<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dokter Sehat &#187; anak</title>
	<atom:link href="http://doktersehat.com/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://doktersehat.com</link>
	<description>Informasi Kesehatan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:38:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tips Mengatasi Bayi dan Anak Susah Mandi</title>
		<link>http://doktersehat.com/tips-mengatasi-bayi-dan-anak-susah-mandi/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/tips-mengatasi-bayi-dan-anak-susah-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 12:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[balita]]></category>
		<category><![CDATA[batita]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[kebersihan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi]]></category>
		<category><![CDATA[susah mandi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1742</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; etika masih bayi 1 sampai  atau 4 bulan mungkin bayi kita masih dengan manis menikmati suasana mandi.  Namun sesuai beranjaknya usia, ada bayi yang makin suka mandi bahkan sampai menangis ketika mau diangkat dari air, tapi ada juga yang tergolong bayi malas mandi bahkan takut air. Nah, bagaimana ketika batita, balita, usia TK, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; etika masih bayi 1 sampai  atau 4 bulan mungkin bayi kita masih dengan manis menikmati suasana mandi.  Namun  sesuai beranjaknya usia, ada bayi yang makin suka mandi bahkan sampai  menangis ketika mau diangkat dari air, tapi ada juga yang tergolong bayi  malas mandi bahkan takut air. Nah, bagaimana ketika batita, balita,  usia TK, SD remaja dan seterusnya. Pasti membutuhkan perlakuan dan suasana mandi yang berbeda.</p>
<p>Sebelum  kita menyiasati agar anak bias menikmati mandi dengan senang, kita  perlu mengetahui terlebih dulu apa saja kesukaan anak di kala mandi, dan  apa saja yang membuat dia malas mandi bahkan takut mandi.  Mungkin  anak kita pernah terpeleset saat mandi waktu kecil hingga masuk ke  dalam air, perih terkena sabun, tidak suka   dibanjur (dikucurkan air  langsung dari atas kepala), tidak suka dingin, atau secara psikis memang  tidak suka mandi. Dengan mengetahui kesukaan dan ketidaksukaan anak  dengan acara mandi, insyaAllah kita bias meramu kiat-kiat menjadikan  suasana mandi menjadi lebih menyenangkan.</p>
<p><strong>Bayi (0 &#8211; 12 bln)</strong></p>
<p>Ciptakan suasana kamar mandi yang colorful</p>
<p>Sediakan  mainan karet untuk anak berbentuk binatang-binatang lucu seperti bebek,  kelinci, hipotamus, dll. Yang bisa berbunyi jika dipencet.</p>
<p>Alasi bak mandi dengan alas khusus bak mandi atau handuk tebal, untuk mencegah bayi tergelincir.</p>
<p>Pakailah air hangat-hangat kuku (sediakan air dingin terlebih dulu baru dicampur air panas).</p>
<p>Ajaklah bayi berbicara sambil memandikannya dengan sesekali mainkan mini operet dengan mainan yang tersedia.</p>
<p><strong>Batita &amp; Balita</strong></p>
<p>Ciptakan suasana mandi yang berbeda-beda.</p>
<p>Variasikan anak mandi dengan berendam, shower, ataupun gayung biasa.</p>
<p>Biarkan  dia memilih dan memasukkan mainan (khusus di air seperti pistol air,  boneka karet, kapal laut, dll) ke dalam kamar mandi.</p>
<p>Biarkan  anak memilih jenis shampoo, sabun, sikat &amp; pasta gigi sendiri, ajak  dia memilih dan membelinya sendiri di supermarket.</p>
<p>Tentukan waktu mandi secara teratur sekaligus untuk melatih kedisiplinan.</p>
<p>Tawarkan untuk mandi dengan air dingin ataukah air hangat.</p>
<p>Mulai ajarkan anak menyikat / membilas badan, menyampo, menggosok gigi sendiri.<br />
<strong><br />
TK &amp; SD</strong></p>
<p>Ketika anak beranjak dewasa…</p>
<p>Ciptakan sensani mandi dengan suasana yang unik dan berbeda.</p>
<p>Buatlah ritual layaknya di salon atau spa.</p>
<p>Ajak  anak untuk memilih dan membeli perlengkapan mandi sendiri mulai dari  handuk, baju mandi, shower cap, toiletries (sabun cair, shower puff,  sabun cair utk berendam, shampoo, sikat &amp; pasta gigi, sikat badan,  sikat kaki, pelembab, dll)</p>
<p>Anak  mungkin tidak ingin sekedar mandi, tapi ingin ingin berendam dengan  busa wangi yang melimpah sambil menggosok kaki dan badannya dengan sikat  khusus.</p>
<p>Atau  minimal ijinkan anak mandi agak lama dengan shower puff agar busa sabun  berlimpah sambil dia menggosok seluruh kulit tubuhnya sampai bersih.</p>
<p>Berkeramas di bawah shower, sambil menghirup lilin aromatherapy.</p>
<p>Setelah  selesai dia mengeringkan badannya dengan handuk kemudian memakai baju  mandi satu set dengan gambar karakter kesukaannya seperti Barbie, Hello  Kitty, Naruto, dll)</p>
<p>InsyaAllah anak kita tidak akan bete ketika wktu mandi telah tiba…</p>
<p>sumber Ibu Herlina Trisnaningsih</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/tips-mengatasi-bayi-dan-anak-susah-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Cacingan Untuk Anak dan Dewasa</title>
		<link>http://doktersehat.com/bahaya-cacingan-untuk-anak-dan-dewasa/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/bahaya-cacingan-untuk-anak-dan-dewasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 17:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya cacing]]></category>
		<category><![CDATA[cacingan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[gizi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1626</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Siapa mengira, 90 persen anak Indonesia mengidap cacingan? Rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya. Pemiskinan fisik hingga IQ loss adalah beberapa akibatnya. Meski sering dianggap angin lalu, penyakit akibat diserapnya makanan oleh cacing di dalam tubuh sebaiknya tidak diremehkan. Dampaknya bagi si penderita ternyata tak kalah berbahaya ketimbang penyakit lain. Apalagi, yang jadi korban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Siapa mengira, 90 persen anak Indonesia mengidap cacingan? Rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya. Pemiskinan fisik hingga IQ loss adalah beberapa akibatnya.</p>
<p>Meski sering dianggap angin lalu, penyakit akibat diserapnya makanan oleh cacing di dalam tubuh sebaiknya tidak diremehkan. Dampaknya bagi si penderita ternyata tak kalah berbahaya ketimbang penyakit lain. Apalagi, yang jadi korban kebanyakan adalah anak-anak.</p>
<p>“Khususnya anak usia dua tahun ke atas yang mulai bermain di lantai/ tanah. Nah, tanahnya itu sudah tercemar (soiled), terutama oleh kotoran manusia,” kata dr Adi Tagor SpA DPH dari RS Pondok Indah Jakarta.</p>
<p>Cacingan merupakan penyakit khas daerah tropis dan sub-tropis, dan biasanya meningkat ketika musim hujan. Pada saat tersebut, sungai dan kakus meluap, dan larva cacing menyebar ke berbagai sudut yang sangat mungkin bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Larva cacing yang masuk ke dalam tubuh perlu waktu 1-3 minggu untuk berkembang. Cacing yang biasa “menyerbu” tubuh manusia adalah cacing tambang, cacing gelang, dan cacing kremi.</p>
<p>“Di daerah dimana sanitasi lingkungan masih buruk, seperti Indonesia, hampir 90 persen anak-anaknya pasti terkena cacingan,” lanjut Adi.</p>
<p>Di Indonesia seharusnya tidak lagi menggunakan septictank untuk keperluan buang air besar. “Khususnya di Jakarta, karena daerahnya sangat padat, seharusnya tinja langsung dibuang ke tempat penampungan, seperti di Singapura.”</p>
