Sering Memeluk Bayi Membuatnya Tumbuh Menjadi Anak yang Manja?

DokterSehat.Com – Cukup banyak orang tua yang menyebutkan bahwa ada baiknya bayi tidak mudah dipeluk atau digendong setiap kali menangis. Jika hal ini dilakukan, maka anak akan cenderung tumbuh menjadi anak yang manja dan terlalu banyak bergantung pada orang tuanya. Apakah hal ini memang benar adanya?

doktersehat-lahir-bayi-ibu

Pakar kesehatan dari University of Notre Dame’s Department of Psychology bernama Prof. Darcia Narvaez baru-baru ini melakukan sebuah penelitian yang justru menunjukkan fakta sebaliknya dari anggapan para orang tua ini. Dalam penelitian tersebut, diketahui bahwa bayi yang kerap dipeluk justru akan tumbuh menjadi anak yang lebih sehat, lebih berbahagia, tidak mudah terkena depresi, memiliki sifat dan empati yang baik, serta cenderung lebih produktif. Sebaliknya, jika kita kerap membiarkan mereka terus menangis dan tak kunjung memeluknya ternyata justru bisa mengganggu tumbuh kembangnya.

Menurut Prof. Darcia, yang dilakukan atau diberikan orang tuanya pada bulan-bulan dan tahun pertama kehidupan bayi bisa berpengaruh besar bagi perkembangan otak dan bahkan berlaku seumur hidupnya. Dengan memperbanyak sentuhan, gendongan, atau bahkan pelukan pada bayi, maka bayi akan merasa lebih tenang. Sistem yang ada dalam tubuhnya pun akan berjalan dengan baik sehingga bisa membuat perkembangan di dalam tubuhnya menjadi maksimal. Hal ini tentu akan mendukung mereka menjadi manusia yang baik secara fisik dan mental.

Hal yang berbeda berlaku pada bayi yang cenderung jarang dipeluk atau kerap menangis yang menandakan bahwa sistem perkembangan tubuhnya kerap terkena stress. Jika hal ini terjadi, maka mereka akan tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya sehingga sulit untuk ditenangkan. Tak hanya itu, mereka juga akan cenderung akan tumbuh menjadi orang yang sulit menahan emosi atau amarah andai ada masalah yang datang.

Baca Juga:  Ini Dia Cara Paling Efektif Untuk Menenangkan Bayi yang Sedang Menangis

Penelitian yang dilakukan dengan melibatkan 600 orang dewasa ini direncanakan akan dipublikasikan hasilnya pada jurnal berjudul Applied Development Science.