- Sebaliknya bila setelah jatuh dalam keadaan sadar tapi pasif (apalagi tidak menggerak-gerakkan anggota badannya) jangan mengangkatnya. Hubungi UGD rumah sakit terdekat atau 118 untuk minta<br />
pertolongan paramedis. Salah mengangkat dalam kondisi seperti ini dapat berisiko fatal.</p>
<p><strong>* Jika menemukan si kecil sudah di lantai.</strong><br />
- Perhatikan keadaan bayi; sadar atau tidak, menangis atau tidak, dapat menggerak-gerakkan anggota badan atau tidak. Jika ia tidak sadar atau sadar tapi pasif, ingat jangan menggendongnya, tapi<br />
segera minta bantuan paramedis terdekat, UGD atau 118.<br />
- Perhatikan dalam posisi seperti apa si kecil saat ditemukan.<br />
+ Jika dalam keadaan tengkurap kemungkinan besarnya aman. Tapi kita mesti melakukan pemeriksaan seputar bahu, kedua tangan, dada dan kaki. Caranya gerakkan tangan ke atas, depan, samping. Jika ada keluhan sakit segera bawa ke dokter.<br />
+ Jika dalam keadaan telentang. Periksa dan perhatikan daerah kepala bagian belakang, leher, punggung, dan panggul, mulai dari tanda lebam atau merah, hingga keluhan sakit saat disentuh dan digerakkan<br />
seperti yang telah disebutkan di atas. Pastikan bayi tidak muntah atau mengalami penurunan kesadaran dalam 2×24 jam. Jika ada keluhan segera larikan ke dokter.<br />
+ Jika bayi ditemukan dalam posisi miring, kanan atau kiri. Perhatikan dan periksa kepala, tangan yang menjadi tumpuan badan, juga kaki. Lakukan pemeriksaan seperti yang disebutkan di atas. Jika<br />
ada keluhan segera larikan ke dokter.<br />
+ Jika ditemukan dalam posisi duduk. Periksa dan pastikan bayi masih sadar, biasanya menangis, dan mampu menggerakkan anggota badan. Periksa bagian panggulnya, ada tidak tanda memar, merah, atau sakit<br />
saat dipegang atau digerakkan. Jika ya segera larikan ke dokter. </p>
<p><strong> Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan</strong><br />
- Dalam posisi apa pun jatuhnya si kecil, jangan lupa melakukan pemeriksaan mata. Baiknya menggunakan senter:<br />
+ Masih bereaksikah saat kita senter matanya, mengedip, menutup matanya atau kaget. Jika tidak bawa segera anak ke rumah sakit.<br />
+ Gerakan senter ke kanan dan ke kiri, masih mampukah bayi mengikuti gerakan sinar. Jika tidak ia harus segera dilarikan ke rumah sakit.<br />
+ Perhatikan pupil matanya, apakah pupil mata yang kiri dan kanan sama besar/kecilnya saat kita senter satu per satu. Jika sama kita bisa bernapas lega. Bila tidak, bayi perlu menjalani pemeriksaan<br />
lebih lanjut, seperti CT Scan.<br />
- Ukur dan pastikan si kecil jatuh dari ketinggian berapa. Sebab semakin tinggi pastinya gaya gravitasi bumi akan lebih kuat menarik si anak. Tentu efek yang ditimbulkan pun semakin besar.</p>
<p><strong>EFEK POSISI JATUH</strong></p>
<p>Di bawah ini kemungkinan- kemungkinan yang bisa terjadi pada bayi saat terjatuh. Dengan pengetahuan ini diharapkan orangtua bisa lebih memahami kondisi bayi bila terjatuh dan mampu melakukan pertolongan<br />
pertama yang benar:</p>
<p><strong>* Jika kepala terlebih dahulu yang membentur lantai<br />
</strong>Di sebelah mana pun benturan itu terjadi selama masih di kepala, kita perlu mewaspadainya. Tulang tengkorak bayi masih rapuh dan ia belum memiliki refleks untuk menahan dengan baik. Kemungkinan yang bisa terjadi, bayi mengalami fraktur atau retak/patah tulang tengkorak kepala, atau perdarahan di luar tengkorak atau di dalam tengkorak.<br />
Perdarahan di luar dapat ditandai dengan adanya benjol/memar. Selama tidak ada fraktur, kondisi ini bisa dikatakan tidak parah. Rabalah ubun-ubunnya apakah menjendol atau tidak. Ubun-ubun yang menjendol<br />
menjadi tanda adanya peningkatan tekanan dalam otak yang dapat terjadi karena edema otak atau perdarahan. Harap diketahui, bila tidak ditemukan benjolan/memar, tapi bayi menangis (atau justru tidak menangis dan langsung tertidur), tidak sadarkan diri, mengalami kejang/muntah- muntah (yang menyembur bukan gumoh), ada kecurigaan bayi mengalami perdarahan di dalam tengkorak kepalanya. Segera larikan ke rumah sakit terdekat.</p>
<p><strong>* Jika dada terlebih dahulu yang membentur permukaan<br />
</strong><br />
Kalau tempat mendaratnya datar, kemungkinan risiko bayi untuk cedera lebih sedikit. Sebaliknya, tempat mendarat yang tidak mulus atau ada tonjolan yang tepat mengarah ke dadanya dapat mengakibatkan<br />
fraktur/parah tulang iga atau rusuk yang patahannya dapat mengenai organ paru-paru atau jantungnya. Untuk itu perhatikan apakah si kecil dapat bernapas secara normal atau tidak.<br />
Umumnya jika bagian dada terlebih dahulu yang “mendarat”, secara alami tangan akan membuat perlindungan terlebih dahulu. Karena itu periksa juga kondisi tangan dan bahu bayi. Apakah ada pergelangan<br />
tangannya mengalami patah atau adakah sendi yang keluar (dislokasi) dari tempatnya. Periksa juga bagian kepala, khususnya dahi. Biasanya saat mendarat, sekalipun dada terlebih dahulu, kepala langsung<br />
menyusul membentur lantai. </p>
<p><strong>* Jika panggul terlebih dahulu yang mendarat</strong><br />
Kemungkinan besar bayi akan mengalami dislokasi atau fraktur tulang panggul. Karena panggul berhubungan langsung dengan tulang belakang, dikhawatirkan ada saraf-saraf yang terjepit. Jika yang terjepit saraf kaki biasanya si kecil tidak bisa menggerakkan kakinya alias lumpuh.</p>
<p><strong>* Jika yang mendarat kaki terlebih dahulu<br />
</strong>Kejadiannya pada tiap bayi bisa berbeda. Jika ia sudah bisa berdiri pasti akan menahan tubuhnya dengan kaki lalu jatuh bersimpuh. Risiko kasus ini adalah dislokasi atau keseleo. Pada bayi di bawah 6 bulan<br />
meski belum mampu menahan tubuhnya, secara alami badan bayi akan terjatuh ke depan dan sebelum mendarat tangannya akan menjadi bumper.</p>
<p><strong>* Jika yang mendarat bokong duluan<br />