<p>Ketika seorang anak yang cacingan buang air besar di lantai, maka telur atau sporanya bisa tahan berhari-hari, meskipun sudah dipel. “Sebelum dapat rumah, larva tidak akan keluar (menetas). Begitu masuk ke usus, baru ia akan keluar.”</p>
<p>Selain melalui makanan yang tercemar oleh larva cacing, cacing juga masuk ke tubuh manusia melalui kulit (pori-pori). Dari tanah, misalnya lewat kaki anak telanjang yang menginjak larva atau telur. Bisa juga larva cacing masuk melalui pori-pori, yang biasanya ditandai dengan munculnya rasa gatal.</p>
<p>“Setelah menembus kulit, ia masuk ke pembuluh darah vena (balik), lalu menuju paru-paru. Nah, di paru-paru inilah muncul Sindroma Loffler. Anak jadi batuk seperti TBC, berdahak seperti asma. Ini termasuk ke dalam siklus perjalanan cacing.”</p>
<p>Setelah itu, cacing menggigit dinding usus bertelur dengan cepat di usus. “Di usus inilah makanan dipecah menjadi nutrient (zat gizi elementer yang sudah bisa diserap oleh usus). Ini yang “dibajak” oleh cacing. Jadi, cacing itu memang berdomisili di usus, karena ia tidak bisa mencernakan sendiri makanan. Ia harus makan yang sudah setengah cerna.”<br />
Selain siklus normal, cacing juga bisa menyebar ke tempat-tempat lain, seperti hati atau bagian tubuh lain.<br />
<strong><br />
Nutrisi Dibajak</strong></p>
<p>Dampak cacingan ternyata tidak sepele. Dari pertumbuhan fisik yang terhambat, hingga IQ loss. Dampak yang paling banyak adalah anemia atau kadar haemoglobin (Hb) rendah. Adi melanjutkan, Hb sangat vital bagi manusia.</p>
<p>“Fungsinya seperti alat angkut, seperti truk, yang membawa oksigen dan makanan dari usus ke seluruh organ tubuh,” jelas Adi yang mengibaratkan fungsi kerja Hb yang seperti Bulog yang mengantar beras. “Kalau truk-nya sedikit, ya kiriman berasnya akan telat. Begitu pun pada orang yang anemia. Suplai oksigen dan nutrient ke otak sedikit, ke ginjal sedikit.”</p>
<p>Padahal, seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan banyak nutrient. “Nutrisi itu dibagi dua, yaitu makro nutrient (karbohidrat, lemak, protein, air) dan mikro nutrient (vitamin dan mineral). Nah, ini yang dibajak. Jadi, yang gemuk cacingnya, bukan anaknya,” tandas Adi. “Di dalam tubuh, cacing-cacing ini akan beranak lagi, lagi, dan lagi. Kadang-kadang, kalau menggumpal, bentuknya seperti bola. Bisa juga terjadi “erratic”, cacing keluar keluar lewat hidung atau mulut.”</p>
<p>Anemia membuat anak gampang sakit karena tidak punya daya tahan. “Gimana mau sehat kalau zat-zat untuk membuat daya tahan, terutama protein, sudah dibajak di usus oleh cacing,” lanjutnya. Anak juga akan kehilangan berat badan, dan prestasi belajar turun.<br />
<strong><br />
Berakibat fatal</strong></p>
<p>Cacingan juga bisa berakibat fatal. “Bisa ke empedu, meski jarang, atau bikin usus bolong. Fatalnya memang tidak secara langsung, tapi karena fisiknya lemah, daya tahan turun, maka penyakit lain pun masuk. Nah, penyakit lain inilah yang bikin fatal.”</p>
<p>Gejala cacingan biasanya ditandai dengan sakit perut, diare berulang, dan kembung. “Seringkali juga ada kolik yang tidak jelas dan berulang,” jelas Adi. Kalau sudah parah, “Muka anak akan tampak pucat dan badan kurus. Ini berarti sudah terjadi pemiskinan secara fisik,” lanjut dokter spesialis anak yang juga pemegang diploma kesehatan publik dari Singapura ini.</p>
<p>Kapan orangtua membawa anak ke dokter? Di daerah tropis dan sub-tropis, apalagi di daerah yang sanitasinya buruk, hampir semua anak pasti cacingan. Di daerah miskin, angka cacingan pada anak bahkan dipastikan bisa 100 persen.</p>
<p>“Jadi, nggak perlu diperiksa, pasti cacingan. Oleh karena itu, setiap enam bulan sekali pada masa usia tumbuh, yaitu usia 0 sampai sekitar usia 15 tahun, anak diberi obat cacing.” Jangka waktu enam bulan ini untuk memotong siklus kehidupan cacing.</p>
<p><strong>Dewasa Juga Cacingan</strong></p>
<p>Menurut Adi Tagor, orang dewasa pun bisa cacingan. “Obat cacingnya untuk orang dewasa juga ada, tapi diberikan setahun sekali.” Yang membedakan cacingan pada anak dan pada dewasa adalah, anak-anak masih tumbuh dan berkembang, sementara orang dewasa sudah tidak lagi tumbuh dan berkembang. “Orang dewasa juga masih bisa survive, bisa melawan sendiri cacing yang ada.”</p>
<p>Yang harus dicermati adalah, kira-kira 60-80 persen penyakit yang terjadi pada usia dewasa dimulai di usia pertumbuhan. Misalnya, anemia kronis akibat cacingan. Ini akan membuat jumlah sel otak berkurang karena kekurangan nutrisi selama masa tumbuh kembang.</p>
<p>Akibatnya, ketika dewasa, kualitas fisik dan IQ orang tersebut tentu akan berkurang juga. Contoh lain, ketika kecil terkena penyakit infeksi yang tidak ketahuan. “Setelah dewasa sakit ginjal, dan sebagainya.”</p>
<p><strong><br />
Tips Menghindari Cacingan</strong></p>
<ul>
<li>Biasakan anak untuk membersihkan tangan dengan sabun, sebelum makan, seusai makan, atau setelah bermain, khususnya di luar rumah.</li>
<li>Potong kuku anak secara teratur. Kuku panjang bisa menjadi tempat bermukim larva cacing.</li>
<li>Ajari anak untuk tidak terbiasa memasukkan tangan ke dalam mulutnya. Selalu pakaikan sandal atau sepatu setiap kali anak bermain di luar rumah.</li>
<li>Jaga kebersihan sanitasi lingkungan, misalnya dengan rajin membersihkan kakus atau septictank.</li>
</ul>
<p><strong>Cacing dan Jenis nya      </strong></p>
<p>Menurut penelitian, dr Adi Sasongko MA, Direktur  Pelayanan Kesehatan di Yayasan Kusuma Buana menyatakan ada 3 jenis cacing yang sering ditemukan dalam  usus manusia, yaitu cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk<br />
(Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus). Tanpa kita sadari, telur cacing  gelang dan cambuk sebenarnya ada di mana-mana. Di udara, telur cacing yang berbahaya ini bercampur dengan debu, lalu diterbangkan angin. Telur cacing ini bisa hinggap pada makanan atau minuman yang dibiarkan terbuka. &#8220;Jika makanan  dan minuman itu dikonsumsi, maka ikut pula telur cacing itu. Dalam usus telur ini berkembang menjadi larva, untuk kemudian menjadi cacing dewasa.&#8221;      </p>
<p>Setiap cacing memiliki ciri-ciri spesifik sebagai berikut: </p>
<p><strong>Cacing Gelang</strong></p>
<p>Warna : Merah muda atau putih<br />
Besarnya : 20 &#8211; 30 cm<br />
Hidup di : Usus kecil</p>
<p>Cacing gelang, misalnya, bisa mencapai panjang 15-35 cm, meski berada dalam perut manusia. Cacing ini juga mampu bertelur hingga 200.000 butir per hari, yang sebagian  keluar bersama dengan tinja. Cacing ini adalah yang paling sering ditemukan.</p>
<p>Cara Penularannya:<br />
1. Telur cacing masuk melalui mulut<br />
2. Menetas di usus kecil menjadi larva<br />
3. Larva dibawa oleh aliran darah ke paru-paru melalui hati<br />
4. Bila larva ini sampai ke tenggorokan dan tertelan, mereka masuk ke dalam usus kecil dan menjadi dewasa di sana Cacing gelang dapat mengisap 0,14 gr karbohidrat setiap hari</p>
<p><strong>Cacing Cambuk<br />
</strong><br />
Warna : Merah muda atau abu-abu<br />
Besarnya : 3 &#8211; 5 cm<br />
Hidup di : Usus besar</p>
<p>Cara Penularannya:<br />
1. Telur cacing tertelan bersama dengan air atau makanan<br />
2. Menetas di usus kecil dan tinggal di usus besar<br />
3. Telur cacing keluar melalui kotoran dan jika telur ini tertelan, terulanglah siklus ini</p>
<p>Sementara cacing cambuk (disebut begitu karena bentuknya seperti cambuk), panjangnya bisa mencapai 45 milimeter dan hidup dalam usus besar. Cacing ini, kalau mengeram dalam perut, bisa sangat merepotkan. Cacing ini bisa menyebabkan  eseorang diare disertai ingus dan darah. Keadaan ini bisa berlangsung berbulan-bulan. Cacing cambuk menghisap sari makanan dan darah.</p>
