Stop “Bullying” pada Anak! Ini Konsekuensi Kesehatan Jangka Panjang yang Bisa Terjadi

DokterSehat.Com – Banyak sekali kampanye anti bullying sering kita temukan baik secara lisan maupun tulisan diberbagai macam media massa seperti di TV, media sosial, dan media cetak. Mulai banyak orang yang tergerak untuk menjadi aktivis mengkampanyekan stop bullying. Hal ini didasari karena memang efek yang buruk dari bullying itu sendiri.

doktersehat-anak-bully-sekolah

Bullying merupakan sikap penyiksaan atau pelecehan yang dilakukan seseorang atau kelompok secara berulang-ulang sehingga korban merasa terintimidasi. Jenis bullying dapat berupa fisik seperti memukul maupun verbal. Bullying dapat terjadi di lingkungan mana saja seperti di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan tetangga, bahkan dapat terjadi di dunia maya. Penelitian terbaru mengungkapkan bullying pada anak membawa dampak yang buruk jangka panjang.

Studi terbaru yang dilakukan di Finlandia seperti dikutip dari Medscape, dikemukakan bahwa korban bullying pada masa kanak-kanak merupakan faktor risiko terjadinya gangguan psikiatri pada masa dewasanya terutama depresi yang hingga dapat membutuhkan pengobatan.

Penelitian ini mengambil sampel anak-anak usia 8 tahun, mereka ditanya apakah menjadi korban bullying atau apakah mereka diganggu anak-anak lain, dan jika demikian ditanyakan pula seberapa sering mendapat perlakuan tersebut. Peneliti kemudian mengikuti perjalanan peserta penelitian tersebut apakah untuk dilihat apakkah diperlukan pengobatan gangguan kejiwaan pada saat usia anak tersebut mencapai usia 16-29 tahun. Tindak lanjut penelitian ini selesai pada akhir tahun 2009 silam.

Hasil penelitian tersebut diungkapkan bahwa setelah menyesuaikan dengan jenis kelamin, faktor keluarga dan adanya gejala psikiatri pada usia 8 tahun, peneliti menemukan hubungan gangguan psikiatri yang hingga membutuhkan pengobatan dengan frekuensi sering mendapatkan bullying. Misalnya, peserta yang sering di-bully memiliki risiko hampir dua kali lipat terdiagnosis gangguan psikiatri termasuk psikosis, kecemasan, dan depresi pada saat dilakukan follow-up dibandingkan dengan peserta yang jarang di-bully atau jarang melakukan bully. Dibandingkan dengan kelompok acuan, individu yang terlibat dalam bullying dan mereka yang terkena intimidasi memiliki risiko lebih dari dua kali lipat terdiagnosis gangguan pada saat dilakukan follow-up. Gangguan psikiatri tersebut dapat berupa depresi, kecemasan, dan lainnya dan dapat mengganggu aktivitas.

Baca Juga:  Apakah Anda Menderita Diebetes?

Kampanye stop bullying pada anak tidaklah cukup untuk mengatasi problem diatas. Diperlukan peran orangtua, guru, dan masyarakat untuk mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan bullying pada anak. Anak harus mulai diajarkan batasan-batasan yang termasuk dalam hal bercanda dan mana yang sudah sampai pada tahapan bullying. Peran semua pihak diperlukan mengingat efek buruk bullying baik jangka pendek maupun yang lebih kompleks adalah jangka panjang yang meningkatkan risiko terjadinya gangguan psikiatri pada usia dewasa yang dapat hingga memerlukan pengobatan.

Sumber: Medscape