</strong><br />
Berbahaya karena kaitannya langsung dengan tulang belakang dan dapat mengakibatkan patah pada tulang punggung bayi. Risiko lain, bila ada saraf yang terjepit bisa mengakibatkan kelumpuhan. Bayi yang ditemukan terjatuh pada posisi seperti ini jangan digendong. Biarkan paramedis yang melakukan pertolongan. Tapi jika si kecil sadar dan bisa aktif kita bisa langsung menggendongnya.</p>
<p><strong>* Jika yang mendarat terlebih dahulu punggung<br />
</strong><br />
Menjadi bahaya jika saat mendarat posisi leher ikut terlipat/tertekuk karena bisa mengakibatkan keseleo dan fraktur tulang leher. Bila bayi dalam keadaan tidak sadar jangan mencoba mengangkatnya. Langkah yang bisa kita lakukan adalah minta bantuan paramedis di UGD di rumah sakit atau 118. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/menolong-bayi-jatuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Hanya 6 Jam dan Menyelamatkan 2 Nyawa</title>
		<link>http://doktersehat.com/hidup-hanya-6-jam-dan-menyelamatkan-2-nyawa/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/hidup-hanya-6-jam-dan-menyelamatkan-2-nyawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 12:47:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[aborsi]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[menyelamatkan 2 nyami]]></category>
		<category><![CDATA[organ donor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1745</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mempunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mempunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.</p>
<p>Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman-teman dan sahabat-sahabat, serta lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki-laki dan perempuan. Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki-laki. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.</p>
<p>Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tersebut), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki-lakinya. &#8220;Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak&#8221;, kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut,dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.</p>
<p>Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah. Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ? Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus berdo&#8217;a kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon   keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.</p>
<p>Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.</p>
<p>Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata-kata di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Kakak Anne, Jeffrey Pun menangis&#8230;<br />
<a href="http://doktersehat.com/wp-content/uploads/2011/01/bayi-nangis-mychildhealth-dalam.jpg" ><img src="http://doktersehat.com/wp-content/uploads/2011/01/bayi-nangis-mychildhealth-dalam.jpg" alt="bayi nangis mychildhealth dalam Hidup Hanya 6 Jam dan Menyelamatkan 2 Nyawa" title="bayi-nangis-(mychildhealth)-dalam" width="200" height="200" class="alignnone size-full wp-image-1748" /></a></p>
<p>Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..<br />
Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam&#8230;..</p>
<p>Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tersebut bahwa donor tersebut berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya&#8230;</p>
<p>SESUNGGUHYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.<br />
<a href="http://doktersehat.com/wp-content/uploads/2011/01/lovebaby.jpg" ><img src="http://doktersehat.com/wp-content/uploads/2011/01/lovebaby.jpg" alt="lovebaby Hidup Hanya 6 Jam dan Menyelamatkan 2 Nyawa" title="lovebaby" width="200" height="166" class="alignnone size-full wp-image-1746" /></a></p>
<p>sumber: buku &#8220;Gifts From The Heart for Women&#8221; - Karen Kingsbury</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/hidup-hanya-6-jam-dan-menyelamatkan-2-nyawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mengatasi Bayi dan Anak Susah Mandi</title>
		<link>http://doktersehat.com/tips-mengatasi-bayi-dan-anak-susah-mandi/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/tips-mengatasi-bayi-dan-anak-susah-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 12:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[balita]]></category>
		<category><![CDATA[batita]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[kebersihan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi]]></category>
		<category><![CDATA[susah mandi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1742</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; etika masih bayi 1 sampai  atau 4 bulan mungkin bayi kita masih dengan manis menikmati suasana mandi.  Namun sesuai beranjaknya usia, ada bayi yang makin suka mandi bahkan sampai menangis ketika mau diangkat dari air, tapi ada juga yang tergolong bayi malas mandi bahkan takut air. Nah, bagaimana ketika batita, balita, usia TK, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; etika masih bayi 1 sampai  atau 4 bulan mungkin bayi kita masih dengan manis menikmati suasana mandi.  Namun  sesuai beranjaknya usia, ada bayi yang makin suka mandi bahkan sampai  menangis ketika mau diangkat dari air, tapi ada juga yang tergolong bayi  malas mandi bahkan takut air. Nah, bagaimana ketika batita, balita,  usia TK, SD remaja dan seterusnya. Pasti membutuhkan perlakuan dan suasana mandi yang berbeda.</p>