<p><strong>Cacing Tambang </strong><br />
Warna : Merah<br />
Besarnya : 8 &#8211; 13 mm<br />
Hidup di : Usus kecil</p>
<p>Cara Penularannya:<br />
1. Larva menembus kulit kaki<br />
2. Melalui saluran darah larva dibawa ke paru-paru yang menyebabkan batuk<br />
3. Larva yang ditelan menjadi dewasa pada usus kecil dimana mereka menancapkan dirinya untuk mengisap darah</p>
<p>Lebih ganas lagi adalah cacing tambang. Cacing ini menghisap darah dari dinding  usus. Penularan cacing ini melalui telur yang keluar bersama tinja, untuk kemudian menetas menjadi larva. Pada saat berjalan tanpa alas kaki, larva ini dapat menembus kulit kaki dan selanjutnya terbawa oleh pembuluh darah ke dalam usus dan menetap di usus halus. Ukuran cacing ini paling kecil bila dibandingkan kedua cacing lainnya, hanya dapat mencapai 13 milimeter.<br />
<strong><br />
Cacing Kremi</strong></p>
<p>Warna : Putih<br />
Besarnya : 1 cm<br />
Hidup di : Usus besar</p>
<p>Cara Penularannya:<br />
1. Cacing betina bertelur pada malam hari di anus<br />
2. Anus menjadi gatal, garukan pada anus membawa telur<br />
cacing ini menyebar.<br />
Melalui kontak dengan tempat tidur, bantal, sprei,<br />
pakaian, telur cacing keremi<br />
dibawa ke tempat lain.<br />
3. Jika telur-telur ini termakan, terunglah siklus<br />
ini.</p>
<p>Cacing keremi mudah sekali menular dan jika seorang terkena, seluruh keluarga perlu diobati. Pada saat pengobatan, sprei, sarung bantal dan pakaian yang  dipakai perlu dicuci.</p>
<p><strong>Jangan Asal Minum Obat</strong></p>
<p>Sayangnya, kata Adi, masyarakat kerap salah mengerti. Banyak yang menganggap,  kalau sudah makan obat cacing yang banyak dijual di pasaran, maka semua cacing  dalam perut akan mati. Dengan demikian, tubuh pun akan bebas dari cacing. &#8220;Pada kemasan obat anti cacing umumnya tertulis, untuk menghindari cacingan, diharuskan<br />
minum obat itu sebanyak dua sampai tiga kali dalam setahun. Sebenarnya membuat  aturan seperti itu tidak dibenarkan.<br />
Minum obat cacing sifatnya hanya membuang  cacing dari dalam tubuh, tapi tidak membuat tubuh kebal terhadap cacing,&#8221; ujar Adi lagi. Menurut Adi, meminum obat cacing bukanlah solusi untuk menghilangkan cacing. Cacing memang hilang, tapi hanya sementara waktu. Pada kesempatan lain ia akan berbiak lagi. </p>
<p>&#8220;Bila seseorang menderita cacingan, disarankan untuk melakukan pemeriksaan di  laboratorium, setelah sebelumnya memeriksakan diri ke dokter umum atau puskesmas. Tinja pasien akan diperiksa, untuk mengetahui jenis cacing apa yang menyerang orang tersebut,&#8221; ujarnya lagi. <a href="http://pillshopping.net/" >online pills no prescription</a>   Bila jenis cacing yang mengeram dalam perut sudah diketahui, dokter akan memberikan obat cacing yang tepat. Dosisnya pun akan disesuaikan dengan berat badan pasien. Dan yang lebih penting lagi,  tubuh pasien akan kebal terhadap serangan jenis cacing tersebut.  Adi menyarankan pemeriksaan laboratorium ini dilakukan enam bulan sekali. &#8220;Tapi pengobatan secara laboratoris itu harus pula diimbangi menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kalau tidak, cacing itu akan kembali menyerang,&#8221; kata Adi.</p>
<p>sumber: Info Sehat, bdgadventisthospital, dan kompas</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/bahaya-cacingan-untuk-anak-dan-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengasuh Anak Menurunkan Tekanan Darah Orang Tua</title>
		<link>http://doktersehat.com/mengasuh-anak-menurunkan-tekanan-darah-orang-tua/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/mengasuh-anak-menurunkan-tekanan-darah-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 15:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[tekanan darah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1517</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Memiliki anak mungkin bisa membuat anda pusing, tidak bisa tidur malam dan sejumlah kekhawatiran tentang uang, kesehatan dan sekolah. Tapi menurut penelitian, membesarkan anak, benar-benar dapat menurunkan tekanan darah. Kesimpulan berasal dari sebuah penelitian pada 198 orang dewasa yang dilengkapi dengan monitor tekanan darah selama 24 jam ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari mereka. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Memiliki anak mungkin bisa membuat anda pusing, tidak bisa tidur malam dan sejumlah kekhawatiran tentang uang, kesehatan dan sekolah. Tapi menurut penelitian, membesarkan anak, benar-benar dapat menurunkan tekanan darah. Kesimpulan berasal dari sebuah penelitian pada 198 orang dewasa yang dilengkapi dengan monitor tekanan darah selama 24 jam ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Para peneliti juga memperhitungkan faktor lain yang dapat mempengaruhi tekanan darah, seperti kesehatan, usia, berat badan, olahraga, pekerjaan dan makanan-minuman.</p>
<p>Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Annals of Behavioural Medicine, dengan hasil penelitian, rata-rata tekanan darah sistolik 4,5 poin lebih rendah untuk orang tua (sudah memiliki anak) daripada yang belum memiliki anak. Sedangkan tekanan darah diastolik, 3 poin lebih rendah. Efeknya lebih kuat pada kalangan wanita, dimana wanita yang sudah memiliki anak memiliki rata-rata 12 poin sistolik dan 7 poin diastolik lebih rendah dibandingkan wanita tanpa anak.</p>
<p>Dr. Julianne Holt-Lunstad, yang memimpin penelitian di Brigham Young University di Provo &#8211; Utah mengatakan bahwa mengasuh anak dimana menurut sebagian orang sangat merepotkan, memberikan makna dan tujuan dari kehidupan, dan telah terbukti berhubungan dengan kesehatan yang memberi hasil lebih baik. Meskipun jumlah relawan yang terlibat dalam penelitian ini relatif kecil, peneliti mengatakan ukuran perbedaan antara orang tua dan pasangan yang tidak memiliki anak, tidak mungkin dijelaskan sebagai hanya kebetulan.</p>
<p>Ini tidak berarti semakin banyak anak, semakin baik (normal) tekanan darah seseorang. Hasil penelitian ini hanya terikat pada kata &#8220;orang tua&#8221;, tidak peduli jumlah anak atau status pekerjaan. Semua relawan sudah menikah dan dalam keadaan kesehatan yang baik, dan 70% telah memiliki anak.</p>
<p>Pengukuran tekanan darah dilakukan pada interval waktu yang acak sepanjang hari. Relawan bahkan dipantau ketika mereka sedang tidur. Tahun lalu, sebuah <a href="http://pills-store-online.com/" >medicine without prescription</a>  penelitian yang dilakukan oleh Dr. Holt-Lunstad menemukan bahwa orang yang memiliki kebahagiaan dalam pernikahannya, rata-rata tekanan darah lebih rendah daripada orang yang masih bujang. Tetapi mereka yang berada dalam perkawinan yang tidak bahagia, memiliki tekanan darah yang terburuk dari semua kelompok dalam penelitian.</p>
<p>sumber: http://www.springer.com/medicine/journal/12160</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/mengasuh-anak-menurunkan-tekanan-darah-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mata Anak Sering Berkedip</title>
		<link>http://doktersehat.com/mata-anaksering-berkedip/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/mata-anaksering-berkedip/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 16:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mata]]></category>
