informasi kesehatan
DokterSehat.com telah dipercaya lebih dari 6 tahun sebagai Informasi Kesehatan, tips kesehatan
dan konsultasi online segala macam jenis penyakit, kanker, seksualitas dan kesehatan keluarga.


                     

Sering Bercermin Berjam-jam? Bisa Jadi Terkena Body Dysmorphic Disorder

Sering Bercermin Berjam-jam? Bisa Jadi Terkena Body Dysmorphic Disorder

Doktersehat.com – Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah jenis penyakit mental kronis dimana penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya dari cacat sedikit pun, meskipun cacat tersebut hanya minor atau hanya bayangannya saja. Penderita BDD akan sangat terobsesi terhadap penampilan dan citra tubuh. Body dysmorphic disorder juga dikenal sebagai dysmorphophobia atau rasa takut memiliki suatu kelainan.

Orang yang mengalami BDD tidak hanya bisa merasa tertekan tetapi bahkan bisa gagal dalam menjalankan aktivitas sehari-hari baik itu bekerja, belajar, maupun aktivitas lainnya.

Penderita BDD sering melakukan berbagai hal yang berlebihan hanya untuk mengkamuflase kekurangannya. Misalnya, mereka bisa berdiri berjam-jam di depan cermin atau memakai riasan wajah sebanyak-banyaknya untuk membuat diri mereka merasa lebih baik. Namun, bukannya merasa lebih baik, para penderita BDD bahkan akan semakin merasa cemas karena terus memperhatikan kekurangan tersebut.

Selain itu, mereka juga tidak hanya mengkhawatirkan satu bagian tubuh saja, misalnya mata, tetapi juga mengkhawatirkan bagian tubuh lain yang mereka rasa kurang sempurna seperti hidung, mulut, lengan, ukuran payudara, hingga ukuran kelamin.

Menurut Dr. Katherine Phillips, BDD pada umumnya akan mulai kelihatan sejak seseorang (baik pria maupun wanita) memasuki masa remaja. Bahkan bisa juga sudah ada sejak kecil tetapi belum terdeteksi. Pada masa remaja itulah, seseorang akan semakin memperhatikan perubahan yang terjadi pada dirinya semisal ukuran dan bentuk tubuh.

Wajar saja bila seseorang memperhatikan penampilannya. Akan tetapi, pada orang normal, kebiasaan ini akan memudar seiring dengan berjalannya waktu dan dengan pembiasaan-pembiasaan dengan bentuk tubuh yang baru.

Ciri-Ciri Body Dysmorphic Disorder

Tidak semua pemerhati penampilan dapat kita golongkan sebagai penderita BDD. Ini adalah beberapa karateristik dari penderita BDD.

1. Mengalami depresi. Bahkan kemungkinan terburuk adalah mereka bisa bunuh diri.

2. Menghabiskan 1-5 jam setiap harinya hanya untuk mengurus penampilannya. Hal ini sering dilakukan karena penderita BDD takut dianggap cacat oleh orang lain.

3. Menghindari keramaian dan penurunan fungsi sosial. Penderita BDD melakukan hal ini karena takut diperhatikan kekurangannya oleh orang lain. Mereka juga akan mengalami kesulitan dengan teman-teman, keluarga, bahkan pasangannya sendiri. Menurut hasil penelitian penderita BDD mengalami penurunan kinerja hampir dalam semua aspek kehidupan. Ini akibat dari pemikiran takut dianggap cacat oleh orang lain.

4. Punya kepercayaan diri yang kurang serta konsep diri yang negatif. Bahkan mereka bisa merasa sangat tidak nyaman saat berada di tengah-tengah komunitas karena takut dijauhi, diabaikan, atau tidak diperhatikan sama sekali. Ketakutan ini menyebabkan penderita BDD memiliki banyak sekali ‘ritual’ seperti bercermin berkali-kali, menggunakan rias wajah berkali-kali (mengoles dan menghapusnya, kemudian mengolesnya kembali), melakukan konsultasi ke berbagai dokter kecantikan, melakukan operasi plastik atau penyuntikkan silikon, dan berbagai ‘ritual’ lainnya.