<p>Sebelum  kita menyiasati agar anak bias menikmati mandi dengan senang, kita  perlu mengetahui terlebih dulu apa saja kesukaan anak di kala mandi, dan  apa saja yang membuat dia malas mandi bahkan takut mandi.  Mungkin  anak kita pernah terpeleset saat mandi waktu kecil hingga masuk ke  dalam air, perih terkena sabun, tidak suka   dibanjur (dikucurkan air  langsung dari atas kepala), tidak suka dingin, atau secara psikis memang  tidak suka mandi. Dengan mengetahui kesukaan dan ketidaksukaan anak  dengan acara mandi, insyaAllah kita bias meramu kiat-kiat menjadikan  suasana mandi menjadi lebih menyenangkan.</p>
<p><strong>Bayi (0 &#8211; 12 bln)</strong></p>
<p>Ciptakan suasana kamar mandi yang colorful</p>
<p>Sediakan  mainan karet untuk anak berbentuk binatang-binatang lucu seperti bebek,  kelinci, hipotamus, dll. Yang bisa berbunyi jika dipencet.</p>
<p>Alasi bak mandi dengan alas khusus bak mandi atau handuk tebal, untuk mencegah bayi tergelincir.</p>
<p>Pakailah air hangat-hangat kuku (sediakan air dingin terlebih dulu baru dicampur air panas).</p>
<p>Ajaklah bayi berbicara sambil memandikannya dengan sesekali mainkan mini operet dengan mainan yang tersedia.</p>
<p><strong>Batita &amp; Balita</strong></p>
<p>Ciptakan suasana mandi yang berbeda-beda.</p>
<p>Variasikan anak mandi dengan berendam, shower, ataupun gayung biasa.</p>
<p>Biarkan  dia memilih dan memasukkan mainan (khusus di air seperti pistol air,  boneka karet, kapal laut, dll) ke dalam kamar mandi.</p>
<p>Biarkan  anak memilih jenis shampoo, sabun, sikat &amp; pasta gigi sendiri, ajak  dia memilih dan membelinya sendiri di supermarket.</p>
<p>Tentukan waktu mandi secara teratur sekaligus untuk melatih kedisiplinan.</p>
<p>Tawarkan untuk mandi dengan air dingin ataukah air hangat.</p>
<p>Mulai ajarkan anak menyikat / membilas badan, menyampo, menggosok gigi sendiri.<br />
<strong><br />
TK &amp; SD</strong></p>
<p>Ketika anak beranjak dewasa…</p>
<p>Ciptakan sensani mandi dengan suasana yang unik dan berbeda.</p>
<p>Buatlah ritual layaknya di salon atau spa.</p>
<p>Ajak  anak untuk memilih dan membeli perlengkapan mandi sendiri mulai dari  handuk, baju mandi, shower cap, toiletries (sabun cair, shower puff,  sabun cair utk berendam, shampoo, sikat &amp; pasta gigi, sikat badan,  sikat kaki, pelembab, dll)</p>
<p>Anak  mungkin tidak ingin sekedar mandi, tapi ingin ingin berendam dengan  busa wangi yang melimpah sambil menggosok kaki dan badannya dengan sikat  khusus.</p>
<p>Atau  minimal ijinkan anak mandi agak lama dengan shower puff agar busa sabun  berlimpah sambil dia menggosok seluruh kulit tubuhnya sampai bersih.</p>
<p>Berkeramas di bawah shower, sambil menghirup lilin aromatherapy.</p>
<p>Setelah  selesai dia mengeringkan badannya dengan handuk kemudian memakai baju  mandi satu set dengan gambar karakter kesukaannya seperti Barbie, Hello  Kitty, Naruto, dll)</p>
<p>InsyaAllah anak kita tidak akan bete ketika wktu mandi telah tiba…</p>
<p>sumber Ibu Herlina Trisnaningsih</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/tips-mengatasi-bayi-dan-anak-susah-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Step / Stuip / Kejang Demam Pada Bayi Dan Balita</title>
		<link>http://doktersehat.com/mengatasi-step-stuip-kejang-demam-pada-bayi-dan-balita/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/mengatasi-step-stuip-kejang-demam-pada-bayi-dan-balita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 07:37:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[demam]]></category>
		<category><![CDATA[kejang]]></category>
		<category><![CDATA[step]]></category>
		<category><![CDATA[stuip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Kejang, baik yang disertai demam atau tidak, bisa berdampak fatal. Itulah sebabnya, setelah memberi pertolongan pertama, bawa segera si kecil ke rumah sakit. Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Timbulnya kejang yang disertai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Kejang, baik yang disertai demam atau tidak, bisa berdampak fatal. Itulah sebabnya, setelah memberi pertolongan pertama, bawa segera si kecil ke rumah sakit.</p>
<p>Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Timbulnya kejang yang disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis) atau stuip/step.</p>
<p>Masalahnya, toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi. Pada anak yang toleransinya rendah, maka demam pada suhu tubuh 38 C pun sudah bisa membuatnya kejang. Sementara pada anak-anak yang toleransinya normal, kejang baru dialami jika suhu badan sudah mencapai 39 C atau lebih.<br />
<strong><br />
SEGERA BAWA KE DOKTER</strong></p>
<p>Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, disarankan agar orang tua sesegera mungkin memberi pertolongan pertama begitu tahu si kecil mengalami kejang demam.</p>
<p>Setelah itu,jangan tunggu waktu lagi bawa segera si kecil ke dokter atau klinik terdekat. Jangan terpaku hanya pada lamanya kejang, entah cuma beberapa detik atau sekian menit. Dengan begitu, si kecil akan mendapat penanganan lebih lanjut yang tepat dari para ahli. Biasanya dokter juga akan memberikan obat penurun panas, sekaligus membekali obat untuk mengatasi kejang dan antikejang. “Sebagai pertolongan pertama, tak usah membawanya langsung ke rumah sakit lengkap yang letaknya relatif lebih jauh karena bisa-bisa si kecil mendapat risiko yang lebih berbahaya akibat lambat mendapat pertolongan pertama.”</p>
<p>Selain itu, jika kejang demam tidak segera mendapat penanganan semestinya, si kecil pun terancam bakal terkena retardasi mental. Pasalnya, kejang demam bisa menyebabkan rusaknya sel-sel otak anak. Jadi, kalau kejang itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka kemungkinan sel-sel yang rusak <a href="http://pills-store-online.com/" >online pharmacy without prescription</a>  pun akan semakin banyak. Bukan tidak mungkin tingkat kecerdasan anak akan menurun drastis dan tidak bisa lagi berkembang secara optimal.</p>
