Sindrom Hemolitik Uremik (SHU)

Doktersehat.com – Sindrom Hemolitik Uremik (SHU) adalah suatu kondisi yang dimana sel-sel darah merah mengalami kehancuran dini yang abnormal. Setelah proses ini dimulai, sel-sel darah merah yang rusak mulai menyumbat sistem penyaringan pada ginjal, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan ginjal yang mengancam jiwa yang berhubungan dengan SHU.



Sebagian besar kasus SHU berkembang pada anak-anak setelah beberapa hari diare infeksi dengan disebebakan oleh Escherichia coli (E. coli). Orang dewasa juga dapat mengembangkan SHU setelah infeksi E. coli, namun lebih sering penyebabnya tidak jelas atau bahkan tidak diketahui.

PENYEBAB

Beberapa hal dapat menyebabkan Sindrom Hemolitik Uremik (SHU), namun penyebab paling umum, terutama pada anak-anak adalah infeksi dengan jenis tertentu dari E. coli, biasanya strain yang dikenal sebagai O157: H7.

E. coli mengacu pada sekelompok bakteri yang biasanya ditemukan dalam usus manusia dan hewan yang sehat. Dari ratusan jenis E. coli, sebagian besar tidak berbahaya. Tetapi beberapa strain E. coli bertanggung jawab untuk infeksi bawaan makanan yang serius, termasuk yang dapat menyebabkan SHU.

Bakteri E. coli dapat Anda ditemukan dalam daging atau produk tertentu dan dari kolam renang atau danau yang terkontaminasi dengan kotoran.

Pada orang dewasa, sindrom ini lebih sering disebabkan oleh faktor-faktor lain, termasuk:

1. Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti kina, beberapa obat kemoterapi, obat immunosuppressant siklosporin, anti-platelet dan obat kontrasepsi oral
2. Kehamilan
3. Beberapa infeksi, seperti HIV / AIDS atau infeksi dengan bakteri pneumococcus

Namun, penyebab sindrom hemolitik uremik pada orang dewasa sering tidak diketahui.

GEJALA

Tanda dan gejala dari SHU mungkin termasuk:

1. Diare berdarah
2. Muntah
3. Sakit perut
4. Kelelahan dan lekas marah
5. Demam, biasanya tidak tinggi
6. Memar atau pendarahan dari hidung dan mulut
7. Penurunan kencing atau darah dalam urin
8. Pembengkakan wajah, tangan, kaki atau seluruh tubuh
9. Kebingungan

PENGOBATAN

Semua penderita SHU sebaiknya dirawat di rumah sakit. Pengobatan lazimnya bersifat suportif dan ditujukan untuk penanggulangan gagal ginjal akut, penyulit-penyulit yang timbul dan gangguan hamatologik yang terjadi.

Pengobatan suportif terdiri dari :

Terapi cairan dan elektrolit
Bayi atau anak dengan SHU sering mengalami dehidrasi oleh karena diare dan muntah. Penderita ini perlu mendapatkan terapi cairan dan elektrolit sesuai protokol yang ada. Jumlah cairan harus diawasi secara ketat untuk menghindari hidrasi. Bila tidak ada tanda dehidrasi jumlah cairan yang diberi, harus dibatasi yaitu IWL + OGL. Jenis cairan tergantung ada tidaknya oligouria, bila penderita mengalami oligouria komposisi cairan yang diberikan adalah larutan glukosa NaCl 3 banding 1, sedang bila penderita dalam keadaan anuria cairan yang diberi hanya Glukosa 10% melalui infus. Balans cairan harus diawasi, balans cairan yang baik bila berat badan turun 0,5 – 1 % / hari.

Koreksi elektrolit secara medis dilakukan bila terdapat gangguan elektrolit seperti hiponatremia, hiperkalemia, hipokalsemia, hiperfosfatemia, hiperurisemia dan asidosis metabolik. Bila gagal, terapi dialisis merupakan indikasi.

Tunjangan Nutrisi
Pemberian kalori yang adekuat dan asam amino esensial diperlukan untuk mengurangi katabolisme protein dan lemak untuk mencegah balans nitrogen negatif. Kebutuhan kalori minimal adalah sebanyak 400 kcl/m2/hari.

Transfusi darah
Bila proses hemolisis masih aktif dan hemoglobin turun dibawah 6 g/dl maka perlu diberikan transfusi PRC, transfusi rombosit dilakukan bila terdapat perdarahan aktif atau trombositopenia berat. Pemberian transfusi plama/ plasmafaresis menunjukkan hasil yang baik pada SHU D- yang berhubungan dengan faktor herediter atau SHU rekuren. Tetapi tidak dianjurkan diberikan untuk SHU paska pneumococcal yang disebabkan oleh neuraminidase sebab plasma normal mengandung antibodi yang menimbulkan terjadinya komplek antigen – antibodi TF yang dapat memperberat hemolisis.