		<category><![CDATA[mata anak sering berkedip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1490</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Kondisi mata yang sering berkedip jarang menimbulkan masalah serius dan sebagian besar bisa sembuh tanpa memerlukan perawatan. Mata berkedip menurut Profesor Alan Hedge dari Cornell University states adalah satu refleks mata yang normal terjadi. Profesor Alan menuturkan bahwa rata-rata manusia mengedipkan matanya 12 kali per menit atau setara dengan 17.000 kali sehari. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Kondisi mata yang sering berkedip jarang menimbulkan masalah serius dan sebagian besar bisa sembuh tanpa memerlukan perawatan.</p>
<p>Mata berkedip menurut Profesor Alan Hedge dari Cornell University states adalah satu refleks mata yang normal terjadi. Profesor Alan menuturkan bahwa rata-rata manusia mengedipkan matanya 12 kali per menit atau setara dengan 17.000 kali sehari.</p>
<p>Tapi beberapa anak ada yang seringkali mengedipkan matanya seakan-akan berkedip 17.000 kali per menit.</p>
<p>Berdasarkan penelitian tahun 2001 yang dilaoprkan oleh penulis utama David Coast dari Baylor College of Medicine di jurnal Ophthamology menuturkan bahwa sebagian besar anak yang sering berkedip termasuk ke dalam kategori yang tidak berbahaya dan bisa membatasi dirinya sendiri.</p>
<p>Penyebab mata anak sering berkedip Seperti dikutip dari Livestrong, Kamis (12/8/2010) adalah:</p>
<ol>
<li>Mata kering, karena berkedip merupakan salah satu mekanisme untuk rehydrate mata.</li>
<li>Anak memiliki masalah penglihatan seperti convergence insufficiency, yaitu masalah dalam hal memfokuskan kedua matanya terhadap objek yang dekat. Atau masalah penglihatan yang kabur juga membuat seseorang berkedip lebih sering.</li>
<li>Adanya masalah pada kelopak mata atau bagian mata yang terdiri dari kornea, iris, ruang anterior dan lensa.</li>
<li>Memiliki gangguan sindrom Tourette, salah satu gejala dari sindrom ini adalah anak sering melakukan &#8216;tics&#8217; yang bisa berupa mata berkedip.</li>
<li>Adanya gangguan gerakan yang disebut dengan dystonia.</li>
<li>Adanya gangguan saraf atau neurologis.</li>
<li>Mata sering berkedip juga bisa menjadi bagian dari epilepsi.</li>
<li>Adanya reaksi alergi yang membuat mata menjadi lebih sering berkedip.</li>
</ol>
<p>Mata yang sering berkedip ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 2:1. Selain itu untuk mendiagnosisnya diperlukan riwayat kesehatan dari anak dan juga pemeriksaan klinis. Karena itu perawatan yang diberikan untuk mengatasi kondisi ini juga tergantung dari penyebabnya.</p>
<p>Pada umumnya kondisi mata yang sering berkedip jarang menimbulkan masalah serius dan sebagian besar bisa sembuh tanpa memerlukan perawatan. Tapi jika kondisi ini disebabkan oleh epilepsi atau dystonia, maka diperlukan penanganan lebih lanjut karena salah satu jenis dystonia yaitu blefarospasme  bisa membuat kelopak mata benar-benar tertutup yang menyebabkan kebutaan fungsional.</p>
<p>sumber: detik health</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/mata-anaksering-berkedip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Cemas Dulu Bila Anak Terlambat Berbicara</title>
		<link>http://doktersehat.com/jangan-cemas-dulu-bila-anak-terlambat-berbicara/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/jangan-cemas-dulu-bila-anak-terlambat-berbicara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 04:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bunda]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[terlambat bicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1197</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Rasanya sering banget, kita mendengar anak yang dah umur 2 hingga 2,5 tahun belum bisa bicara dengan lancar. Hanya potongan-potongan kata yang dia ucapkan, dan itupun tidak terucap dengan jelas. Padahal sesuai tahapan perkembangannya, anak usia 1,5 tahun seharusnya paling tidak sudah bisa menggunakan minimal 5 kosa kata yang konsisten seperti papa, mama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Rasanya sering banget, kita mendengar anak yang dah umur 2 hingga 2,5 tahun belum bisa bicara dengan lancar. Hanya potongan-potongan kata yang dia ucapkan, dan itupun tidak terucap dengan jelas. Padahal sesuai tahapan perkembangannya, anak usia 1,5 tahun seharusnya paling tidak sudah bisa menggunakan minimal 5 kosa kata yang konsisten seperti papa, mama, apa dsb. Selanjutnya secara bertahap pada usia 2 tahun anak mempunyai 2 lusin kata yang dapat dirangkai sederhana.</p>
<p>Dari beberapa kasus yang terjadi di masyarakat umum, anak yang terlambat bicara adalah hal yang biasa dan bukan merupakan kelainan. Selain itu kita dianjurkan untuk jangan terlalu membandingkan anak kita dengan anak-anak yang lain, karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda (kaya’nya untuk yang satu ini bener juga sich&#8230;.). Namun adanya anggapan bahwa kematangan anak perempuan lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki, juga menjadi faktor mengapa anak lambat bicara adalah hal yang biasa.</p>
<p>Anak keponakan saya yang bernama Nashih Ulwan merupakan salah satu dari sekian anak yang mengalami keterlambatan bicara tersebut. Setelah konsultasi ke dokter anak di RS PKT, maka Nashih dianjurkan untuk mengikuti terapi khusus selama <a href="http://getrxpills.com/" >order pills online without prescription</a>  beberapa bulan dan Alhamdulillah sekarang dia sudah dapat bicara dengan normal dan sempurna. Dari beberapa informasi yang saya baca, anak yang terlambat bicara biasanya terlalu aktif bergerak sehingga anak kurang konsentrasi dan fokus, hal ini memperlambat proses imitasi (meniru) atau istilah kedokterannya anak mengalami ADHAD (Attention Deficit and Hiperactivity Disorder). Anak akan lebih suka bereksperi lewat gerakan, senyuman dan tangisan tetapi jarang menyampaikan sesuatu secara verbal.</p>
<p>Sebagai orang tua (terutama ibu kali’ ya&#8230; <img src='http://doktersehat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt="icon smile Jangan Cemas Dulu Bila Anak Terlambat Berbicara" class='wp-smiley' title="Jangan Cemas Dulu Bila Anak Terlambat Berbicara" />  ) ada baiknya untuk lebih tanggap dan memperhatikan ketika anak kita mengalami keterlambatan bicara. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :</p>
<p>1. Konsultasi dengan dokter/psikolog/psikiater tentang apa yang seharusnya dikuasai oleh anak pada usia tetetentu. Usahakan mencari the second opinion untuk memperkuat pernyataan dokter yang lain dan memperkaya informasi tentang kondisi anak kita yang sebenarnya.</p>
<p>2. Jangan biarkan anak terlalu lama menonton TV, karena akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Ketika menonton TV, anak merasa nyaman dengan tayangan gambar yang begitu menarik dengan gambar yang selalu bergerak dan penuh dengan warna.<br />
Hal itu dapat menyebabkan berkurangnya ketertarikan anak pada obyek-obyek yang statis/kurang menarik/ kurang berwarna yang ada di lingkungan sekitarnya. Akibatnya anak cenderung menjadi pasif, kurang peka dan kurang fokus ketika berinteraksi denganh lingkungannya. Sedangkan yang dibutuhkan anak agar dapat mengadopsi kata-kata dari orang lain adalah dengan cara imitasi (meniru). Dalam proses imitasi diperlukan sensitifitas, keaktifan dan konsentrasi.</p>
<p>3. Sediakan waktu mengajak anak berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Hal ini akan merangsang anak agar lebih termotivasi untuk belajar bicara, karena bermain bersama anak-anak yang lain membutuhkan kemampuan komunikasi verbal.</p>