<p>Bahkan beberapa kasus kejang demam bisa menyebabkan epilepsi pada anak. Yang tak kalah penting, begitu anaknya terkena kejang demam, orang tua pun mesti ekstra hati-hati. Soalnya, dalam setahun pertama setelah kejadian, kejang serupa atau malah yang lebih hebat berpeluang terulang kembali.</p>
<p>Untuk mengantisipasinya, sediakanlah obat penurun panas dan obat antikejang yang telah diresep-kan dokter anak. Meski begitu, orang tua jangan kelewat khawatir. Karena dengan penanganan yang tepat dan segera, kejang demam yang berlangsung beberapa saat umumnya tak menimbulkan gangguan fungsi otak.</p>
<p><strong>CIRI-CIRI KEJANG</strong></p>
<p>Tentu saja dalam hal ini orang tua harus bisa membaca ciri-ciri seorang anak yang terkena kejang demam. Di antaranya:</p>
<p>kedua kaki dan tangan kaku disertai gerakan-gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang selama 5 menit . bola mata berbalik ke atas</p>
<ul>
<li>gigi terkatup</li>
<li>muntah</li>
<li>tak jarang si anak berhenti napas sejenak.</li>
<li>pada beberapa kasus tidak bisa mengontrol pengeluaran buang air besar/kecil</li>
<li> pada kasus berat, si kecil kerap tak sadarkan diri. Adapun intensitas waktu kejang juga sangat bervariasi, dari beberapa detik sampai puluhan menit.</li>
</ul>
<p><strong>TIPS ATASI KEJANG DEMAM</strong></p>
<p>Berikut beberapa penjelasan tentang kejang dan demam pada anak: . Suhu tubuh normal anak berkisar antara 36-37 C. Si kecil dinyatakan demam bila temperatur tubuhnya yang diukur melalui mulut/telinga menunjukkan angka 37,8 C; melalui rektum 38 C, dan 37,2 C melalui ketiak.Sebelum semakin tinggi, segera beri obat penurun panas. .</p>
<p>Orang tua jangan begitu gampang mengatakan seorang anak demam atau tidak hanya dengan menempelkan punggung tangannya di dahi anak. Cara ini jelas tidak akurat karena amat dipengaruhi oleh kepekaan dan suhu badan orang tua sendiri.</p>
<p>Termometer air raksa diyakini merupakan cara yang paling tepat untuk mengukur suhu tubuh. Pengukuran suhu tubuh akan lebih akurat bila termometer tersebut ditempatkan di rongga mulut atau rektum/anus dibanding ketiak.</p>
<p>Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita tak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah.</p>
<p>Jangan gunakan alkohol atau air dingin untuk menurunkan suhu tubuh anak yang sedang demam. Penggunaan alkohol amat berpeluang menyebabkan iritasi pada mata dan intoksikasi/keracunan.</p>
<p>Lebih aman gunakan kompres air biasa yang diletakkan di dahi, ketiak, dan lipatan paha. Kompres ini bertujuan menurunkan suhu di permukaan tubuh. Turunnya suhu ini diharapkan terjadi karena panas tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Penurunan suhu yang drastis justru tidak disarankan.</p>
<p>Jangan coba-coba memberikan aspirin atau jenis obat lainnya yang mengandung salisilat karena diduga dapat memicu sindroma Reye, sejenis penyakit yang tergolong langka dan mempengaruhi kerja lever, darah, dan otak.</p>
<p>Setelah anak benar-benar sadar, bujuklah ia untuk banyak minum dan makan makanan berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Bisa berupa jus, susu, teh, dan minuman lainnya. Dengan demikian, cairan tubuh yang menguap akibat suhu tinggi bisa cepat tergantikan.</p>
<p>Jangan selimuti si kecil dengan selimut tebal. Selimut dan pakaian tebal dan tertutup justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi penguapan. Pakaian ketat atau yang mengikat terlalu kencang sebaiknya ditanggalkan saja.</p>
<p><strong>YANG BISA DILAKUKAN ORANG TUA</strong></p>
<ul>
<li>Segera beri obat penurun panas begitu suhu tubuh anak melewati angka 37,5 C.</li>
<li>Kompres dengan lap hangat (yang suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan si kecil). Jangan kompres dengan air dingin, karena dapat menyebabkan “korsleting”/benturan kuat di otak antara suhu panas tubuh si kecil dengan kompres dingin tadi.</li>
<li>Agar si kecil tidak cedera, pindahkan benda-benda keras atau tajam yang berada dekat anak. . Tak perlu menahan mulut si kecil agar tetap terbuka dengan mengganjal/menggigitkan sesuatu di antara giginya. . Miringkan posisi tubuh si kecil agar penderita tidak menelan cairan muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernapasannya.</li>
<li>Jangan memberi minuman/makanan segera setelah berhenti kejang karena hanya akan berpeluang membuat anak tersedak.</li>
</ul>
<p><strong>KEJANG TANPA DEMAM</strong></p>
<p>Penyebabnya bermacam-macam. Yang penting, jangan sampai berulang dan berlangsung lama karena dapat merusak sel-sel otak. Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak.</p>
<p>“Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam.”</p>
<p>Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak.</p>
<p><strong>BISA DIALAMI SEMUA ANAK</strong></p>
<p>Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet). Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir.</p>
<p>Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil.</p>
<p>Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan).</p>
<p>“Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang.”</p>
<p>Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang. “Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang.” Uniknya, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. “Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna.”</p>
<p><strong>JANGAN SAMPAI TERULANG</strong></p>
<p>Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak.</p>
<p>Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak.</p>
<p>Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan.</p>
<p>”Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.</p>
<p><strong>DIMONITOR TIGA TAHUN</strong></p>
<p>Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalografi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi.</p>
<p>Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut.</p>
