Seputar Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH/ ADHD)

DokterSehat.Com – GPPH atau dalam bahasa Inggris disebut ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) merupakan kelainan perkembangan anak yang paling banyak ditemukan. Anak dengan GPPH memiliki masalah dalam memusatkan perhatian, mengendalikan perilaku impulsif (bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu), atau terlalu aktif.

3502409281_0a2c26b1d8_b

Tanda dan gejala

Merupakan hal yang wajar bagi seorang anak bila kesulitan memusatkan perhatian atau menjaga sikapnya pada saat-saat tertentu. Namun, anak dengan GPPH tidak mengalami gejala seperti itu saja. Gejala yang dialami oleh anak dengan GPPH terjadi secara terus-menerus dan menimbulkan gangguan di sekolah, di rumah, atau pada saat bermain dengan teman-temannya. Anak dengan GPPH mungkin mengalami gejala berikut ini.

  • Sering melamun.
  • Sering lupa atau sering kehilangan barang.
  • Tidak bisa duduk dengan tenang.
  • Terlalu banyak bicara.
  • Sering membuat kesalahan atau berbuat ceroboh atau mengambil risiko yang tidak perlu.
  • Sulit menahan diri dari bujukan atau godaan.
  • Tidak bisa menunggu giliran.
  • Sulit bergaul dengan anak seusianya.

Jenis GPPH

Ada tiga jenis GPPH berdasarkan gejala mana yang lebih menonjol.

  • Gejala gangguan pemusatan perhatian lebih dominan. Individu dengan tipe ini kesulitan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, sulit untuk memperhatikan detail, atau sulit untuk mengikuti petunjuk atau mendengarkan orang lain berbicara. Orang semacam ini mudah teralihkan perhatiannya atau sering melupakan detail-detail kecil dalam aktivitas sehari-hari.
  • Gejala hiperaktivitas lebih dominan. Orang dengan tipe ini selalu tampak gelisah dan banyak bicara. Tidak bisa duduk diam untuk waktu yang lama (misalnya saat makan atau mengerjakan PR). Pada anak kecil, anak tersebut biasanya selalu berlari, melompat kesana kemari. Orang dengan tipe ini selalu merasa gelisah dan impulsif. Orang yang impulsif sering mencampuri urusan orang lain, merebut benda yang sedang dipegang oleh orang lain, atau memotong pembicaraan orang lain. Orang seperti ini tidak bisa menunggu giliran atau membiarkan orang lain menyelesaikan pembicaraannya. Orang semacam ini lebih cenderung mengalami kecelakaan dan cedera dibanding orang lain.
  • Gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas muncul secara seimbang.
Baca Juga:  Perhatikan Hal Berikut Sebelum Meminum Obat Pencahar

Penyebab GPPH

Hingga saat ini, para peneliti masih terus mempelajari penyebab dan faktor risiko kondisi ini agar dapat melakukan terapi yang lebih baik dan menurunkan risiko seorang anak mengalami GPPH. Penyebab dan faktor risikonya masih belum jelas, tetapi penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa faktor genetika memiliki peran yang sangat penting. Selain genetik, ada juga kemungkinan faktor yang lain seperti:

  • Cedera otak
  • Paparan lingkungan
  • Alkohol dan merokok selama kehamilan
  • Persalinan prematur
  • Berat badan lahir rendah

Tidak ada penelitian yang mendukung anggapan awam bahwa GPPH terjadi karena terlalu banyak konsumsi gula, terlalu banyak menonton televisi, salah asuh, atau faktor sosial dan lingkungan seperti kemiskinan atau konflik rumah tangga. Walaupun, tentu saja hal-hal tersebut dapat memperburuk gejala yang telah ada, terutama pada anak yang lebih rentan.

Diagnosis dan pengobatan

Mendiagnosis GPPH pada seorang anak merupakan suatu proses yang terdiri dari beberapa tahap. Tidak ada tes tunggal yang bisa membedakan GPPH dengan gangguan lain, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan belajar lainnya. Salah satu prosesnya juga melibatkan pemeriksaan medis, termasuk tes pendengaran dan penglihatan untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain dengan gejala yang sama. Proses ini juga mungkin melibatkan wawancara dengan orang tua, guru, dan anak yang bersangkutan.

Pada kebanyakan kasus GPPH diatasi dengan kombinasi terapi perilaku dan obat-obatan. Untuk anak prasekolah dengan GPPH, terapi perilaku disarankan sebagai terapi utama. Setiap anak memerlukan rencana terapi yang spesifik, tidak sama dengan anak lain yang memiliki kondisi yang sama. Dan terapi yang baik harus diikuti dengan pemantauan dari dekat dan perubahan seperlunya sesuai hasil pemantauan tersebut sepanjang perjalanan terapi.