Khawatir Tak Bisa Masuk SMA Idaman, Siswi Ini Bunuh Diri

belajar_depresi_ngantuk_doktersehat_1
Photo Source: Flickr/Kevin Zollman

DokterSehat.Com– Kasus memilukan terjadi di Blitar, Jawa timur. Seorang siswi SMP Negeri 1 Blitar berinisial EP ditemukan tewas gantung diri di kamar kosnya pada Selasa, 29 Mei 2018 lalu. Orang tua korban pun bersedih melihat anaknya meregang nyawa dengan cara yang sangat memilukan ini.

Dilansir dari Inews, sebelum meninggal, EP sempat menulis surat wasiat bagi keluarganya. Gadis yang baru berusia 16 tahun ini mengaku khawatir tidak bisa masuk ke SMA idamannya di Kota Blitar hanya gara-gara sistem zonasi penerimaan peserta didik. Meskipun lokasi SMP tempat ia belajar ada di kota Blitar, sistem ini hanya menghitung tempat tinggal EP yang ada di Kabupaten Blitar.

Sejumlah rekan sekolah dan guru memang sempat diberitahu tentang keinginan besar EP untuk bisa masuk ke SMA di kota Blitar. Sayangnya, besar kemungkinan EP hanya akan diterima di sekolah lain yang ada di dekat rumahnya.

Yang cukup ironis adalah, EP dikenal luas sebagai siswa yang berprestasi. Beberapa kali EP mewakili sekolah untuk menjalani olimpiade matematika. EP juga beberapa kali mendapatkan gelar juara. Nilai rata-rata Ujian Nasionalnya juga hampir 9. Hanya saja, ada kemungkinan berbagai prestasi yang didapatkannya ini menjadi percuma karena terhalang adanya sistem zonasi untuk masuk ke sekolah yang diinginkannya.

Besar kemungkinan EP mengalami frustrasi dan depresi akibat dari hal ini. Hal ini juga terungkap dari surat wasiatnya yang menyebutkan bahwa EP seperti sudah menyerah mengejar impiannya.

Anak-anak yang masih berusia remaja memang rentan mengalami gangguan kejiwaan, termasuk bagi mereka yang terlihat berprestasi dan tidak memiliki masalah apapun. Khusus untuk kejadian yang dialami EP, kondisinya yang tinggal sendiri di kos-kosan membuatnya tidak mendapatkan perhatian orang tuanya secara langsung sehingga membuatnya seperti tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah.

Melihat adanya fakta ini, setiap orang tua sebaiknya memang selalu memberikan dukungan dan pengertian bagi anaknya agar tidak mudah mengalami masalah kejiwaan di usia yang masih labil.