<p>Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik.Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental.</p>
<p>Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? “Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama.”Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang.</p>
<p>Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali), serta jika ada tumor di otak.</p>
<p><strong>RAGAM PENYEBAB</strong></p>
<p>“Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan,” penjabarannya satu per satu di bawah ini.</p>
<p>* Kelainan neurologis Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang.</p>
<p>Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).</p>
<p>* Bukan neurologis Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.</p>
<p>* Faktor keturunan Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.</p>
<p><strong>WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN</strong></p>
<p>Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar.</p>
<p>Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. “Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor.</p>
<p>Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh.” Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.</p>
<p><strong>MENOLONG ANAK KEJANG</strong></p>
<ol>
<li>Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan.</li>
<li> Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. “Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar.” Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.</li>
<li>Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. “Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.”</li>
<li>Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. “Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang.”</li>
</ol>
<p><strong>PENATALAKSANAAN</strong></p>
<p>Penatalaksaan kejang meliputi :</p>
<p>1. Penanganan saat kejang* Menghentikan kejang : Diazepam dosis awal 0,3 – 0,5 mg/kgBB/dosis IV (Suntikan Intra Vena) (perlahan-lahan) atau 0,4-0,6mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA. Bila kejang belum dapat teratasi dapat diulang dengan dosis yang sama 20 menit kemudian.</p>
<p>* Turunkan demam :</p>
<p>Anti Piretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) diberikan 3-4 kali sehari.</p>
<p>Kompres ; suhu &gt;39º C dengan air hangat, suhu &gt; 38º C dengan air biasa.</p>
<p>* Pengobatan penyebab : antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit dasarnya.</p>
<p>* Penanganan sportif lainnya meliputi : bebaskan jalan nafas, pemberian oksigen, memberikan keseimbangan air dan elektrolit, pertimbangkan keseimbangan tekanan darah.</p>
<p>2. Pencegahan Kejang* Pencegahan berkala (intermiten) untuk kejang demam sederhana dengan Diazepam 0,3 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) dan anti piretika pada saat anak menderita penyakit yang disertai demam.</p>
<p>* Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata dengan Asam vaproat 15-40 mg/KgBB/dosis PO (per oral / lewat mulut) dibagi dalam 2-3 dosis.</p>
<p><strong>ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN</strong></p>
<p>Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam.</p>
<p>Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal.</p>
<p>Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. “Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi.</p>
<p>Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus.”</p>
<p><a href="http://ibuprita.suatuhari.com/mengatasi-kejang-pada-bayi-dan-balita/" >sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/mengatasi-step-stuip-kejang-demam-pada-bayi-dan-balita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Baby Blue Sindrom</title>
		<link>http://doktersehat.com/informasi-baby-blue-sindrom/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/informasi-baby-blue-sindrom/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 09:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[baby blue sindrom]]></category>
		<category><![CDATA[baby blue syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[doktersehat]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[postpartum distress syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[setelah kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1152</guid>
		<description><![CDATA[Dokter Sehat - Baby Blue Sindrom / Baby Blues Syndrome, atau sering juga disebut Postpartum Distress Syndrome adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami antibiotics oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan bayinya. Aneh memang… perasaan senang menanti-nanti kelahiran sang buah hati, ternyata pada sebagian ibu bisa berubah menjadi depresi, setelah proses kelahiran bayi. Baby Blues [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >Dokter Sehat </a>- Baby Blue Sindrom / Baby Blues Syndrome, atau sering juga disebut Postpartum Distress Syndrome adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami <a href="http://antibiotics-shop.com/" >antibiotics</a>  oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan bayinya.</p>
<p>Aneh memang… perasaan senang menanti-nanti kelahiran sang buah hati, ternyata pada sebagian ibu bisa berubah menjadi depresi, setelah proses kelahiran bayi.</p>
<p>Baby Blues Syndrome masih tergolong ringan dan biasanya berlangsung hingga 2 minggu. Jika Anda mengalaminya lebih dari 2 minggu, bisa jadi itu adalah Postpartum Depression dan sebaiknya  Anda berkonsultasi dengan dokter Anda…<br />
<strong><br />
Beberapa Gejala Kasus Baby Blues Syndrome:</strong></p>
<p>1. Menangis tanpa sebab yang jelas<br />
2. Mudah kesal<br />
3. Lelah<br />
4. Cemas<br />
5. Tidak sabaran<br />
6. Enggan memperhatikan si bayi<br />
7. Tidak percaya diri<br />
8. Sulit beristirahat dengan tenang<br />
9. Mudah tersinggung</p>
