Skoliosis – Pengertian, Penyebab, dan Klasifikasi

Skoliosis adalah kelengkungan lateral (ke arah samping) di garis vertikal tulang belakang yang biasanya lurus. Bila dilihat dari samping, tulang belakang menunjukkan lengkungan ke arah luar yang ringan di punggung atas dan menunjukkan tingkat kelengkungan ke dalam yang ringan di punggung bawah. Ketika seseorang dengan tulang belakang normal dilihat dari depan atau belakang, tulang belakang tampaknya lurus. Ketika seseorang dengan skoliosis dilihat dari depan atau belakang, tulang belakang tampaknya melengkung.

doktersehat-kelainan-tulang-kurva-skoliosis

Apa Penyebab Skoliosis?
Ada banyak jenis dan penyebab skoliosis, termasuk:

  • Skoliosis bawaan. Disebabkan oleh kelainan tulang saat lahir.
  • Skoliosis neuromuskular. Hasil dari otot atau saraf yang abnormal. Skoliosis ini sering terlihat pada orang dengan spina bifida (kondisi saraf tulang belakang yang berada di luar tulang) atau cerebral palsy (kelainan otak) atau pada mereka dengan berbagai kondisi yang disertai dengan kelumpuhan.
  • Skoliosis degeneratif. Ini mungkin akibat dari trauma (dari cedera atau sakit) yang menyebabkan hancurnya struktur tulang, akibat proses pembedahan besar sebelumnya, atau akibat osteoporosis (penipisan tulang).
  • Skoliosis Idiopatik. Jenis yang paling umum dari skoliosis, skoliosis idiopatik, tidak memiliki penyebab tertentu yang dapat diidentifikasikan. Ada banyak teori, tetapi belum ditemukan penyebab pastinya. Adabukti kuat bahwa skoliosis idiopatik diwariskan secara genetik.

Siapa yang Mendapatkan Skoliosis?
Sekitar 2% hingga 3% orang Amerika pada usia 16 tahun menderita skoliosis. Kurang dari 0,1% memiliki kurva tulang belakang berukuran lebih besar dari 40 derajat, yang merupakan titik di mana operasi menjadi pertimbangan. Secara keseluruhan, anak perempuan lebih mungkin akan terpengaruh dibandingkan anak laki-laki. Skoliosis idiopatik yang paling sering adalah pada kondisi remaja yang mempengaruhi mereka yang berusia 10 sampai 16 tahun.  Skoliosis idiopatik dapat berlanjut selama periode “percepatan pertumbuhan” pada remaja, tetapi biasanya tidak akan berkembang selama masa dewasa.