Sindroma Reiter, Radang Sendi dan Tendon

DokterSehat.com – Sindroma Reiter merupakan peradangan sendi dan tendon yang menyertainya. Kondisi ini kerap disertai dengan peradangan pada konjungtiva mata dan selaput lendir seperti di mulut, penis, vagina, dan saluran kemih, serta muncul ruam-ruam yang khas.



Sindroma Reiter disebut artritis reaktif sebab peradangan sendi timbul sebagai reaksi terhadap infeksi yang berasal dari bagian tubuh lainnya selain sendi. Ada 2 jenis Sindroma Reiter, yaitu:

1. Terjadi setelah adanya infeksi saluran pencernaan seperti salmonelosis.

2. Terjadi dengan penyakit menular seksual seperti infeksi klamidia. Pria muda lebih sering mengalami kondisi ini.

Penyebab

Belum diketahui pasti penyebab munculnya Sindroma Reiter. Faktor genetik diduga memiliki pengaruh terhadap terjadinya penyakit yang kerap dialami pria yang berusia di bawah 40 tahun.

Gejala

Penyakit ini biasanya akan menunjukkan gejalanya dalam kurun waktu 7-14 hari setelah terinfeksi. Gejala awal yang sering ditunjukkan berupa peradangan uretra yakni saluran yang membawa urin dari kandung kemih keluar tubuh. Pada pria, peradangan ini mengakibatkan munculnya rasa nyeri dan penis mengeluarkan nanah. Kelenjar prostat bisa meradang dan nyeri.

Pada wanita gejala saluran kemih-kelamin biasanya lebih ringan, yakni berupa keputihan ringan atau nyeri saat berkemih. Selaput yang melapisi bola mata dan kelopak mata akan meradang dan menjadi merah serta membuat munculnya rasa gatal, seperti terbakar, atau mengeluarkan air mata yang berlebihan.

Peradangan dan nyeri sendi bisa ringan atau berat. Beberapa sendi akan terkena, terutama jari kaki, lutut, dan tumit. Pada kasus yang berat, peradangan dan nyeri bisa sampai ke tulang belakang.

Terkadang muncul ruam di kulit terutama di telapak tangan dan telapak kaki. Gejala lain yang ditunjukkan adalah adanya endapan kuning di bawah kuku jari tangan dan kaki.

Baca Juga:  Memperingati Hari Jantung Sedunia, Kita Bisa Melakukan Tes Darah Gratis di 15 Kota di Indonesia

Pada sebagian besar penderita, gejala awalnya akan menghilang dalam 3-4 bulan. Pada separuh penderita, artritis dan gejala lainnya muncul lagi setelah beberapa tahun. Bila gejalanya menetap atau sering kambuh, maka bisa terjadi kelainan bentuk pada sendi dan tulang belakang.

Pengobatan

Artritis biasanya diobati dengan obat anti-peradangan non-steroid. Bisa juga diberikan obat imunosupresan, seperti metotreksat atau sulfasalazin. Selain itu bisa juga disuntikkan langsung kortikosteroid ke dalam sendi yang meradang. Pengobatan luka di kulit dan konjungtivitis tidak perlu dilakukan, namun peradangan mata yang parah mungkin memerlukan salep atau tetes mata kortikosteroid.