<p>Jika setelah melahirkan Anda mengalami berbagai kondisi dan perasaan di atas, maka besar kemungkinan Anda sedang dilanda Baby Blues Syndrome…</p>
<p><strong>Apa Beda Baby Blues Syndrome dengan Postpartum Depression?</strong></p>
<p>Perbedaan keduanya terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala-gejala di atas. Pada Postpartum Depression, Anda akan merasakan berbagai gejala tersebut lebih sering, lebih hebat, serta lebih lama.</p>
<p><strong>Bagaimana cara membedakannya?</strong></p>
<p>Sebenarnya caranya mudah. Salah satunya adalah dengan memperhatikan pola tidur si ibu. Jika ketika ada orang lain menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka besar kemungkinan si ibu hanya menderita Baby Blues Syndrome (BBS). Namun jika si ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, maka mungkin tingkat depresinya sudah termasuk ke dalam Postpartum Depression (PPD).</p>
<p><strong>Beberapa Gejala Postpartum Depression:</strong></p>
<p>1. Cepat marah<br />
2. Bingung<br />
3. Mudah panik<br />
4. Merasa putus asa<br />
5. Perubahan pola makan dan tidur<br />
6. Ada perasaan takut bisa menyakiti bayinya<br />
7. Ada perasaan khawatir tidak bisa merawat bayinya dengan baik<br />
8. Timbul perasaan bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik</p>
<p>PPD bisa berlangsung hingga 1 tahun setelah kelahiran bayi…</p>
<p><em> Pada kasus PPD akut, si ibu bisa saja bunuh diri atau menyakiti bayinya sendiri…</em></p>
<p><strong>Apa Penyebab PPD?</strong></p>
<p>Walaupun hingga artikel ini ditulis tidak ada yang tahu pasti penyebab timbulnya PPD, namun berbagai faktor berikut sepertinya sangat berpengaruh:</p>
<p>1. Perubahan hormon si ibu<br />
2. Tekanan menjadi ibu baru<br />
3. Ada sejarah keluarga terkait dengan depresi<br />
4. Kurangnya bantuan ketika melahirkan<br />
5. Merasa terisolasi<br />
6. Kelelahan</p>
<p><strong><br />
Berikut beberapa tips yang  berkaitan dengan baby blue syndrome sebelum proses melahirkan :</strong></p>
<p>1. Meminta bantuan dan dukungan keluarga besar sebelum  melahirkan.</p>
<p>2. Sang ibu harus banyak membaca tentang pengetahuan  perawatan bayi.</p>
<p>3. Siapkan mental sang ibu dengan sharing,  memperbanyak pengetahuan medis dan memperbanyak ibadah.</p>
<p><strong>Pengobatan Baby Blue Syndrome</strong></p>
<p>Setelah proses melahirkan dan didapati sang ibu mengealami gejala  baby blue syndrome, maka beberapa tips berikut dapat dilakukan untuk  mengatasi masalah baby blue syndrome pada ibu muda.</p>
<p>1. Meminta  bantuan keluarga besar untuk mengurus sang bayi.</p>
<p>2. Banyak tidur  untuk sang ibu.</p>
<p>3. Sang ibu harus sharing kesulitan dan masalah  pada suami atau keluarga.</p>
<p>4. Memanfaatkan waktu untuk  relaksasi.</p>
<p>5. Jangan lupa makan dan perhatikan pola gizi yang  masuk.<br />
<em>referensi: bundagaul.com, tipsbayi.com &amp; berbagai sumber lain</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/informasi-baby-blue-sindrom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biasakan Anak Anda Sikat Gigi Sejak Bayi!</title>
		<link>http://doktersehat.com/anak-sikat-gigi-sejak-bayi/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/anak-sikat-gigi-sejak-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 17:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Gigi dan Mulut]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[gigi]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[sikat gigi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=830</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Bayi menyikat gigi? Tentu tidak bisa dibayangkan. Apalagi membayangkan bayi memegang sikat giginya sendiri, menaruh odol pada sikat giginya, lalu pergi ke depan cermin untuk menyikat giginya. Kerusakan gigi memang sering dialami oleh anak-anak. Terutama mulai di usia balita, gigi depan mulai menghitam karena lubang. Proses terjadinya kerusakan gigi itu sendiri berlangsung cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://doktersehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Bayi menyikat gigi? Tentu tidak bisa dibayangkan. Apalagi membayangkan bayi memegang sikat giginya sendiri, menaruh odol pada sikat giginya, lalu pergi ke depan cermin untuk menyikat giginya.</p>
<p>Kerusakan gigi memang sering dialami oleh anak-anak. Terutama mulai di usia balita, gigi depan  mulai menghitam karena lubang. Proses terjadinya kerusakan gigi itu sendiri berlangsung cukup lama, bahkan mungkin dimulai saat gigi si kecil akan tumbuh.</p>
<p>Bagaimana itu terjadi? Jawaban yang sangat sederhana. Hal ini ada hubungannya dengan rendahnya kepedulian orangtua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, dalam hal ini termasuk kesehatan rongga mulutnya. Padahal kesehatan rongga mulut yang tidak diperhatikan, akan sangat berdampak kepada perkembangan kemampuan anak secara keseluruhan. Oleh karena itu, kesehatan rongga mulut tidak boleh dianggap remeh.</p>
<p>Anak dengan gigi yang bermasalah, akan membuat dia sulit makan dan mengunyah. Akibatnya, si anak cenderung memilih makanan yang kurang bergizi. Secara tidak langsung, akan mempengaruhi kesehatan perkembangan dan pertumbuhan anak secara keseluruhan.</p>
<p>Pertama Kali Menyikat Gigi</p>
<p>Perlukah membersihkan gigi dan rongga mulut bayi? PERLU!!! Bahkan sebelum gigi susu tumbuh, sebaiknya dibiasakan untuk membersihkan rongga mulut si bayi. Dalam hal ini gusi dan pipi bagian dalam, serta punggung lidah.</p>
<p>Caranya sangat sederhana, yakni dengan menggosoknya secara lembut dengan kasa yang dibasahi dengan air hangat. Yang digosok adalah gusi, pipi bagian dalam, serta lidah bayi. Pembersihan rongga mulut bayi ini sebaiknya setelah minum air susu ibu. Sebab penumpukan sisa-sisa air susu yang tertinggal di mukosa rongga mulut akan menyebabkan infeksi jamur, khususnya pada lidah. Lidah seringkali menjadi bagian yang diabaikan pada saat membersihkan rongga mulut. Pada bayi, lidah perlu dibersihkan dari sisa-sisa susu yang mengumpul di lidah. Memang pada awalnya bayi mungkin mempunyai refleks rasa mual, namun apabila dibiasakan maka akan makin terbiasa.</p>
