Sempat Terbangun, Echa Si Putri Tidur dari Banjarmasin Akhirnya Terlelap Kembali, Bagaimana Kondisinya?

DokterSehat.Com– Siti Raisa Miranda atau yang dipanggil Echa diduga mengalami sindrom putri tidur karena telah terlelap dalam waktu yang sangat lama, tepatnya hingga 13 hari! Kabar tentang dirinya ini beredar luas di media sosial setelah sang ayah mengunggah cerita tentang putrinya di akun Facebook pribadinya karena bingung dengan kondisi buah hatinya. Sempat terbangun pada Selasa 24 Oktober 2017, Echa kembali tidur hari ini, Rabu, 25 Oktober ini.



Photo Credit: BreakingNews

Saat bangun, Echa masih sempat mandi dan bahkan berbincang-bincang sebentar dengan kakeknya. Namun, setelahnya, Ia kembali berbaring di ranjangnya dan akhirnya kembali tertidur dengan lelap. Saat petugas kesehatan dari Puskesmas Alalak Selatan, Banjarmasin Utara datang untuk memeriksa kondisinya, gadis berusia 13 tahun ini disebut-sebut masih memiliki pernafasan yang normal. Bahkan, tekanan darah dan detak jantungnya juga normal seperti orang yang tidur pada umumnya.

Dalam dunia medis, sindrom putri tidur memiliki nama Kleine-Levin Syndrome. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan neurologis yang sangat langka. Hingga saat ini, diperkirakan hanya ada seribu orang di seluruh dunia yang mengalami sindrom ini. Meskipun dianggap sebagai sindrom putri tidur, dalam realitanya penderita sindrom ini 70 persennya adalah pria dewasa.

Ciri-ciri utama dari penyakit ini adalah lamanya waktu tidur penderitanya yang bisa mencapai 20 jam per hari atau lebih. Periode ini bisa berlangsung dalam waktu beberapa waktu atau bahkan beberapa bulan. Setelah sindrom ini berakhir, penderitanya biasanya akan kembali akan bisa beraktifitas seperti biasa layaknya orang normal.

Belum jelas apa penyebab dari penyakit ini. Namun, pakar kesehatan menduga jika ada ketidaknormalam fungsi bagian hipotalamus dan thalamus pada otak sebagai pemicunya. Untuk mengatasinya, dokter biasanya akan memberikan obat-obatan berjenis stimulant seperti amfetamin, methylphenidate, dan modafinil yang diharapkan bisa mengurangi gejalanya dan menurunkan rasa kantuk yang berlebihan. Hanya saja, terkadang obat ini juga tidak benar-benar efektif untuk membuat penderita sindrom ini terbangun atau tidak mengantuk.