Strategi Hadapi Anak ‘Picky Eater’

Doktersehat.com– Sebagian besar orang tua khususnya para ibu mungkin pernah mengalami saat-saat sulit dimana anak mereka tak mau makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Kesulitan makan pada balita atau biasa disebut picky eater merupakan hal yang lazim terjadi ketika anak mulai beralih mengonsumsi makan makanan cair ke padat.



Mengenai kesulitan makannya, sebaiknya perlu dipahami bahwa makan pada anak merupakan suatu proses pendidikan/pelatihan yang perlu dilakukan secara berkesinambungan, penuh kesabaran dan kasih sayang.

Untuk seusianya memang anak sudah mulai memilih-milih makanannya (picky-eater), namun hal tersebut dapat diatasi dengan cara memperbanyak variasi dan pilihan jenis makanan dan rasa/warna yang menarik.

Menurut dr. Vimaladewi Lukito Sp.A, spesialis anak dari Tirtayu Healing Center, picky eater adalah kelainan murni yang umumnya terjadi pada anak. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai di bawah 6 tahun.

Untuk menghadapi anak yang picky eater, hal terpenting yang harus dilakukan khususnya para orang tua adalah pendekatan dalam cara memberikan makanan kepada anak.
“Itu yang harus disadari oleh orang tua. Orang tua harus tahu kenapa anaknya picky eater dan tidak mau makan makanan padat,” katanya, Sabtu, (6/8/2011), di Jakarta.
Seorang ibu, kata Vimaladewi, harus mengerti bahwa setelah anak berumur di atas 1 tahun, susu bukan lagi menjadi sumber kalori utama. Sehingga anak harus beralih ke makan makanan yang padat.

Menurutnya, ketika anak mulai belajar makan makanan padat, anak akan sering meludahkan atau melepehkan makanan. Pada saat seperti inilah para orang tua biasanya akan berpikir bahwa anak tidak suka. “Padahal reaksi seperti itu bukan berarti anak tidak suka. Anak sedang mulai belajar persepsi, merasakan jenis konsistensi makan yang baru,” ujarnya.

Dalam menghadapi anak picky eater yang diperlukan adalah kesabaran dari orang tua dalam memberikan anak makan. Jangan menargetkan atau memaksa anak Anda untuk menghabiskan makanan jika memang anak sudah tidak lagi mau makan. Orang tua sebaiknya melakukan secara bertahap, dan lakukan pengenalan satu rasa makanan yang sama pada anak.

Jangan pernah membuat anak bingung dalam mengenali apa yang dia makan. Misalnya, ketika sarapan pagi diberi rasa buah-buahan, siang rasa daging, setelah itu sayur-sayuran. “Kenali satu rasa dulu. Lakukan selama seminggu berturut-turut seperti itu. Setelah anak sudah bisa menerima rasa itu, baru cobalah kenalkan dengan rasa yang lain,” jelasnya.

Vimaladewi mengatakan, kalau picky eater tidak segera ditangani sejak awal, maka anak akan menjadi sulit makan ke depannya. Sehingga bukan tidak mungkin anak akan mengalami kekurangan gizi. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami picky eater, misalnya saja: bentuk makanan tidak menarik, monoton (tidak ada variasi), suasana di rumah tidak kondusif dan kurang perhatian orang tua (sibuk).

Faktor psikologis memiliki peran penting pada anak picky eater. Oleh karena itu, butuh team work dalam seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek, orangtua dan pengasuh, dengan satu tujuan supaya anak tidak picky eater.

“Ketika kita mengajarkannya sambil main dan dalam keadaan yang senang, dia menganggap itu sebagai pola yang menyenangkan. Atau anak melihat orang tuanya sendiri ikut makan, itu akan membuat anak lebih gampang untuk makan-makanan padat,” tandasnya.
Vimaladewi mengingatkan, apa yang dimakan anak harus sama dengan apa yang di makan oleh keluarga. Misalnya, kalau anak disuruh makan sayur-sayuran, tapi orang tuanya tidak pernah mencontohkan makan sayuran, makan anak tidak akan pernah mau makan sayuran, begitu pula sebaliknya.

Sumber : health.kompas.com