Sikap terhadap Kegawat Daruratan Kecelakaan Lalu Lintas

DokterSehat.com – Kecelakaan Lalu lintas dilaporkan menjadi penyebab kematian ke-3 di indonesia setelah penyakit jantung koroner. Berdasarkan data dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di tahun 2010 jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 31.186 jiwa. Rata-rata sebanyak 84 orang meninggal setiap harinya atau antara tiga hingga empat orang setiap jamnya. Sedangkan data menurut WHO setiap tahunnya terdapat 1,3 juta jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Negara berkembang seperti salah satunya Indonesia merupakan tempat dimana kejadian KLL ini sering terjadi. Dari angka kejadiannya sendiri, kematian langsung di tempat kejadian lebih kecil dari 30 % sedangkan sisanya masih dapat diusahakan tindakan medik terhadap korban.



Pada saat terjadinya kecelakaan (trauma) sendiri kita, terdapat beberapa langkah yang seyogyanya dilakukan. Hal ini terdiri dari bagian yang memerlukan tim ahli (tim trauma) yang dalam hal ini di UGD RS dan bagian lainnya adalah bagian Pra ( sebelum) RS yang dapat dilakukan oleh orang-orang/ keluarga di daerah sekitar kejadian.

Apa saja tindakan yang dapat dilakukan pada saat Pra RS tersebut?

Pada saat keadaan Pra RS titik berat diberikan pada penjagaan airway (jalan nafas), kontrol pendarahan, imobilisasi penderita dan segera bawa penderita ke RS terdekat.

Penjagaan airway disini maksudnya adalah mencegah terjadinya penyumbatan jalan nafas. Penyumbatan jalan nafas ini dapat disebabkan karena darah, air liur ataupun makanan yang keluar dari lambung. Semua hal tersebut dapat tertahan di mulut, masuk ke jalan nafas dan akhirnya menyebabkan penderita tidak bisa bernafas. Oleh karena itu usahakan agar pada mulut tidak terdapat sumbatan tersebut. Namun prosedur ini tidak boleh membuat leher mengalami gerakan terangkat terlalu banyak karena pada keadaan patah tulang leher berbahaya bila bagian leher banyak bergerak.

Baca Juga:  Jika Dibiarkan, Wasir Bisa Menjadi Sangat Berbahaya

Kontrol perdarahan. Misal terdapat luka terbuka berdarah, hal yang perlu dilakukan adalah segeralah melakukan tindakan tampon ( menekan perdarahan aktif dengan gulungan kain). Hal ini untuk mencegah darah terus mengalir dan menyebabkan kejadian syok hipolvolemia (kehabisan darah) pada pasien. Penekanan dengan ban pinggang pada daerah sebelum perdarahan tidak disarankan dalam hal ini karena dapat menimbulkan kematian jaringan bagian ujung.

Imobilisasi penderita. Jangan terlalu banyak melakukan gerakan kepada penderita karena pada kasus patah tulang (terutama leher), terlalu banyak melakukan gerakan yang tidak tepat akan memperberat keadaan pasien.

Selain melakukan 3 hal di atas, yang penting dilakukan juga adalah mengumpulkan keterangan yang nanti dibutuhkan di RS, diantaranya waktu kejadian, sebab kejadian, mekanisme kejadian (termasuk arah benturan) dapat menerangkan jenis dan berat perlukaan, dan juga riwayat penyakit yang pernah dialami penderita. Bila terdapat darah di sekitar penderita perhatikan kurang lebih berapa banyak yang telah keluar, termasuk keadaan lain yang dialami penderita seperti pingsan berapa lama lalu berapa lama sadar kembali (terutama pada cedera kepala), apakah mengalami muntah, dll. Panggilah ambulance sesegera mungkin karena tindakan live saving harus cepat dan dilakukan oleh ahlinya.

Ditulis oleh dr. Sukinto
Kontribusi oleh dr. Nellyn Angela