Penanggulangan Body Dysmorphic Disorder

Jika kita bertemu atau behadapan langsung dengan penderita BDD, kita tidak perlu menjauhi mereka atau menaruh perhatian terhadap cara mereka menanggulangi masalah tersebut. Ada beberapa cara yang masih bisa kita ambil untuk menangani penderita BDD.

1. Obat-obatan. Obat yang bisa kita pergunakan adalah SSRs atau Selective Serotonin-Reuptake Inhibitors. Obat ini bisa digunakan untuk menangani depresi yang biasa dialami oleh penderita BDD. Namun, seperti kebanyakan obat lainnya, SSRs pun memiliki efek samping apabila terus menerus dikonsumsi dalam jangka waktu lama.

2. Psikoterapi. Ada dua terapi yang bisa dilakukan terhadap penderita BDD, yaitu Cognitive-Behavioral Therapy dan Cognitive-Rational Therapy. Kedua terapi ini adalah pilihan yang sangat tepat apabila seseorang ingin menanamkan pola pikir positif dan membuat penderita BDD merasa lebih percaya diri dengan dirinya.

3. Pembimbingan. Seorang penderita BDD bisa dibimbing dan dilatih untuk membangun strategi dan jalan keluar dalam mengatasi pikiran-pikiran negatif yang mengganggu konsentrasi. Hal ini juga meningkatkan pengendalian diri terhadap tindakan kompulsifnya.

4. Dukungan keluarga. Tindakan terakhir ini bisa jadi merupakan ‘senjata’ paling ampuh dalam menangani kepercayaan diri penderita BDD. Akan lebih baik jika keluarga membantu mereka dalam mengungkapkan perasaan-perasaan stress, depresi, frustasi dan yang lainnya untuk menjaga terjadinya frustasi yang semakin besar lagi.

Dari berbagai sumber

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Sering Bercermin Berjam-jam? Bisa Jadi Terkena Body Dysmorphic Disorder, 10.0 out of 10 based on 1 rating
pf button both Sering Bercermin Berjam jam? Bisa Jadi Terkena Body Dysmorphic Disorder
                     

10 Responses to “Sering Bercermin Berjam-jam? Bisa Jadi Terkena Body Dysmorphic Disorder”

  1. agust says:

    ibu atau pa dokter saya mau nanya masalah penyakit spilis.kan saya punya masalah di bagian kelamin saya tapi di ujung y yang bawah.dekat ada semacam kaya bisul tapi udah luka.terus bawahanya gatal.kalau punya barang saya bangun tapi mengeluarkan nanah.apa benar itu penyakit spilis dokter

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    • dr. Vanny Bernadus says:

      Mohon maaf sebelumnya, pertanyaan yg anda ajukan tidak sesuai dengan tema artikel ini. Sebaiknya anda mengajukan pertanyaan pada artikel mengenai sipilis atau penyakit menular sexual.
      Yang ingin saya tanyakan sebelumnya, apakah anda sering berganti2 pasangan sexual? Bila ya, kemungkinan anda terkena penyakit menular sexual. Bila bernanah pada ujung lubang penus, kemungkinannya ialah gonorrhea. Namun agar Lebih pasti, diperlukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Oleh karena itu, sebaiknya anda periksakan ke dokter agar dapat diterapi segera.
      Hindari hubungan sex selama pengobatan karena dapat menularkan pasangan anda. Pasangan anda pun harus berobat agar tidak terjadi penularan. Trims :)

      Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

  2. agust says:

    @agust@agust@agust@agust

    Originally Posted By agustibu atau pa dokter saya mau nanya masalah penyakit spilis.kan saya punya masalah di bagian kelamin saya tapi di ujung y yang bawah.dekat ada semacam kaya bisul tapi udah luka.terus bawahanya gatal.kalau punya barang saya bangun tapi mengeluarkan nanah.apa benar itu penyakit spilis dokter

