Syok – Syok Anafilaksis

Ketika tubuh mengembangkan reaksi alergi terhadap beberapa bahan kimia atau substansi tertentu di lingkungan, sistem kekebalan tubuh akan aktif untuk memerangi zat tersebut. Pada suatu kesempatan, bisa ada respon berlebih dan beberapa sistem organ dalam tubuh dapat dipengaruhi dan terjadi kegagalan organ. Ini dikenal sebagai anafilaksis. Sel mast dan basofil (jenis sel darah putih) yang mengandung histamin menjadi tidak stabil dan bocor untuk mempengaruhi otot-otot pembuluh paru-paru, jantung dan darah. Otot-otot tersebut adalah otot halus yang merupakan bagian dari sistem regulasi tubuh dan tidak berada di bawah kendali kesadaran.

doktersehat-nyeri-otot-nyeri-dada

  • Otot-otot yang mengelilingi saluran bronkial menjadi spasme (kaku) dan menyebabkan mengi dan sesak napas.
  • Otot-otot yang mengelilingi pembuluh darah melebar, menyebabkan tekanan darah turun.
  • Histamin juga menyebabkan kemerahan pada kulit, urtikaria (gatal-gatal), muntah dan diare.
  • Berbagai mekanisme menyebabkan otot jantung memompa dengan lemah dan pembuluh darah membocorkan cairan keluar.

Kombinasi dari efek ini menurunkan aliran darah dan suplai oksigen ke sel-sel dalam tubuh dan dapat mengakibatkan syok.

Penyebab paling umum dari syok anafilaksis termasuk reaksi alergi terhadap makanan (terutama kacang), antibiotik, dan sengatan lebah dan serangga lainnya. Anak-anak juga sering alergi terhadap telur, kedelai, dan susu.

Alergen ini dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh aktif dan berpotensi untuk syok. Banyak pasien memiliki reaksi alergi yang kurang parah dan hanya dapat melibatkan gatal-gatal, tetapi ada orang lain yang dapat mengalami sesak napas, mengi, pembengkakan pada lidah dan mulut, dan kesulitan menelan.

Pengobatan awal untuk reaksi alergi utama termasuk menelepon 119 dan mengaktifkan sistem tanggap darurat. Intervensi medis termasuk suntikan antihistamin seperti diphenhydramine (Benadryl), kortikosteroid dan adrenalin (epinefrin).

Baca Juga:  Sindrom Syok Toksik - Gejala

Pasien dengan reaksi alergi utama harus mencoba untuk menghindari pemicu kimia. Mereka juga sering membawa Epipen (kit injeksi epinefrin) untuk menyuntikkan diri dengan epinefrin segera ketika reaksi alergi terjadi.