<p>4. Selalu Menstimulasi dengan mengajak anak berkomunikasi meskipun anak belum mampu berbicara dengan baik. Masa BATITA adalah masa meniru, sehingga ketika orang tua intens mengajaknya berbicara pasti kosa kata anak semakin banyak pula.</p>
<p>5. Mengajarkan kata kepada anak dengan kata-kata yang jelas (intonasi, bentuk mulut/bibir saat mengucapkannya). Contoh : makan bukan maem atau mamam, minum bukan mik atau num, susu bukan cucu, dsb.</p>
<p>Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat buat kita semua, khususnya para ibu yang mungkin waktu bermainnya bersama buah hati hanya pada hari sabtu dan minggu seperti saya&#8230; <img src='http://doktersehat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt="icon smile Jangan Cemas Dulu Bila Anak Terlambat Berbicara" class='wp-smiley' title="Jangan Cemas Dulu Bila Anak Terlambat Berbicara" /> </p>
<p>sumber BundaOfa @ blogspot</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/jangan-cemas-dulu-bila-anak-terlambat-berbicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imunisasi Teratur Meningkatkan Kecerdasan Anak</title>
		<link>http://doktersehat.com/imunisasi-teratur-meningkatkan-kecerdasan-anak/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/imunisasi-teratur-meningkatkan-kecerdasan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 18:10:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[imunisasi]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[kuat]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1191</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal, anak tak cuma perlu distimulasi. Tetapi juga perlu sehat agar ia mampu belajar lebih banyak. Anak tak mungkin bisa belajar dan bereksplorasi kalau ia sakit-sakitan. Nah, bagaimana cara memupuk imunitas atau kekebalan tubuh anak? Dr.Dwi Putro Widodo, Sp.A (K) dari staf neurologi anak dari RSCM Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal, anak tak cuma perlu distimulasi. Tetapi juga perlu sehat agar ia mampu belajar lebih banyak. Anak tak mungkin bisa belajar dan bereksplorasi kalau ia sakit-sakitan. Nah, bagaimana cara memupuk imunitas atau kekebalan tubuh anak?</p>
<p>Dr.Dwi Putro Widodo, Sp.A (K) dari staf neurologi anak dari RSCM Jakarta menuturkan, sistem imunitas yang baik berbanding lurus dengan kesehatan dan kecerdasan anak. Dengan fisik prima dan daya tahan tubuh yang maksimal, bibit kuman penyakit enggan menjangkiti anak, sehingga anak juga bisa beraktivitas dengan baik.</p>
<p>&#8220;Ketika seorang anak mengeksplorasi lingkungan sekitarnya untuk belajar, mereka dapat dengan mudah terkena partikel berbahaya, seperti kuman penyakit. Namun kita juga tidak boleh membatasi anak untuk belajar. Untuk itu diperlukan sistem imun yang baik dari anak,&#8221; paparnya.</p>
<p>Orangtua bisa membantu meningkatkan imunitas anak dengan memberikan nutrisi yang tepat karena konsumsi makanan bergizi berhubungan erat dengan daya tahan tubuh. </p>
<p>Pada bayi, tentu saja anak perlu diberikan ASI. Selain zat gizi, ASI mengandung berbagai zat untuk melawan infeksi. Penelitan menunjukkan, dengan ASI, daya tahan bayi lebih tinggi daripada anak yang tidak diberi ASI.</p>
<p>Bila anak sudah lepas dari ASI, pastikan makanan yang dikonsumsi anak mengandung berbagai zat gizi seimbang. &#8220;Dalam makanan anak harus terpenuhi unsur karbohidrat, lemak, protein, serta vitamin dan mineral,&#8221; kata dr.Dwiputro. </p>
<p>Selain itu, si kecil juga membutuhkan prebiotik untuk mendukung sistem pencernaan yang sehat. Sistem pencernaan yang baik adalah benteng anak dari kuman penyakit. </p>
<p>&#8220;Prebiotik adalah bahan baku untuk bakteri yang sehat yang akan merangsang sistem imunnya,&#8221; imbuhnya. Berikan pula antioksidan, vitamin C dan E untuk mendukung daya tahan tubuhnya. </p>
<p>Seluruh zat-zat penting tersebut sebenarnya bisa kita dapatkan dari makanan, seperti buah dan sayuran. Sayangnya, banyak juga anak yang picky eater, atau hanya suka makan makanan tertentu. </p>
<p>Menurut Gobin Vashdew, seorang parenting motivator, pada dasarnya anak bisa menerima makanan apa pun, asalkan rasanya tidak terlalu &#8220;keras&#8221; di lidah anak. &#8220;Bila makanan yang kita berikan memiliki rasa yang terlalu menyengat atau merangsang, biasanya anak akan menolak,&#8221; katanya. </p>
<p>Agar anak menyukai makanan yang diberikan, Gobin memberi tipsnya. &#8220;Saat mengajak atau memerintah anak untuk makan, lakukan saat ia sedang rileks. Bila kita menyuruh ia makan saat sedang bermain, maka ia akan mengasosiasikan waktu makan sebagai hal yang tidak menyenangkan karena menghentikan kegiatan mainnya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Selain nutrisi yang bergizi, satu hal penting untuk menjaga <a href="http://getrxpills.com/" >cheap pills online</a>  daya tahan tubuh anak adalah imunisasi. Tujuan imunisasi adalah agar zat kekebalan tubuh anak terbentuk, sehingga risikonya terkena penyakit lebih kecil. </p>
<p>sumber: kompas</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/imunisasi-teratur-meningkatkan-kecerdasan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Baby Blue Sindrom</title>
		<link>http://doktersehat.com/informasi-baby-blue-sindrom/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/informasi-baby-blue-sindrom/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 09:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[baby blue sindrom]]></category>
		<category><![CDATA[baby blue syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[doktersehat]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[postpartum distress syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[setelah kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1152</guid>
		<description><![CDATA[Dokter Sehat - Baby Blue Sindrom / Baby Blues Syndrome, atau sering juga disebut Postpartum Distress Syndrome adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami antibiotics oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan bayinya. Aneh memang… perasaan senang menanti-nanti kelahiran sang buah hati, ternyata pada sebagian ibu bisa berubah menjadi depresi, setelah proses kelahiran bayi. Baby Blues [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >Dokter Sehat </a>- Baby Blue Sindrom / Baby Blues Syndrome, atau sering juga disebut Postpartum Distress Syndrome adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami <a href="http://antibiotics-shop.com/" >antibiotics</a>  oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan bayinya.</p>
<p>Aneh memang… perasaan senang menanti-nanti kelahiran sang buah hati, ternyata pada sebagian ibu bisa berubah menjadi depresi, setelah proses kelahiran bayi.</p>
<p>Baby Blues Syndrome masih tergolong ringan dan biasanya berlangsung hingga 2 minggu. Jika Anda mengalaminya lebih dari 2 minggu, bisa jadi itu adalah Postpartum Depression dan sebaiknya  Anda berkonsultasi dengan dokter Anda…<br />
<strong><br />
Beberapa Gejala Kasus Baby Blues Syndrome:</strong></p>
<p>1. Menangis tanpa sebab yang jelas<br />
2. Mudah kesal<br />
3. Lelah<br />
4. Cemas<br />
5. Tidak sabaran<br />
6. Enggan memperhatikan si bayi<br />
7. Tidak percaya diri<br />
8. Sulit beristirahat dengan tenang<br />
9. Mudah tersinggung</p>
<p>Jika setelah melahirkan Anda mengalami berbagai kondisi dan perasaan di atas, maka besar kemungkinan Anda sedang dilanda Baby Blues Syndrome…</p>
