Mengenal Lebih Jauh Tentang Penyakit Hordeolum

Doktersehat-Mengenal-Lebih-Jauh-Tentang-Penyakit-Hordeolum
Photo Credit: Flickr.com/twink21

DokterSehat – Semua orang pasti sudah tidak asing mendengar kata bintitan. Akan tetapi bagaimana jika Anda mendengar hordeolum? Tentu, kata itu adalah sesuatu yang cukup asing di dengar. Padahal, bintitan dalam bahasa medis disebut juga hordeolum.

Hordeolum adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri, biasanya disebabkan oleh kuman Stafilokokus (Staphylococcus aureus). Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, mulai anak-anak hingga orang tua.

Data menunjukkan bahwa, angka kejadian pada usia dewasa lebih banyak dibanding anak-anak. Tidak ada perbedaan angka kejadian antara wanita dengan pria. Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih, kelenjar kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.

baca juga: Penyebab Bintitan pada Anak dan Cara Mengatasinya

Berdasarkan tempatnya, hordeolum terbagi menjadi 2 jenis :

  1. Hordeolum interna, terjadi pada kelenjar meibom. Pada hordeolum interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak mata bagian dalam).
  2. Hordeolum eksterna, terjadi pada kelenjar zeis dan kelenjar moll. Benjolan nampak dari luar pada kulit kelopak mata bagian luar (palpebra).

Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali yakni nampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah dengan warna kemerahan. Sering kali nampak bintik berwarna keputihan atau kekuningan disertai dengan pembengkakan kelopak mata.

Pada hordeolum interna, benjolan akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak mata. Keluhan yang kerap dirasakan oleh penderita hordeolum diantaranya rasa mengganjal pada kelopak mata dan rasa nyeri.

Kadang kala, hordeolum juga menyebabkan mata berair dan sensitif terhadap cahaya. Hordeolum dapat membentuk abses di kelopak mata dan pecah dengan mengeluarkan nanah.

Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam 1-2 minggu, namun tidak jarang memerlukan pengobatan secara khusus seperti obat topikal (salep atau tetes mata antibiotik) maupun kombinasi dengan obat antibiotika oral.

Penanganan Hordeolum

  • Kompres dengan kain hangat selama 10-15 menit, lakukan hal ini 4 kali sehari.
  • Gunakan antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin, Neomycin, Polimyxin B, Chloramphenicol, Dibekacin, Fucidic acid, dan lain-lain.
  • Obat topikal dapat digunakan selama 7-10 hari asal sesuai anjuran dokter, terutama pada fase peradangan. Antibiotika oral (diminum) seperti: Ampisilin, Amoksisilin, Eritromisin, Doxycyclin.
  • Antibiotik oral digunakan jika hordeolum tidak menunjukkan perbaikan dengan antibiotika topikal. Obat ini diberikan selama 7-10 hari.

Penggunaan dan pemilihan jenis antibiotika oral hanya atas rekomendasi dokter berdasarkan hasil pemeriksaan, Adapun dosis antibiotika pada anak ditentukan berdasarkan berat badan sesuai dengan masing-masing jenis antibiotika dan berat ringannya hordeolum.

Obat-obat simptomatis (mengurangi keluhan) dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri, misalnya: asetaminofen, asam mefenamat, ibuprofen, dan sejenisnya.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Penderita Hordeolum?

Hindari mengucek-ucek atau menekan hordeolum. Biarkan hordeolum pecah dengan sendirinya, kemudian bersihkan dengan kasa steril ketika keluar nanah atau cairan. Tutup mata pada saat membersihkan hordeolum, untuk sementara hentikan pemakaian make-up pada mata. Lepaskan lensa kontak selama masa pengobatan.

Pada awalnya infeksi hanya memerah, saat itulah sel-sel darah putih yang berfungsi menghancurkan kuman sedang aktif bekerja. Jika kondisi tubuh Anda sedang dalam keadaan baik, sel-sel darah akan dapat bekerja dengan baik sehingga kuman akan kalah dan dengan sendirinya bintitan akan hilang. Tapi jika sel darah yang kalah, lama kelamaan akan melembek dan menimbulkan nanah.

Pengobatan Hordeolum

Hordeolum yang sudah besar atau sudah menunjukkan fase abses setelah insisi (penyayatan) dianjurkan kontrol dalam seminggu atau lebih untuk penyembuhan luka insisi agar benar-benar sembuh sempurna.

Perlu diketahui, jika bintitan didiamkan tanpa mendapatkan penanganan apapun, lama kelamaan bintitan akan membesar dan pecah sendiri. Akan tetapi pecahnya bukan berarti telah sembuh, melainkan hanya bagian luarnya saja yang pecah, isinya tidak ikut keluar sehingga akan meninggalkan bekas yang menonjol pada bagian yang pecah tersebut.

Berbeda jika dilakukan insisi, karena prosesnya dilakukan melalui bagian dalam kelopak mata yang panjangnya hanya berkisar 1 hingga 2 mm—kemudian baru dilakukan kuretase yaitu pengeluaran isinya. Tindakan ini tak akan menimbulkan bekas.

baca juga: Softlens Bisa Sebabkan Mata Bintitan?

Oleh karena itu, agar hordeolum tidak terjadi Anda harus menjaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum menyentuh wajah, usap kelopak mata dengan lembut menggunakan lap hangat untuk membersihkan ekskresi kelenjar lemak.

Selain itu, jaga kebersihan peralatan make-up agar mata tidak terkontaminasi oleh kuman dan gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu. Jika Anda memakai lensa kontak, cuci dan sterilkan sebelum digunakan. Pastikan Anda tidak lupa mencuci tangan sebelum memasangnya.