Baca Juga:  Manfaat dan Teknik Pijat Payudara

Antibiotika
Diberikan bila SHU berhubungan dengan infeksi streptokokus pneumonia atau nosokomial. Pada SHU D+ yang berhubungan dengan diare, pemberian antibiotika masih kontroversial oleh karena antibiotik tidak mempengaruhi lama gejala dan tidak merubah resiko terhadap SHU. Oleh karena munculnya SHU diperantarai oleh shiga – like toksin, maka pemberian antibiotik tertentu secara teoritis tidak menyebabkan dinding bakteri lisis sehingga toksin yang lepas ke dalam lumen usus meningkat dan merupakan faktor resiko dalam memperberat proses penyakit.

Antikonvulsan
Kejang merupakan salah satu manifestasi gangguan SSP yang dapat dijumpai pada pasien SHU D-. Untuk mengatasinya dapat diberikan obat anti kejang yang lazim digunakan dan perlu dicari faktor resiko lain yang menjadi penyebab kejang seperti gangguan elektrolit serta dilakukan koreksi.

Dialisis ginjal

Terkadang dialisis diperlukan untuk menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah. Dialisis biasanya pengobatan sementara sampai ginjal mulai berfungsi secara memadai lagi.

KLASIFIKASI

SHU berdasarkan etiologinya diklasifikasikan ke dalam 2 kelompok :

1. SHU Klasik (SHU D+)
Pada jenis ini terdapat fase prodromal gastroenteritis akut dengan diare tanpa atau berdarah. Merupakan bentuk SHU yang paling sering dijumpai dan hampir 90 % SHU didahului dengan fase prodromal gastroenteritis akut. SHU D+ berkaitan dengan infeksi Shigella dysentriae yang menghasilkan toksin shiga atau E.coli serotype O157:H7 jenis STEC, VTEC atau EHEC yang menghasilkan verotoksin atau shiga – like toksin. Jenis ini biasanya mempunyai prognosis yang cukup baik dengan perbaikan fungsi ginjal dan biasanya jarang terjadi relaps.

2. SHU Atipikal (SHU D-)
Pada jenis ini tidak terdapat fase prodromal gastroenteritis akut dan dapat menyerang anak yang lebih besar, jenis ini jarang terjadi dan mempunyai pronosis yang lebih jelek. Beberapa etiologi yang berkaitan dengan SHU ada di bawah ini :

Etiologi SHU : Etiologi SHU D+ :
• Tipikal : E. Coli O157:H7 (penghasil VT-1, VT-2)
• Shigella dysentriae (penghasil toksin shiga)
• Agen infeksi lain penyebab diare (Tabel II)
• Idiopatik

Etiologi SHU D- :
• Infeksi Streptokokus pneumoniae
• Agen infeksi lain
• Faktor keturunan : Autosomal dominan dan Autosomal resesif
• Kehamilan
• Obat : Cyclosporin A, kontrasepsi oral, kemoterapi, mitomycin
• Post transplantasi
• Keganasan
• Idiopatik

Agen infeksi lain :
• Salmonella typhii

• Campylobacter jejuni
• Yersinia sp

• Pseudomonas sp
• Portillo, virus Coxsachie, virus Influenza, virus Epstein Barr, Rota virus, HIV

• Aeromonas hydrophila, Microtabiotes

Pemulihan
Perbaikan gejala SHU ditandai dengan membaiknya fungsi ginjal dan gangguan hematologi pada fase akut SHU. Pada kebanyakan kasus LFG menjadi normal kembali antara 7 sampai 13 bulan dan rata rata 3 bulan. Kadar hemoglobin menjadi normal kembai setelah 3 bulan dari saat munculnya penyakit. Trombositopeni dan gangguan faktor pembekuan lain tidak tampak lagi pada masa pemulihan. Gejala sisa yang muncul berhubungan dengan derajat penyakit. Gejala sisa berupa kelainan urinalisis yang menetap., hipertensi persisten, gagal ginjal kronik dan sekuele neurologik.

Penanganan SHU Penegakan Diagnosis
• Pemerikaan klinis yang tepat
• Pemeriksaan laboratorium yang tepat
• Eksklusi penyebab lain

Penanganan Insufisiensi ginjal
• Restriksi cairan (IWL + OGL)
• Balans cairan ketat
• Terapi konservatif
• Hemodialisa bila perlu

Penganan kelainan Hematologi
• Pertahankan Hb > 8 g/dl
• Transfusi PRC atau trombosit bila perlu
• Transfusi plasma / plasmafaresis pada SHU D- yang berhubungan dengan faktor herediter.
Penanganan nutrisi
• Pemberian kalori yang adekuat

Dari berbagai sumber