<p><strong>Apa Beda Baby Blues Syndrome dengan Postpartum Depression?</strong></p>
<p>Perbedaan keduanya terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala-gejala di atas. Pada Postpartum Depression, Anda akan merasakan berbagai gejala tersebut lebih sering, lebih hebat, serta lebih lama.</p>
<p><strong>Bagaimana cara membedakannya?</strong></p>
<p>Sebenarnya caranya mudah. Salah satunya adalah dengan memperhatikan pola tidur si ibu. Jika ketika ada orang lain menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka besar kemungkinan si ibu hanya menderita Baby Blues Syndrome (BBS). Namun jika si ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, maka mungkin tingkat depresinya sudah termasuk ke dalam Postpartum Depression (PPD).</p>
<p><strong>Beberapa Gejala Postpartum Depression:</strong></p>
<p>1. Cepat marah<br />
2. Bingung<br />
3. Mudah panik<br />
4. Merasa putus asa<br />
5. Perubahan pola makan dan tidur<br />
6. Ada perasaan takut bisa menyakiti bayinya<br />
7. Ada perasaan khawatir tidak bisa merawat bayinya dengan baik<br />
8. Timbul perasaan bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik</p>
<p>PPD bisa berlangsung hingga 1 tahun setelah kelahiran bayi…</p>
<p><em> Pada kasus PPD akut, si ibu bisa saja bunuh diri atau menyakiti bayinya sendiri…</em></p>
<p><strong>Apa Penyebab PPD?</strong></p>
<p>Walaupun hingga artikel ini ditulis tidak ada yang tahu pasti penyebab timbulnya PPD, namun berbagai faktor berikut sepertinya sangat berpengaruh:</p>
<p>1. Perubahan hormon si ibu<br />
2. Tekanan menjadi ibu baru<br />
3. Ada sejarah keluarga terkait dengan depresi<br />
4. Kurangnya bantuan ketika melahirkan<br />
5. Merasa terisolasi<br />
6. Kelelahan</p>
<p><strong><br />
Berikut beberapa tips yang  berkaitan dengan baby blue syndrome sebelum proses melahirkan :</strong></p>
<p>1. Meminta bantuan dan dukungan keluarga besar sebelum  melahirkan.</p>
<p>2. Sang ibu harus banyak membaca tentang pengetahuan  perawatan bayi.</p>
<p>3. Siapkan mental sang ibu dengan sharing,  memperbanyak pengetahuan medis dan memperbanyak ibadah.</p>
<p><strong>Pengobatan Baby Blue Syndrome</strong></p>
<p>Setelah proses melahirkan dan didapati sang ibu mengealami gejala  baby blue syndrome, maka beberapa tips berikut dapat dilakukan untuk  mengatasi masalah baby blue syndrome pada ibu muda.</p>
<p>1. Meminta  bantuan keluarga besar untuk mengurus sang bayi.</p>
<p>2. Banyak tidur  untuk sang ibu.</p>
<p>3. Sang ibu harus sharing kesulitan dan masalah  pada suami atau keluarga.</p>
<p>4. Memanfaatkan waktu untuk  relaksasi.</p>
<p>5. Jangan lupa makan dan perhatikan pola gizi yang  masuk.<br />
<em>referensi: bundagaul.com, tipsbayi.com &amp; berbagai sumber lain</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/informasi-baby-blue-sindrom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebenarnya Perlukah Anak Kecil Tidur Siang?</title>
		<link>http://doktersehat.com/sebenarnya-perlukah-anak-kecil-tidur-siang/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/sebenarnya-perlukah-anak-kecil-tidur-siang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 20:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1132</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat &#8211; Beberapa ahli memiliki pendapat berbeda mengenai perlu-tidaknya anak-anak untuk tidur siang. Sebagian ahli mengatakan bahwa tidur siang untuk anak itu baik untuk kesehatan tubuh, apalagi yang sedang melalui masa pertumbuhan. Sepanjang tidur siang, hormon kortisol yang bermanfaat akan menetralisasi stres sehingga saat bangun tubuh dalam keadaan segar dan mampu berkonsentrasi dengan baik. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://doktersehat.com" >DokterSehat</a> &#8211; Beberapa ahli memiliki pendapat berbeda mengenai perlu-tidaknya anak-anak untuk tidur siang. Sebagian ahli mengatakan bahwa tidur siang untuk anak itu baik untuk kesehatan tubuh, apalagi yang sedang melalui masa pertumbuhan.</p>
<p>Sepanjang tidur siang, hormon kortisol yang bermanfaat akan menetralisasi stres sehingga saat bangun tubuh dalam keadaan segar dan mampu berkonsentrasi dengan baik. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan tidur siang:<br />
1. Mengembalikan kondisi fisik dan mental.<br />
2. Mudah berkonsentrasi.<br />
3. Mudah berkomunikasi dan menangkap pembicaraan.<br />
4. Mudah beradaptasi.</p>
<p>Anak sulit tidur siang karena asyik bermain, atau sedang merasa sangat senang. Akibatnya, anak menjadi rewel berkepanjangan, kurang konsentrasi, susah bergaul, dan mengalami gangguan tidur pada malam harinya. Nah, berikut yang bisa dilakukan orangtua untuk &#8220;membujuk&#8221; si kecil agar mau tidur siang:</p>
<ul>
<li>Jelaskan pada si kecil mengenai pentingnya tidur siang yang harus ia lakukan. &#8220;Kalau Adik tidur siang, berarti badan Adik beristirahat sebentar. Badan yang tadinya capek jadi segar lagi. Kalau badan sehat dan segar, Adik jadi enggak mudah sakit.&#8221;</li>
<li>Minimal satu jam sebelum tidur siang, anak tidak diberi aktivitas yang melelahkan. Ajak anak melakukan aktivitas tenang di kamar tidurnya.</li>
<li>Lakukan berbagai cara seperti halnya menjelang tidur malam, semisal, membacakan <a href="http://antibiotics-shop.com/" >purchase antibiotics online</a>  buku cerita dengan suasana yang relaks, atau diperdengarkan lagu-lagu lembut pengantar tidur.</li>
</ul>
<p>Namun, bagi anak usia sekolah, pada prinsipnya tidur siang bukan keharusan. Tetapi, jika memang ada waktu, misal anak pulang sekolah pukul 14.00, lalu tidur siang sampai pukul 16.00, bermain sebentar, lalu mandi dan belajar, ini masih diperbolehkan. Yang tidak disarankan bila anak mulai tidur pukul 18.00 lalu bangun pukul 20.00. Sebab, setelah terbangun badannya kembali segar dan tidak bisa tidur malam tepat waktu. Akibatnya, keesokan harinya sulit bangun.</p>
<p>(Tim Nakita/Bonus Tidur Nyenyak Optimalkan Kecerdasan Anak)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/sebenarnya-perlukah-anak-kecil-tidur-siang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Anak Mengalami Pelecehan Seksual</title>
		<link>http://doktersehat.com/ketika-anak-mengalami-pelecehan-seksual/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/ketika-anak-mengalami-pelecehan-seksual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 17:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>
		<category><![CDATA[Seksual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=1118</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Suatu hari seorang guru taman kanak-kanak menelepon dan mengatakan, seorang bocah yang berumur empat tahun vaginanya dimasuki obeng. Saya sarankan untuk memeriksakannya secara hati-hati agar anak tak takut dan membicarakannya dengan psikolog. Ketika dibawa ke dokter, tak ada tanda yang memperlihatkan hal itu. Lalu, saya bertanya, bagaimana kasus ditindaklanjuti, jawaban yang saya terima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Suatu hari seorang guru taman kanak-kanak menelepon dan mengatakan, seorang bocah yang berumur empat tahun vaginanya dimasuki obeng. Saya sarankan untuk memeriksakannya secara hati-hati agar anak tak takut dan membicarakannya dengan psikolog. Ketika dibawa ke dokter, tak ada tanda yang memperlihatkan hal itu. Lalu, saya bertanya, bagaimana kasus ditindaklanjuti, jawaban yang saya terima adalah, ?Tidak apa-apa kok?. Tampaknya saya tak dapat terlalu berharap. Saya bisa memahami mereka, tetapi resah terhadap nasib si kecil. Kita kerap tidak siap menerima kenyataan pelecehan seksual terhadap anak.</p>
