Sindrom Aspirasi Mekonium

Dokter Sehat – Sindroma Aspirasi Mekoniuim terjadi jika janin menghirup mekonium yang tercampur dengan cairan ketuban, baik ketika bayi masih berada di dalam rahim maupun sesaat setelah dilahirkan. Mekonium adalah tinja janin yang pertama. Merupakan bahan yang kental, lengket dan berwarna hitam kehijauan, mulai bisa terlihat pada kehamilan 34 minggu. Pada bayi prematur yang memiliki sedikit cairan ketuban, sindroma ini sangat parah. Mekonium yang terhirup lebih kental sehingga penyumbatan saluran udara lebih berat.

15

Penyebab

Sindrom atau kumpulan gejala ini lebih umum terjadi pada bayi postmatur, yaitu mereka yang dilahirkan melewati 42 minggu usia kehamilan. Pada bayi tersebut, bayi yang stres karena kekurangan oksigen mengeluarkan mekonium. Mekonium adalah feses berwarna hijau gelap yang steril, yang diproduksi dalam usus sebelum kelahiran. Dalam kondisi normal, mekonium baru dikeluarkan setelah lahir ketika bayi mulai menyusui. Namun, sebagai respon stres bayi dapat mengeluarkan mekonium ke dalam cairan ketuban. Stres juga dapat menyebabkan janin mengeluarkan refleks terkejut yang mengambil napas kuat, sehingga mekonium terhirup ke dalam paru-paru.

Setelah kelahiran, mekonium yang terhirup ini dapat menghalangi saluran udara dan menyebabkan paru-paru tidak dapat mengembang. Saluran udara bisa tersumbat sebagian atau seluruhnya. Air ketuban dan mekonium juga bisa menumpuk dalam rongga dada di sekitar paru-paru (pneumotoraks), yang dapat menyebabkan radang paru-paru (pneumonitis) dan meningkatkan risiko infeksi paru-paru dan hipertensi pulmonar persisten (persistent pulmonary hypertension of the newborn atau PPHN).

Sindrom aspirasi mekonium pada bayi baru lahir postmatur dapat berakibat parah karena mereka memiliki volume cairan ketuban yang lebih kecil sehingga mekonium lebih terkonsentrasi dalam cairan ketuban.

Gejalanya berupa :

1.Cairan ketuban yang berwarna kehijauan atau jelas terlihat adanya mekonium di dalam cairan ketuban

2.Kulit bayi tampak kehijauan (terjadi jika mekonium telah dikeluarkan lama sebelum persalinan)

3.Ketika lahir, bayi tampak lemas atau lemah

4.Kulit bayi tampak kebiruan (sianosis)

5.Takipneu (laju pernafasan yang cepat)

Baca Juga:  Jenis dan Penyebab Perdarahan Saat hamil

6.Apneu (henti nafas)

7.Tampak tanda-tanda post-maturitas (berat badannya kurang, kulitnya mengelupas).

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan keadaan berikut :

1.Sebelum bayi lahir, alat pemantau janin menunjukkan bardikardia (denyut jantung yang lambat)

2.Ketika lahir, cairan ketuban mengandung mekonium (berwarna kehijauan)

3.Bayi memiliki nilai Apgar yang rendah.

4.Dengan bantuan laringoskopi, pita suara tampak berwana kehijauan.

5.Dengan bantuan stetoskop, terdengar suara pernafasan yang abnormal (ronki kasar).

6.Pemeriksaan lainnya yang biasanya dilakukan :

•Analisa gas darah (menunjukkan kadar pH yang rendah, penurunan pO2 dan peningkatan pCO2)

•Rontgen dada (menunjukkan adanya bercakan di paru-paru).

Perawatan

Segera setelah kelahiran, jika bayi yang baru lahir tertutupi oleh mekonium, lemas dan tidak bernapas, dokter segera menghisap mulut, hidung, dan tenggorokan untuk menyedot mekonium yang ada di saluran pernapasan. Dokter kemudian menempatkan tabung pernapasan ke dalam tenggorokan (trakea) untuk menyedot sisa mekonium yang masih ada.

Bayi dengan sindrom aspirasi mekonium biasanya membutuhkan tambahan oksigen (resutisasi) dan mungkin juga bantuan pernapasan dengan ventilator. Bayi yang ditempatkan pada ventilator harus dipantau dengan seksama kalau-kalau mengalami komplikasi serius, seperti infeksi paru-paru atau hipertensi pulmonal persisten. Pemberian antibiotik mungkin diperlukan bila ada risiko infeksi.

Kebanyakan bayi baru lahir dengan sindrom aspirasi mekonium bertahan hidup. Namun, jika gangguannya berat atau penanganannya terlambat maka dapat menyebabkan kematian.

Pengobatan

1.Segera setelah kepala bayi lahir, dilakukan pengisapan lendir dari mulut bayi.

2.Jika mekoniumnya kental dan terjadi gawat janin, dimasukkan sebuah selang ke dalam trakea bayi dan dilakukan pengisapan lendir. Prosedur ini dilakukan secara berulang sampai di dalam lendir bayi tidak lagi terdapat mekonium.

3.Jika tidak ada tanda-tanda gawat janin dan bayinya aktif serta kulitnya berwarna kehijauan, beberapa ahli menganjurkan untuk tidak melakukan pengisapan trakea yang terlalu dalam karena khawatir akan terjadi pneumonia aspirasi.

4.Jika mekoniumnya agak kental, kadang digunakan larutan garam untuk mencuci saluran udara.
5. Setelah lahir, bayi dimonitor secara ketat.