Sering Berubah Mood? Bisa Jadi Gangguan Jiwa Bipolar

Doktersehat.com Bipolar merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Penderita bipolar biasanya ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangan ekstrim. Penderita bisa saja berubah menjadi sedih padahal sebelumnya merasa bahagia. Ada tiga episode yang dialami penderita bipolar, yaitu mania, depresi dan campuran.



Saat mengalami episode mania, penderita merasakan sensasi bahagia, optimis berlebihan, bicara cepat, cerewet tak terkendali dan sulit diinterupsi. Tak hanya itu, episode mania juga ditandai dengan tindakan yang berbahaya tanpa perhitungan matang. Aktivitas psikomotor dan dorongan seksual juga meningkat. Ada loncatan pikiran yang seakan berlomba serta kemampuan kognitif yang cenderung menurun sehingga sulit mengambil keputusan. Karena penderita bipolar sering bertindak agresif, melukai diri dan orang-orang di sekelilingnya. Sebagian besar penderita yang mengalami episode mania akut kemudian perlu dirawat di RS.

Saat mengalami episode depresi, ada rasa sunyi, hampa dan muncul keinginan bunuh diri. Seringkali penderita jadi tidak rapi penampilannya, kurang peduli kebersihan, berbicara lambat, hampir tak punya inisiatif dan tak lagi berminat pada sesuatu yang tadinya disukai. Episode depresi seringkali mengakibatkan gangguan tidur seperti insomnia ataupun rasa mengantuk yang berlebihan. Episode sedih ini dialami hampir setiap hari minimal selama 2 minggu sehingga penderita perlu dirujuk ke dokter atau psikiater.

Pada episode campuran, penderita hampir setiap hari mengalami episode bahagia dan sedih secara bergantian. Hal ini berlangsung minimal selama 1 minggu.

Penyebab

Penyebab gangguan ini, tidak diketahui secara pasti. Faktor genetika, dan faktor psikososial. Para peneliti pun mengatakan bahwa terjadi disregulasi heterogen dari neurotransmitter atau zat kimia di otak.

Gangguan jiwa bipolar adalah penyakit gangguan jiwa yang bukan disebabkan tekanan psikologis, melainkan karena terjadinya gangguan keseimbangan pada otak. Bipolar terjadi secara biologis berupa gangguan di neurotransmitter otak yang berfungsi mengatur keseimbangan.

Faktor genetika dinilai melalui suatu mekanisme gen yang kompleks, sedangkan peristiwa-peristiwa kehidupan dan stres lingkungan merupakan faktor psikososial yang sering mendahului episode pertama dari gangguan bipolar tersebut.

Diagnosis

Sebelum melakukan penanganan terhadap gangguan bipolar, biasanya terlebih dahulu dilakukan diagnosa dengan memperhatikan secara seksama gejala, tingkat ketakutan, angka waktu, dan frekuensi. Dan gejala yang paling mudah untuk dikenali adalah gejala peralihan mood yang tinggi (dari yang tinggi ke rendah) yang tidak berpola.

Penanganan Bipolar

Penyakit bipolar bisa disembuhkan dengan menggunakan obat dan terapi. Bipolar bisa sembuh melalui farmakoterapi dan psikoterapi. Kedua penyembuhan tersebut juga harus bersinergi atau tidak cukup hanya diobati, tetapi juga harus ada terapi.

Gangguan bipolar ini merupakan gangguan jangka panjang yang membutuhkan penanganan komprehensif. Mereka yang memiliki empat atau lebih perubahan mood dalam setahun lebih sulit untuk ditangani.

Baca Juga:  Cara Kendalikan Berat Badan Saat Hamil

Seorang pasien yang mengalami gangguan bipolar bisa sembuh. Dalam empat fase itu pasien bisa menjalankan terapi. Tapi jika tak berhasil atau mebahayakan, diperlukan penanganan khusus di rumah sakit khusus atau tempat rehabilitasi mental. Biasanya psikoterapi berupa terapi perilaku-kognitif menjadi pilihan.

Sudah lebih dari 50 tahun lithium digunakan sebagai terapi gangguan bipolar. Efektivitasnya telah terbukti pada 60-80 persen pasien. Terapi ini bisa menekan angka kematian karena bunuh diri dan ongkos perawatan.

Farmakoterapi adalah pemberian obat-obatan jenis mood stabilizer ditambah obat-obatan gol antipsikotik sesuai dengan gambaran klinis yang ditunjukkan oleh penderita tersebut. Antipsikotik lebih baik daripada lithium pada sebagian penderita gangguan bipolar.

Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak merencanakan pemberian antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama atau golongan tipikal karena dapat menimbulkan beberapa efek samping. Penderita harus kontrol secara teratur, minum obat secara teratur, dan kemampuan mengenali gejala-gejala merupakan kunci utama pencegahannya.

Penderita Bipolar Lebih Kreatif

Hasil studi sebelumnya mengungkapkan bahwa keluarga yang punya riwayat gangguan bipolar dan schizophrenia cenderung melahirkan banyak seniman dan ilmuwan.

Dengan menggunakan data registrasi kesehatan penduduk Swedia yang berisi rekam medis 1,2 juta pasien dan keluarganya selama 40 tahun, peneliti menemukan bahwa gangguan mental tertentu, terutama gangguan bipolar memang lebih banyak terjadi pada seniman dan ilmuwan seperti penari, fotografer hingga peneliti dan penulis buku.

Bahkan secara khusus peneliti dapat memastikan bahwa penulis memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk didiagnosis mengidap schizophrenia, depresi, kecemasan dan penyalahgunaan obat-obatan. Tak hanya itu, penulis juga diklaim 50 persen lebih cenderung melakukan tindakan bunuh diri ketimbang orang biasa.

Parahnya lagi, kondisi ini menurun atau menular pada keluarganya. Satu orang kreatif dalam suatu keluarga bisa menyebabkan anggota keluarga lainnya harus menjalani pengobatan karena mengidap schizophrenia, gangguan bipolar, anoreksia dan autisme.

Dengan mempelajari 1,2 juta pasien, termasuk pasien rawat inap atau rawat jalan, para peneliti menemukan bahwa seniman, ilmuwan, serta profesi yang membutuhkan kreativitas umumnya berasal dari keluarga yang punya riwayat gangguan bipolar, schizophrenia, depresi, kecemasan, autisme, anoreksia, bunuh diri, ADHD, serta kecanduan alkohol dan narkotika.

Hasil penelitian juga menegaskan bahwa gangguan bipolar lebih banyak diderita oleh mereka yang berkecimpung di dunia kreatif seperti penulis, penari, atau fotografer. Para penulis bahkan punya kaitan yang spesifik dengan gangguan psikiatri dibanding pada populasi umum. Mereka juga berpotensi lebih besar bunuh diri.

Dari berbagai sumber