Statin sebagai Terapi Tambahan Hipertensi

DokterSehat.Com – Statin merupakan golongan obat yang menjadi pilihan pertama pada kondisi dislipidemia. Dislipidemia adalah suatu kelainan metabolisme lipid (lemak) yang ditandai dengan adanya peningkatan atau penurunan satu atau lebih fraksi lipid dalam darah. Yang sering terjadi adalah peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan atau trigliserida, serta penurunan kadar kolesterol HDL. Penderita dislipidemia berisiko lebih tinggi untuk terjadinya aterosklerosis yang dapat menyebabkan stroke serta penyakit jantung koroner.

doktersehat-vitamin-nutrisi-komponen-organik-obat-ibu-hamil-kehamilan

Sebuah penelitian global menunjukkan bahwa konsumsi obat penurun tekanan darah yang dikombinasi dengan antikolesterol statin dapat menurunkan risiko serangan jantung dan stroke jangka panjang hingga 40 persen pada pasien dengan hipertensi dan berisiko sedang mengalami penyakit jantung.

Penelitian yang dinamai HOPE-3 ini dilakukan di beberapa pusat penelitian, seperti China, India, Amerika latin, Afrika, dan Kanada. 12.000 pasien dengan hipertensi diikutkan sebagai subjek. Kriteria hipertensi dalam penelitian ini adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih. Mereka terdiri dari wanita berusia lebih dari 60 tahun dan pria berusia lebih dari 55 tahun yang memiliki salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung, seperti obesitas dan merokok.

“Pasien risiko sedang dengan hipertensi mendapatkan hasil yang bermanfaat dari mengkonsumsi statin dan obat penurun tekanan darah,” demikian yang disampaikan oleh dr. Salim Yusuf dari bagian kardiologi McMaster University di Ontario, Kanada.  Pasien dengan tekanan sistolik normal atau rendah yang mengkonsumsi statin mengalami penurunan kejadian kardiovaskular hingga 25 persen. Hasil ini mendorong dokter untuk juga menambahkan statin pada terapi hipertensi bagi pasien yang sebelumnya tidak memiliki riwayat serangan jantung maupun stroke.

Namun, tantangan datang dari sebuah penelitian lain yang dilakukan di Amerika Serikat selama 5 tahun pada lebih dari 9.300 pasien. Dalam penelitian ini didapatkan kejadian efek samping yang lebih tinggi, termasuk gagal ginjal, pada pasien yang mendapatkan terapi agresif. Penelitian lebih lanjut dapat membantu membuktikan keefektifan statin dalam mencegah stroke dan serangan jantung pada pasien hipertensi baik yang pernah maupun belum pernah mengalami stroke dan serangan jantung sebelumnya.