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

  3. berbahaya …

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

  4. umhy says:

    aduuuuuhhhhhh ini mah saya bgd dok :’( smpe aku pernah dibilangin sm org lain klo sy ini krisis PD dan masalah cermin, mngkin stiap saat aku bercermin krn sking takut’a terlihat aneh didpn org bnyk dan ini sbner’a membuat saya mnjadi capek sendiri dan serasa ingin yg nama’a ANTI CERMIN :’(

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    • dr. Vanny Bernadus says:

      Salam sejahter umhy,
      Mungkin ini merupakan kebiasaan yg selalu anda lakukan, kurangi kebiasaan ini, anda masih memiliki tilikan yang baik dengan menyadari keadaan anda yang menyerupai apa yg DIsebutkan di artikel diatas Dan memiliki keinginan untuk tidak jadi seperti itu.
      Lawan keinginan untuk selalu bercermin, jangan bawa cermin bila anda bepergian. Tanamkan dalam diri anda bahwa anda cantik dalam kondisi apapun. Anda pasti dapat melakukannya :)
      Semoga bermanfaat. Trims :)

      Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

  5. umhy says:

    iya dok, itu udh sering aku coba buat gk ngaca tp keinginan untuk ngaca itu slalu ada karena semenjak aku berobat jerawat ke salah satu dokter, jerawat aku alhmdulillah udh mulai ngempes tp kulit wajah aku jdi agak gelap gtu dan keliatan kusem klo udh bbrpa jam beraktivitas wlpun aktivitasnya cuma sekolah doang. ada saran gk dok gmna cara’a buat mutihin wajah kmbli? yg pasti’a dgn aman dan ampuh. mksh ya dok hatas reply’a :)

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    • dr. Vanny Bernadus says:

      Caranya cuci muka setelah pulang sekolah dengan air bersih atau dengan pembersih wajah, banyak minum air putih, Dan makan buah. Gunakan payung/ topi bila harus Berjalan di bawah dinar matahari.
      Jangan gunakan krim pemutih sembarangan terutama yg dijual bebas karena bila tidak cocok, malah dapat merusak wajah. Warna kulit kita ditentukan oleh pigment yg Ada di kulit, bila pigment coklat maka kulit berwarna coklat. Bila pigment putih, maka kulit Akan putih. Dan tidak mudah untuk merubah warna pigment.
      Trims

      Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

  6. julia says:

    hallo dokter,
    dokter,saya saat ini sdg berhubungan dengan laki2 yg (mungkin) memiliki gejala BDD.dia kerap kali bercermin berjam-jam,dan pd moment2 tertentu dia tiba2 down karena merasa tidak percaya diri dengan kondisi fisik’y yg kurang sempurna (untuk dia) dan dia selalu merasa dia sudah tua di umur’y yg ke 44.dan dia berencana bila nanti dia sdh mempunyai uang yg cukup,dia akan melakukan plastic surgery di bagian wajah,lutut,mata,dll.
    saya baru berhubungan dia slm 6bulan,tp saya melihat dia typikal org yg super introvert..dia tdk mau sosialisasi,dia lbh senang di rumah dan hny melakukan pekerjaan’y..apa smua ini adalah semata2 efek dr BDD.bgmn cr kami membantu’y,dok?krn dia bnr2 tertutup sekali pd semua org,jd kami kesulitan untuk bs sharing dgn dia

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    • dr. Vanny Bernadus says:

      Salam Sejahtera,
      Bila demikian, apakah dia Sadar Dan mengetahui Kan kondisi dirinya Dan ingin memperbaikinya? Memang tipe orang betbeda2. Dan kita tidak bisa memaksakan diri seseorang untuk berubah. Bila memang dia tipe introvert sejak dilahirkan, memang itu bawaannya. Tp bila berubah menjadi introvert karena sesuatu Hal, penyebabnya ini yg harus dikoreksi. Ajak orang terdekatnya untuk berbicara padanya. Minta bantuan teman yg paling dekat dimana biasanya da mencurahkan perasaan. Bila perlu ajk untuk konsul dengan psikiater. Trims

      Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0


Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>