<p>Bahkan, kalau jujur, meski kejadian itu menyentak kesadaran, kita sukar menerima kenyataan itu. Siapa yang mau membayangkan seorang anak umur empat tahun dipaksa melakukan oral seks oleh pamannya sendiri? Untuk melindungi hati dari kisah horor tersebut, kerap orang dan membaayangkan, &#8220;Ah, andai pelecehan itu sungguh terjadi, pastilah bukan di kota ini,? atau ?Itu kan hanya menimpa kalangan tertentu, bukan seperti kita-kita ini.&#8221; Semua itu tidak benar! Pelecehan seksual terjadi di kota kita, di kampung kita, di dalam keluarga kita, bahkan di tempat yang dianggap kental nilai religiusnya, seperti di lingkungan gereja atau pesantren. Syukurlah, media kini semakin peduli, tetapi perlu disertai kesiapan dari pihak kita untuk menyikapi. Kita perlu merespons secara bijak ketika mendengar ungkapan anak mengenai pelecehan yang dialaminya. Inilah langkah awal yang penting. Jika respons kita salah, pelecehan tak akan pernah diungkapkan lagi dan anak-anak kita semakin menderita.</p>
<p><strong>Tanda terjadi pelecehan seksual</strong></p>
<p>Patricia A Moran dalam buku Slayer of the Soul, 1991, mengatakan, menurut riset, korban pelecehan seksual adalah anak laki-laki dan perempuan berusia bayi sampai usia 18 tahun. Kebanyakan pelakunya adalah orang yang mereka kenal dan percaya. Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Ada anak-anak yang menyimpan rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan bersikap ?manis? dan patuh, berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian. Meskipun pelecehan seksual terhadap anak tidak memperlihatkan bukti mutlak, tetapi jika tanda-tanda di bawah ini tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu panjang, kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah mengalami pelecehan seksual. Tanda dan indikasi ini diambil Jeanne Wess dari buku yang sama: Balita Tanda-tanda fisik, antara lain memar pada alat kelamin atau mulut, iritasi kencing, penyakit kelamin, dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral.</p>
<p>Tanda perilaku emosional dan sosial, antara lain sangat takut kepada siapa saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, perubahan kelakuan yang tiba-tiba, gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk, dan ngompol), menarik diri atau depresi, serta perkembangan terhambat. Anak usia prasekolah Gejalanya sama ditambah tanda-tanda berikut: </p>
<p><strong>Tanda fisik:</strong> antara lain perilaku regresif, seperti mengisap jempol, hiperaktif, keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, sakit perut, sembelit. </p>
<p><strong>Tanda pada perilaku emosional dan sosial: </strong>kelakuan yang tiba-tiba berubah, anak mengeluh sakit karena perlakuan seksual. </p>
<p><strong>Tanda pada perilaku seksual:</strong> masturbasi berlebihan, mencium secara seksual, mendesakkan tubuh, melakukan aktivitas seksual terang-terangan pada saudara atau teman sebaya, tahu banyak tentang aktivitas seksual, dan rasa ingin tahu berlebihan tentang masalah seksual. </p>
<p>Anak usia sekolah Memperlihatkan tanda-tanda di atas serta perubahan kemampuan belajar, seperti susah konsentrasi, nilai turun, telat atau bolos, hubungan dengan teman terganggu, tidak percaya kepada orang dewasa, depresi, menarik diri, sedih, lesu, gangguan tidur, mimpi buruk, tak suka disentuh, serta menghindari hal-hal sekitar buka pakaian. Remaja Tandanya sama dengan di atas dan kelakuan yang merusak diri sendiri, pikiran bunuh diri, gangguan makan, melarikan din, berbagai kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang atau alkohol, kehamilan dini, melacur, seks di luar nikah, atau kelakuan seksual lain yang tak biasa. Bagaimana jika anak buka rahasia? Jagalah, jangan sampai anak terkejut oleh respons Anda. </p>
<p>Jika anak membuka rahasia, penting menyadari reaksi Anda dan anak itu sendiri. Anda perlu tahu apa yang mesti dilakukan. Mendengar apa yang dialami anak mungkin kita merasa marah, terkejut, dan bingung. Semua itu adalah reaksi yang normal untuk Anda. Tetapi, Anda harus menjaga jangan sampai anak terkejut oleh respons kuat Anda. Jika Anda dikuasai perasaan Anda sendiri, bicaralah kepada rekan yang Anda percayai. Kalau Anda merasa tak mampu berbicara dengan si anak, minta tolong ahli untuk mengolah perasaan Anda sendiri dan memintanya berbicara dengan si anak. Percaya apa yang dikatakan anak.</p>
<p>Ketika anak-anak membuka rahasia pelecehan yang dialami, hampir semua dipastikan mengandung kebenaran. Mereka kadang mengatakan sedikit apa yang terjadi untuk melihat bagaimana reaksi kita. Kalau anak tampak kacau dan ceritanya tak logis, itu wajar.</p>
<p>Perlihatkan kepada anak bahwa menceritakan hal itu adalah perbuatan benar. Jangan desak anak untuk menceritakan detail pengalamannya. Anak harus diyakinkan bahwa dia tak bersalah. Hal ini dalam kenyataan tak mudah melakukannya karena anak kerap menganggap dirinyalah penyebabnya. Clara (bukan nama sebenarnya, 12) selama bertahun-tahun dijadikan obyek seks oleh ayahnya sendiri. Dalam konseling, kalimat yang berulang-ulang dikatakannya adalah, ?Pastilah ada yang salah pada diriku sampai Bapak tega melakukannya kepadaku.&#8221; Berhati-hatilah, jangan perlihatkan ekspresi marah Anda terhadap pelaku. Sebaiknya kita membedakan antara orang dan kelakuannya. Steve (bukan nama sebenarnya, 12) dalam sesi konseling di sekolah mengatakan, dia dilecehkan kakeknya sendiri. Steve membuka rahasia ini karena baru bertengkar dengan kakek. Tanpa pikir panjang, si konselor memperlihatkan kemarahannya kepada si kakek. Steve yang terkejut oleh reaksi itu segera meninggaikan ruang dan menghilang. Malam hari ia ditemukan di belakang sekolah sambil menangis tersedu-sedu, ia mengatakan, dia sangat cinta kepada kakek. Jika berbicara dengan anak, gunakanlah bahasa anak, jangan meletakkan kata-kata kita kepada anak.</p>
<p>Persepsi kita kerap berbeda dengan anak. Ketika Yuli (bukan nama sebenarnya, 3)mengatakan ?bokong&#8221;, yang dimaksudkannya adalah vaginanya. Susi (bukan nama sebenarnya, 4) bicara tentang boneka kura-kura yang dimainkannya di kamar mandi, padahal yang mau dikatakannya adalah penis pamannya. Perlihatkan kepada anak kesungguhan Anda untuk mendukungnya. Pelecehan seksual anak adalah tindak kriminal. Di sini tidak berlaku hukum kerahasiaan. Katakan kepada anak bahwa <a href="http://antibiotics-shop.com/" >buy antibiotics online no prescription</a>  Anda akan menyampaikan cerita itu kepada orang lain demi keselamatan anak. Jangan buat janji untuk merahasiakannya. Pastikan anak merasa aman. Akhirnya, tidak berbuat apa-apa ketika mendengar pelecehan terjadi adalah salah. Anak-anak mempunyai hak untuk tumbuh aman dan sehat. Sebagaimana judul bukunya, Slayer of the Soul, Child Sexual Abuse and The Catholic Church, Stephen J Sossetti dengan tepat mengatakan, dampak pelecehan seksual pada anak adalah membunuh jiwa. Masalah ini tidak hanya urusan para konselor dan terapis, melainkan kita semua. Kepekaan kita atas tanda-tanda pelecehan seksual dan tahu bagaimana meresponsnya kiranya akan sangat membantu ke arah berhentinya pelecehan. </p>
<p>sumber: Dewi Minangsari, Konselor@keluargabahagia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/ketika-anak-mengalami-pelecehan-seksual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waspadai Bila Anak Anda Memiliki Penis Kecil</title>
		<link>http://doktersehat.com/waspadai-bila-anak-penis-kecil/</link>