<p>Setelah gigi mulai tumbuh, gunakan sikat gigi kecil dengan bulu sikat yang lembut. Lebih disarankan lagi untuk menggunakan sikat gigi kecil yang terbuat dari karet yang lunak dan tidak mengandung racun (toksik). Mudah kok menemukan sikat gigi karet ini. Bisa dibeli di supermarket terdekat. Beberapa merek lokal sudah memproduksi sikat gigi jenis ini, jadi tidak perlu bingung dan bimbang.</p>
<p>Sebagai tahap awal, jangan menggunakan pasta gigi terlebih dahulu. Sebab apapun yang masuk ke mulut, anak cenderung untuk menelannya. Kecuali anak sudah dapat berkumur. Untuk berkumur pun, gunakanlah air bersih.</p>
<p>Sedikit repot tidak apa. Yang penting si anak dapat terbiasa membersihkan rongga mulutnya. Dan kebiasaan ini harus dimulai sejak dini.</p>
<p><strong>Tips Sukses Menyikat Gigi si Kecil</strong></p>
<p>Orangtua sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut:</p>
<p>Cara menyikat gigi / membersihkan gusi dan pipi</p>
<ul>
<li> Bayi baru lahir (belum punya gigi). Pada posisi duduk, ibu memangku anak dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya menyiapkan kasa yang diberi air hangat. Lakukan pengusapan pada rongga mulut bagian dalam, terutama pada gusi, lidah, dan lipatan pipi bagian dalam.</li>
<li>Bayi sudah mulai bergigi. Dengan posisi duduk, gunakan sikat gigi berbulu paling halus, tanpa pasta gigi.</li>
</ul>
<p>Waktu. Sebagaimana orang dewasa, menyikat gigi sebaiknya setelah makan dan sebelum tidur malam.</p>
<p>Gunakan kasa bersih / steril yang dibasahi air hangat atau sikat gigi dengan kepala kecil dengan bulu sikat halus.</p>
<p>Salam gigi sehat! <img src='http://doktersehat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt="icon smile Biasakan Anak Anda Sikat Gigi Sejak Bayi!" class='wp-smiley' title="Biasakan Anak Anda Sikat Gigi Sejak Bayi!" /> </p>
<p>sumber: kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/anak-sikat-gigi-sejak-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>12 Kelebihan Penting ASI</title>
		<link>http://doktersehat.com/12-kelebihan-penting-asi/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/12-kelebihan-penting-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 15:36:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pangan]]></category>
		<category><![CDATA[asi]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; ASI mempunyai manfaat lebih dibandingkan susu bayi pabrik. Berikut adalah sebagian dari kelebihan ASI dibandingkan susu pabrik: ASI mengandung zat gizi paling sempurna untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan kecerdasannya. ASI mengandung kalori 65 kcal/100ml yang memberikan cukup energi bagi pertumbuhan bayi. Sebanyak 90 persen kandungan lemak ASI dapat diserap oleh bayi. ASI dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://doktersehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; ASI mempunyai manfaat lebih dibandingkan susu bayi pabrik. Berikut adalah sebagian dari kelebihan ASI dibandingkan susu pabrik:</p>
<ol>
<li>ASI mengandung zat gizi paling sempurna untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan kecerdasannya.</li>
<li>ASI mengandung kalori 65 kcal/100ml yang memberikan cukup energi bagi pertumbuhan bayi.</li>
<li>Sebanyak 90 persen kandungan   lemak ASI dapat diserap oleh bayi.</li>
<li>ASI dapat menyebabkan pertumbuhan sel otak secara optimal, terutama karena kandungan protein khusus, yaitu Taurin, selain mengandung laktosa dan asam lemak ikatan panjang lebih banyak dari susu sapi/kaleng.</li>
<li>Protein ASI adalah spesifik spesies sehingga jarang menyebabkan alergi untuk manusia.</li>
<li>ASI memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi. Juga akan merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh bayi.</li>
<li>Pemberian ASI dapat mempererat ikatan batin antara ibu dan bayi. Ini akan menjadi dasar si kecil percaya pada orang lain, lalu diri sendiri, dan akhirnya bayi berpotensi untuk mengasihi orang lain.</li>
<li>ASI selalu tersedia, bersih, dan segar.</li>
<li>ASI jarang menyebabkan diare dan sembelit yang berbahaya.</li>
<li>ASI lebih ekonomis, hemat, sekaligus praktis.</li>
<li>ASI dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.</li>
<li>ASI dapat membantu program Keluarga Berencana.</li>
</ol>
<p>Apakah anda masih mengatakan susu pabrik lebih bagus?</p>
<p>sumber: tabloid Nakita</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/12-kelebihan-penting-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Mitos Bayi yang Salah</title>
		<link>http://doktersehat.com/mitos-bayi-salah/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/mitos-bayi-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 10:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Datangnya si bayi ke dalam rumah selain mendatangkan rasa bahagia, juga mengundang rasa bingung untuk para orangtua baru. Maksud hati menambah informasi dengan mendengarkan banyak orang, membaca banyak buku, juga menonton banyak acara televisi seputar bayi. Tetapi, justru makin banyak nasihat yang membingungkan. Supaya tak terlalu bingung, simak 4 mitos seputar bayi berikut. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://doktersehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Datangnya si bayi ke dalam rumah selain mendatangkan rasa bahagia, juga mengundang rasa bingung untuk para orangtua baru. Maksud hati menambah informasi dengan mendengarkan banyak orang, membaca banyak buku, juga menonton banyak acara televisi seputar bayi. Tetapi, justru makin banyak nasihat yang membingungkan. Supaya tak terlalu bingung, simak 4 mitos seputar bayi berikut.</p>
