Stres pada Anak Hambat Pertumbuhan Otak

Doktersehat.com – Tiga tahun pertama kehidupan bayi adalah periode pertumbuhan yang luar biasa yang terjadi pada seluruh area perkembangan tubuh, terutama otak. Otak bayi baru lahir hanya seberat 25% dari otak orang dewasa rata-rata. Tetapi pada umur tiga tahun, otak sudah tumbuh begitu pesatnya, memproduksi milyaran sel dan ratusan triliun koneksi, sinapsis atau sambungan syaraf antar sel-sel tersebut. Meskipun pertumbuhan otak tidak berhenti sampai umur tiga tahun – melainkan sampai usia remaja – namun setelah usia tiga tahun pertumbuhan otak semakin melambat.



Pada tiga bulan pertama kehidupan bayi, lingkar kepalanya bertambah sekitar enam sentimeter. Kemudian bertambah sekitar enam sentimeter lagi saat ulang tahun mereka yang pertama. Di usia tiga tahun, lingkar kepala masih terus bertambah sekitar empat sentimeter lagi. Peningkatan besar dalam ukuran otak inilah yang kritikal dalam menentukan tingkat intelegensi anak, kemampuan berkonsentrasi dan juga prestasi mereka di sekolah. Selain perkembangan intelektual, otak juga sangat mempengaruhi perkembangan emosional anak. Perkembangan intelektual dan emosional ini baru akan terlihat saat ia duduk di bangku sekolah dasar.

Optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak anak bergantung pada asupan makanan yang tentunya harus baik dan bernutrisi tinggi setiap hari sejak ia dilahirkan. Selain untuk pertumbuhan, makanan bayi bergizi juga membantu proses perbaikan dan pergantian sel dalam tubuh setiap harinya.

Para ilmuwan di University of Wisconsin-Madison menyatakan, stres dapat mempengaruhi perkembangan otak pada anak dengan mengubah pertumbuhan bagian tertentu dari otak dan kemampuan fungsi otak.

“Sudah ada banyak penelitian pada hewan yang menghubungkan stres akut dan kronis terhadap perubahan di bagian otak yang disebut korteks prefrontal, yang terkait dalam kemampuan kognitif kompleks untuk mengingat secara cepat informasi penting dan penggunaannya,” kata Jamie Hanson, dari University of Wisconsin Madison.
“Kami telah menemukan asosiasi yang sama pada manusia, dan menemukan bahwa individu yang sering mengalami stres terkait dengan masalah lebih banyak terhadap beberapa jenis proses kognitif,” ungkapnya.

Peneliti mengatakan, anak-anak yang pernah mengalami peristiwa stres lebih intens dan hampir setiap saat dalam hidup mereka memiliki skor atau nilai rendah ketika mengerjakan tes yang disebut sebagai memori kerja spasial. Anak-anak ini cenderung mengalami kesulitan melakukan navigasi tes memori jangka pendek.
Hasil scan otak menunjukkan bahwa cingulate anterior, bagian dari korteks prefrontal yang diyakini memainkan peran kunci dalam memori kerja spasial, memakan banyak ruang pada anak yang lebih sering terpapar oleh stres. “Ini adalah perbedaan yang halus, tetapi perbedaan ini berhubungan penting dengan kemampuan kognitif,” kata Hanson yang mempublikasikan temuannya dalam Journal of Neuroscience.

Dalam penelitiannya, peneliti menentukan tingkat stres melalui wawancara dengan anak-anak usia 9 sampai 14 tahun beserta orang tua mereka. Tim peneliti, dari UW-Madison terdiri dari profesor psikologi Richard Davidson dan Seth Pollak mengumpulkan biografi secara luas peristiwa stres dari ringan sampai parah.

“Alih-alih memfokuskan pada pada satu jenis spesifik stres, kami mencoba untuk melihat berbagai stres,” kata Hanson. “Kami ingin tahu sebanyak yang kita bisa, dan kemudian menggunakan semua informasi ini untuk kemudian mendapatkan ide bagaimana tantangan dan stres kronis dari masing-masing anak,” tambahnya.

Peneliti juga mencatat adanya perubahan jaringan otak yang dikenal sebagai materi putih dan abu-abu. Materi abu-abu di awal pembangunan muncul untuk memungkinkan fleksibilitas; anak-anak dapat bermain dan unggul dalam kegiatan yang berbeda.

Studi ini dimaksudkan agar bagaimana para tenaga ahli bisa membantu anak-anak yang sering sekali mengalami stres. “Memahami apakah dan bagaimana stres mempengaruhi proses ini bisa membantu kita mengetahui apakah mungkin ada intervensi serupa yang dapat membantu anak yang hidup dalam kondisi stres, dan bagaimana ini dapat mempengaruhi otak,” kata peneliti.

 

 

 

Sumber : detikhealth.com & promina.co.id