Skrining yang Dibutuhkan Setiap Wanita (3) – Diabetes, HIV, Kanker Usus, dan Glaukoma

DokterSehat.Com – Pencegahan lebih baik daripada mengobati. Pemeriksaan dini dapat mencegah penyakit-penyakit seperti kanker, diabetes, dan osteoporosis jika dilakukan sangat awal, atau ketika itu mungkin dapat dilakukan penatalaksanaan dengan mudah ketika penyakit masih ringan. Tes skrining dapat mendeteksi penyakit meskipun belum memberikan gejala. Tes skrining tergantung pada usia, riwayat keluarga, riwayat kesehatan Anda, dan faktor risiko lainnya.

doktersehat-konsultasi-lupus-nyeri-lutut

Diabetes Tipe 2

Sepertiga warga Amerika dengan diabetes tidak menyadari dirinya terkena diabetes tipe 2. Diabetes dapat menyebabkan penyakit jantung atau penyakit ginjal, stroke, kebutaan karena kerusakan pembuluh darah retina, dan masalah serius lainnya. Anda dapat mengontrol diabetes dengan pola makan, olahraga, penurunan berat badan, dan pengobatan, khususnya jika Anda menemukan dini. Diabetes tipe 2 merupakan bentuk yang paling sering dari kencing manis. Diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis pada anak dan dewasa muda.

Skrining Diabetes

Anda mungkin perlu melakukan tes darah untuk mengetahui kadar gula Anda. Pemeriksaan kadar gula dapat dilakukan tanpa puasa (kadar gula sewaktu) dan dengan puasa minimal 8 jam (kadar gula puasa). Pemeriksaan kadar gula puasa dengan angka 100 – 125 merupakan tanda pre-diabetes; 126 atau lebih dapat menunjukkan suatu diabetes. Pemeriksaan lain meliputi tes A1C dan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Jika Anda sehat dan memiliki risiko normal, Anda perlu diskrining setiap 3 tahun dimulai dari usia 45 tahun. Konsultasikan dengan dokter tentang tes, lakukan lebih awal jika memang ada riwayat keluarga dengan diabetes.

Human Immunodeficiency Virus (HIV)

HIV merupakan virus yang menyebabkan AIDS. HIV menyebar melalui cairan tubuh atau darah dari orang yang terinfeksi, seperti penggunaan jarum suntik bersamaan, atau hubungan seks tidak aman. Wanita hamil dengan HIV dapat menularkan infeksi ke bayinya. Masih belum ada pengobatan atau vaksin untuk HIV, namun terapi dini dengan obat antiretroviral (ARV) dapat membantu sistem imun melawan virus ini.

Skrining HIV

Gejala HIV dapat tidak tampak selama bertahun-tahun. Cara satu-satunya untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi virus ini adalah dengan tes darah. Tes ELISA atau EIA dapat dilakukan untuk mencari antibodi terhadap HIV. Jika Anda mendapatkan hasil positif, Anda memerlukan tes kedua untuk mengkonfirmasi hasil. Namun, tetap saja Anda mampu mendapatkan hasil yang negatif sekalipun sebenarnya Anda terinfeksi HIV, maka penting untuk mengulang tes HIV ini. Setiap orang perlu mendapatkan tes HIV antara usia 13 – 64 tahun.

Baca Juga:  Manfaat Tak Terduga Dari Meminum Teh

Mencegah Penyebaran HIV

Kebanyakan orang yang terinfeksi HIV akan memberikan hasil positif setelah terkena virus selama kurang lebih 2 bulan. Namun pada kasus yang jarang, ada juga yang baru memberikan hasil positif setelah terinfeksi selama 6 bulan untuk menciptakan cukup antibodi HIV. Gunakan kondom selama berhubungan seks untuk mencegah tertularnya HIV dan penyakit menular seksual lainnya. Jika Anda memiliki HIV dan hamil, konsultasikan dengan dokter untuk mengurangi risiko penularan pada anak. Biasanya, ibu hamil yang telah mengkonsumsi ARV selama minimal 6 bulan cenderung tidak menularkannya kepada janin/bayinya.

Kanker kolorektal

Kanker kolorektal merupakan kaner kedua tersering yang menyebabkan kematian setelah kanker paru-paru. Kebanyakan kanker kolon berasal dari polip (massa abnormal) yang berkembang di bagian dalam usus besar. Polip dapat berupa kanker ataupun bukan kanker. Jika memang kanker, kanker akan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Mengambil polip sesegera mungkin sebelum berubah menjadi kanker, dapat mencegah kanker kolorektal secara keseluruhan.

Skrining kanker kolorektal

Prosedur yang disebut kolonokopi merupakan tes skirining yang umum dilakukan. Ketika Anda dalam kondisi sedasi (tertidur/terbius), dokter akan memasukkan tabung kecil fleksibel dengan kamera ke dalam usus besar Anda. Jika dokter menemukan polip, dokter dapat segera merencanakan operasi pengambilan polip. Tipe tes lainnya disebut sigmoidoskopi fleksibel, yang juga melihat ke bagian dalam dari kolon bagian bawah.  Skrining ini dilakukan mulai dari usia 50 tahun, ketika Anda berada dalam risiko.

Glaukoma

Glaukoma terjadi ketika terjadi peningkatan tekanan bola mata. Tanpa terapi, hal ini dapat merusak saraf optik (saraf pengelihatan) dan menyebabkan kebutaan. Namun, seringkali glaukoma tidak menyebabkan gejala apapun sampai akhirnya pengelihatan terganggu.

Skrining glaukoma

Seberapa sering Anda harus cek mata Anda, tergantung usia dan faktor risiko Anda. Faktor risiko tersebut antara lain, usia di atas 60 tahun, adanya cedera mata, penggunaan tetes mata mengandung steroid dalam jangka panjang, riwayat keluarga glaukoma. Orang tanpa faktor risiko atau gejala dari penyakit mata perlu diperiksa glaukoma dimulai dari usia 40 tahun.