Seperti Apakah Gejala Katarak Pada Bayi?

DokterSehat.Com– Cukup banyak orang yang berpikir jika katarak adalah penyakit yang hanya akan menyerang orang dewasa, khususnya para lansia. Namun, begitu kasus katarak yang menimpa bayi selebritis Asri Welas terkuak, cukup banyak orang yang waspada akan kesehatan mata buah hatinya. Sebenarnya, seperti apakah gejala katarak pada bayi?

doktersehat-bayi-lahir-Infeksi-Cytomegalovirus

Dikutip dari laman WebMD, disebutkan bahwa katarak akan membuat pandangan mata menjadi kabur atau bahkan tertutup. Yang menjadi masalah adalah, katarak ini juga bisa menyerang salah satu atau kedua mata bayi. Katarak yang terjadi pada bayi yang baru dilahirkan disebut sebagai katarak kongenital yang terjadi karena tidak terbentuknya lensa mata selama dalam kandungan. Biasanya, hal ini disebabkan oleh masalah kromosom seperti pada bayi yang terkena down syndrome. Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh keturunan dari orang tuanya.

Cukup sulit untuk mendeteksi dini katarak pada bayi, namun, jika kita melihat sesuatu seperti titik atau pantulan dengan warna putih keabu-abuan pada pupil mata bayi, maka ada baiknya kita mewaspadai masalah katarak dan segera memeriksakannya ke dokter mata. Berbeda dengan orang dewasa yang bisa mengeluh jika terjadi gangguan pada penglihatannya, anak kecil, khususnya bayi, jelas tidak bisa benar-benar menjelaskan masalah pada penglihatan matanya.

Jika bayi anda sudah mencapai usia 4 bulan, biasanya Ia sudah mampu melihat keadaan sekeliling dan tertarik dengan beberapa benda yang menarik atau berwarna-warni. Jika anak terlihat tidak tertarik untuk melihat-lihat keadaan sekitar atau kebingungan, ada baiknya kita memeriksa kondisi matanya.

Gejala lain dari katarak pada bayi adalah bola matanya yang cenderung tidak sejajar dimana satu bola mata terlihat melihat ke satu arah dan bola mata lainnya melihat ke arah yang berbeda.

Baca Juga:  Ini Dia Penyebab Katarak Seperti yang Dialami Bayi Asri Welas

Demi menurunkan resiko katarak pada bayi, pakar kesehatan mata dr. Yasmin Sani, SpM dari Rumah Sakit Universitas Brawijaya, Malang, menyarankan ibu hamil untuk rutin memeriksakan kandungannya. Jika perlu, lakukan pula cek laboratorium atau TORCH screening.