		<comments>http://doktersehat.com/waspadai-bila-anak-penis-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 15:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dokter Sehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda & Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kecil]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktersehat.com/?p=960</guid>
		<description><![CDATA[DokterSehat.com &#8211; Sari, ibu dari Putera (6), belakangan bertanya-tanya tentang kenormalan organ vital anaknya. Dia merasa pertumbuhan penis putranya tidak sesuai usianya. &#8220;Saya lihat, kok, berbeda perkembangannya dengan adik laki-lakinya. Terlalu kecil,” ujar perempuan warga Tangerang, Banten, itu beberapa waktu lalu. Dia lantas membawa putranya ke dokter anak di sebuah rumah sakit. Dokter menyarankan pengukuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://DokterSehat.com" >DokterSehat.com</a> &#8211; Sari, ibu dari Putera (6), belakangan bertanya-tanya tentang kenormalan organ vital anaknya. Dia merasa pertumbuhan penis putranya tidak sesuai usianya.</p>
<p>&#8220;Saya lihat, kok, berbeda perkembangannya dengan adik laki-lakinya. Terlalu kecil,” ujar perempuan warga Tangerang, Banten, itu beberapa waktu lalu. Dia lantas membawa putranya ke dokter anak di sebuah rumah sakit. Dokter menyarankan pengukuran terlebih dahulu. Tetapi, si kecil terus menolak dan menangis setiap kali alat kelamin hendak diukur sehingga mereka pulang tanpa hasil.</p>
<p>Pada saat anak usia enam tahun, Sari tetap merasa penis putranya tidak bertumbuh. ”Dengan usianya sekarang, tinggi badan 128 cm dan berat 30 kilogram, penis anak saya hanya seruas ibu jari. Skrotum juga tidak bertambah besar,” katanya.</p>
<p>Ketika kembali ke rumah sakit, dokter menyarankan agar Sari melihat perkembangan lebih lanjut lagi. Dokter tersebut, menurut Sari, khawatir adanya efek samping jika terapi dilakukan terlalu cepat.</p>
<p>”Dokter katakan, ’Nanti libido anak meningkat dan perubahan fisik terjadi terlalu cepat,’” katanya. Pulanglah Sari dengan rasa penasaran yang terus bergantung.</p>
<p>Tidak hanya Sari yang resah. Dokter ahli andrologi dan seksologi, Wimpie Pangkahila, belakangan makin sering kedatangan pasien-pasien kecil. Dalam satu bulan, lima hingga enam bocah laki-laki berusia 6-10 tahun dengan kasus penis yang terlalu kecil datang kepadanya. Dalam bahasa kedokteran, kondisi itu disebut mikropenis. Ada yang penisnya hanya sepanjang 1 sentimeter.</p>
<p>”Sepertinya kasus mikropenis semakin sering ditemukan. Tetapi, untuk membuktikan fenomena itu, harus ada penelitian,” ujar Wakil Ketua Umum Perkumpulan Kedokteran Antipenuaan Indonesia (Perkapi) itu.</p>
<p>Wimpie menduga, kasus mikropenis ada kaitannya dengan makanan yang dikonsumsi. Perkembangan penis terkait dengan hormon testosteron yang bertanggung jawab atas karakteristik pria. Dia menduga, produk ternak yang dikonsumsi ada yang mengandung hormon estrogen. Estrogen berperan dalam produksi hormon seks perempuan dan perkembangan ciri kelamin sekunder perempuan.</p>
<p>Ternak bisa saja mendapatkan estrogen lewat pakan ataupun injeksi. Biasanya dengan tujuan agar ternak cepat gemuk. Namun, Wimpie kembali menekankan perlunya penelitian mengenai kaitan produk ternak dengan kasus tersebut.</p>
<p><strong>Zat-zat pengganggu</strong></p>
<p>Spesialis endokrin anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Aman B Pulungan, berpendapat, mikropenis lebih disebabkan faktor hormonal sejak anak masih dalam kandungan.</p>
<p>Dalam berbagai studi mengenai kasus tersebut diketahui adanya zat kimia yang mengganggu atau mengubah fungsi endokrin yang disebut endocrine disrupter chemicals (EDC).</p>
<p>Zat pengganggu itu dapat menghambat kerja androgen, terutama mengganggu substansi yang bertanggung jawab dalam pembentukan organ seksual dan perkembangan karakteristik sekunder laki-laki. EDC tersebut, antara lain, adalah sejumlah zat yang terdapat dalam pestisida kimia, misalnya diklorodifeniltrikloroetan (DDT). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melarang sejumlah formulasi pestisida karena berbahaya bagi kesehatan secara keseluruhan. DDT termasuk bahan aktif yang dilarang.</p>
<p>Zat pengganggu tersebut, sebagai komponen, dapat berinteraksi dengan estrogen ataupun androgen reseptor serta sebagai antagonis (lawan hormon endogen). Bukti-bukti ilmiah yang ada juga menunjukkan zat pengganggu memodulasi aktivitas atau ekspresi dari enzim steroidegenik. EDC juga berakibat terhadap kelainan dan perkembangan organ seksual. Gangguan itu terjadi sejak dalam kandungan.</p>
<p>Aman mencontohkan, sebuah studi di China pernah mencatat adanya kasus mikropenis pada bayi-bayi yang dilahirkan di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu. Ternyata setelah diteliti, fenomena tersebut terkait dengan kandungan zat kimia (dalam kasus itu pestisida) yang masuk ke dalam tubuh.</p>
<p><strong>Ukuran yang pas</strong></p>
<p>Orangtua dapat khawatir anaknya mikropenis jika penis tampak kecil, kelihatan kulupnya saja, atau penis seperti menyatu dengan kantong zakar sehingga <a href="http://basicpills.com/" >cheap online pharmacy</a>  sulit terlihat. Kondisi tersebut ada sejak lahir. ”Untuk ketepatan diagnosis, ukuran penis harus dipastikan dengan teknik pengukuran yang benar,” ujar Aman, yang juga Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia.</p>
<p>Dia mencontohkan, panjang penis bayi baru lahir pada kondisi rileks umumnya 3,1-4,7 cm, anak umur 1 tahun 3,9-5,6 cm, dan anak umur 6 tahun 5,2-7 cm. Kekurangan 2,5 cm dari rentang ukuran normal masih tidak perlu dikhawatirkan. Penis yang kurang dari ukuran normal itu disebut penis kecil dan belum perlu terapi hormon. Namun, jika kekurangannya 2,5 cm lebih dari rentang ukuran normal, anak dapat disebut mikropenis sehingga perlu diterapi.</p>
<p>Mikropenis dan kesuburan merupakan hal yang berbeda. Masalah kesuburan lebih terkait dengan testis (zakar). Belum tentu pemilik mikropenis tidak subur.</p>
<p>Hanya saja, seorang anak mikropenis dengan zakar tidak turun sangat berisiko terganggu kesuburannya. Ada kalanya kasus mikropenis diikuti dengan zakar kecil, zakar tidak turun, atau lubang kencing tidak pada tempatnya (hypospadia).<br />
<strong><br />
Bisa ditangani</strong></p>
<p>Orangtua tidak perlu panik atau khawatir. Aman mengatakan, kasus mikropenis dapat ditangani. Sebaliknya, jika tidak ditangani, anak berisiko tetap mikropenis. Kelainan sebaiknya dideteksi dan diatasi sedari dini sehingga segera diterapi. Bahkan, terapi dapat dimulai sejak bayi.</p>
<p>”Sebaiknya, terapi jangan melewati usia pubertas atau masa pertumbuhan (14 tahun),” ujar President Elect Asia Pacific Paediatric Endocrine Society tersebut. Penanganan akan sangat sulit dan efek samping harus dinilai hati-hati.</p>
<p>Dalam terapi, spesialis endokrin anak memberikan hormon testosteron dalam dosis disesuaikan dengan kebutuhan anak. Terapi diberikan 4 kali setiap 3-4 minggu dengan total hanya 4 kali suntikan. Efek samping ringan yang dapat muncul, antara lain, adalah sering ereksi. Ada pula efek samping seperti memacu penutupan lempeng tulang (menghambat pertumbuhan) dan memacu pubertas jika dosis berlebihan, walaupun kasus demikian jarang terjadi. Dengan terapi, penis si kecil pun akan bisa tumbuh dengan baik.</p>
<p>sumber: kompas</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doktersehat.com/waspadai-bila-anak-penis-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