<p><strong>1. Bayi perlu BAB sekali sehari</strong><br />
Para orangtua muda berpikir bahwa bayinya sedang konstipasi, padahal tidak, ujar Andrew Adesman, MD, kepala perkembangan dan perilaku anak di Schneider Children&#8217;s Hospital, di New York. Saluran pencernaan bayi memang mengalami pergerakan setiap harinya, namun kadang bayi baru bisa BAB setiap 3-4 hari sekali, dan hal ini bisa berlangsung sekitar 2-3 bulan. Jika pergerakan dalam saluran pencernaan sudah sangat keras dan tidak teratur, atau Anda melihat ada darah di popoknya, segera hubungi dokter si kecil. </p>
<p><strong>2. Bayi harus dimandikan setiap hari</strong><br />
Seperti Anda ketahui, mandi bisa mengurangi kelembapan pada kulit, baik untuk orang dewasa maupun untuk bayi. Karena kulit bayi sangat rentan dan tipis, mandi terlalu sering bisa menyebabkan kulit kering dan iritasi. Plus, duduk di dalam air sabun bisa menyakiti saluran uretra bayi perempuan, dan bisa berujung pada infeksi saluran urin. Asalkan si bayi tidak terlalu kotor atau lengket karena terlalu banyak diberi bedak atau lotion, Anda cukup mengelapnya saja, tak perlu memandikannya terlalu sering, terang Adesman.</p>
<p><strong>3. Bayi yang berkembang lebih cepat daripada yang normal, lebih berbakat</strong><br />
Seringkali orangtua menaruh harap sangat tinggi agar anaknya bisa berjalan atau bicara di usia yang sangat muda, kalau bisa lebih cepat dari rata-rata bayi lain. Dengan harapan, jika ia bisa melakukan gerak motorik lebih cepat, berarti ia akan lebih pintar ketimbang anak lainnya. Padahal, di beberapa kasus, “pencapaian” lebih cepat semacam ini justru merupakan potensi masalah. Misalnya, ketika si anak menunjukkan kecenderungan penggunaan tangan kanan atau kiri sebelum usia 18 bulan, maka berarti ada sesuatu yang mesti diperiksakan. Pada usia tersebut, sebenarnya anak sedang belajar mengkoordinasikan otak kanan maupun kiri, yang  masing-masing mengendalikan tangan kiri dan tangan kanannya. </p>
<p><strong>4. Menyentuh bagian terlembut di kepala akan melukai otak bayi</strong><br />
Bagian fontanel, atau bagian lembut di bagian depan kepala bayi adalah bagian yang terbuka dari tengkorak kepala yang belum tertutup rapat, tapi terselubung oleh kulit. Bagian tersebut terlihat sangat rentan, karenanya orangtua sangat takut dengan bagian tersebut. Padahal sebenarnya bagian tersebut cukup aman. Biasanya, bagian tersebut akan benar-benar tertutup rapat oleh tengkorak di usia 1 tahun, sementara bagian lembut di bagian belakang kepala bagi akan tertutup di usia bayi menginjak 2-3 bulan.</p>
<p>Sumber: Shine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/mitos-bayi-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertolongan Pertama Bila si Kecil Kelilipan</title>
		<link>http://doktersehat.com/kelilipan-bay/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/kelilipan-bay/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 18:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[kelilipan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Bila mata si kecil tiba-tiba kelilipan, secara spontan biasa- nya kita ngotot memintanya membelalakkan matanya agar kita bisa meniup matanya. Tentu saja dengan harapan benda asing yang masuk ke matanya segera keluar akibat tiupan kita. Padahal, cara ini tak efektif karena entah debu, pasir, atau benda asing lain yang masuk ke matanya mungkin saja masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila mata si kecil tiba-tiba kelilipan, secara spontan biasa- nya kita ngotot memintanya membelalakkan matanya agar kita bisa meniup matanya. Tentu saja dengan harapan benda asing yang masuk ke matanya segera keluar akibat tiupan kita. Padahal, cara ini tak efektif karena entah debu, pasir, atau benda asing lain yang masuk ke matanya mungkin saja masih tetap &#8220;bersarang&#8221; di tempat semula.</p>
<p>Sebenarnya secara alamiah bila benda asing tersebut tergolong kecil sekali/sangat halus, secara otomatis mata akan mengeluarkannya bersamaan dengan air mata yang keluar lebih banyak dari biasanya. Atau cukup dengan mengedipkan-edipkan mata secara berulang, kotoran superhalus tadi akan segera &#8220;hengkang&#8221; dari mata. Namun, cara-cara ini tak mempan untuk mengusir benda asing yang agak besar. Padahal kalau didiamkan saja, pastilah mata terasa gatal dan perih yang membuat si kecil semakin rewel.</p>
<p><strong>Cara mengatasi:</strong></p>
<ul>
<li>Yang paling penting, jangan mengucek-ucek mata, meski sebelumnya sudah cuci tangan. Apalagi bila jari tangannya kotor karena justru akan menyebabkan iritasi di selaput atau kelopak mata. Ujung-ujungnya, mata malah bengkak dan jadi merah.</li>
<li>Bersihkan benda asing yang ada kelopak mata dengan menotolkan kapas steril yang sudah dibasahi air matang. Kapas jangan ditekan atau diseka karena akibatnya benda asing itu dapat menggores permukaan bola mata.</li>
<li>Dapat juga dengan cara &#8220;membenamkan&#8221; mata ke dalam gelas yang berisi air matang lalu kedip-kedipkan mata selama berada dalam air.</li>
<li>Obat tetes mata yang dijual bebas boleh digunakan. Tapi jangan melebihi tiga kali pemakaian karena dikhawatirkan menimbulkan peradangan/iritasi berkelanjutan. Obat tetes mata umumnya berfungsi untuk mengurangi iritasi. Perlu diketahui, obat tetes mata mengandung bahan kimia yang bersifat asam sehingga bisa menimbulkan rasa pedih.</li>
<li>Jika tak  menunjukkan tanda-tanda membaik, sebaiknya lekas berkonsultasi dengan dokter mata agar bisa segera diatasi.</li>
</ul>
<p>sumber : (Hilman Hilmansyah/Tabloid Nakita)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/kelilipan-bay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

