Sakit Kuning Pada penderita Kanker

DokterSehat.Com – Ketika hati merusak hemoglobin, zat yang membawa oksigen dalam Sel darah merah, ia memproduksi bilirubin, yang kemudian tergabung dengan empedu, menghasilkan warna kuning-hijau. Empedu disimpan di kantung empedu. Saat seseorang makan, kantung empedu menekan empedu keluar melalui saluran empedu ke usus di mana jenis makanan tertentu diserap. Empedu kemudian dikeluarkan melalui kotoran, dan bilirubin membantu memberi warna kecokelatan pada kotoran.

5

Jika bilirubin dibentuk di aliran darah, ini tertinggal di kulit dan mata, menjadikannya berwarna kuning. Kondisi ini dikenal sebagai sakit kuning (atau icterus). Bilirubin yang berlebihan ini, sebagaimana dikeluarkan di urin, mengernhkan warna urin. Jika bilirubin tidak mampu melewati usus, warna kotoran menjadi lebih terang.

Penderita kanker bisa mengalami peningkatan produksi bilirubin dan sakit kuning karena beberapa alasan. Tubuh tidak cukup mengeluarkan bilirubin atau memproduksi bilirubin terlalu banyak. Massa bilirubin di saluran empedu atau area sekitar saluran (misalnya kantung empedu, hati,atau pankreas) dapat memblokir aliran empedu melalui saluran sehingga mengganggu pengeluarannya. Penyakit di hati juga dapat mengurangi kemampuan tubuh mengeluarkan bilirubin. Gangguan darah tertentu di mana sejumlah besar sel darah merah rusak juga dapat menyebabkan meningkatnya level bilirubin.

Kadang sakit kuning bisa diatasi. Jika saluran empedu tersumbat secara lokal, tuba kecil dapat dimasukkan untuk membuka saluran dengan mengurangi sumbatan. Jika penyakit hati atau gangguan darah dapat disembuhkan, tingkat bilirubin akan menurun. Namun, jika sakit kuning tidak dapat diobati, ada cara untuk memastikan Anda merasa nyaman.

Penyakit kuning itu sendiri tidak menimbulkan rasa sakit, namun kulit bisa menjadi sangat kering dan gatal. Menggaruk dapat menyebabkan luka pada kulit, yang dapat menimbulkan infeksi, jadi hindari menggaruk. Mengatasi kekeringan pada kulit akan meredakan rasa gatal. Ketika mandi, hindari air yang sangat panas dan gunakan sabun lembut. Usapkan losion atau krim kulit setelah mandi dan sepanjang hari sesuai kebutuhan untuk melembabkan kulit. Jika Anda masih merasa gatal, minta resep dokter untuk obat mengurangi rasa gatal.

Baca Juga:  Bahaya Menggunakan Obat Tetes Mata Sembarangan

Yang harus dilakukan jika mengalami ruam

Ruam adalah reaksi kulit yang mungkin bersifat lokal di satu area di tubuh atau meliputi hampir semua atau semua bagian tubuh (general). Ruam akan bermula dalam jangka masa 48 jam selepas terkena dengan alergen atau bahan penyebab (dermatitis).

Obat adalah penyebab ruam paling lazim, yang bisa berupa efek samping obat (misalnya menyebabkan ruam seperti jerawat) atau tanda reaksi alergi. Sakit yang disebabkan virus, seperti campak atau herpes, juga dapat menyebabkan ruam. Penyebab lain adalah perubahan deterjen cuci, pelembab, atau sabun.

Jika timbul ruam hubungi dokter, sampaikan :

  • Bentuk ruam
  • Kapan mulai timbul ruam
  • Lokasi ruam
  • Apakah ada gejala lain, seperti gatal dan sakit
  • Apakah ada penggunaan obat baru

Kata yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan ruam adalah timbul (tonjolan-tonjolan), datar, atau menggelembung. Warna merah, keunguan atau warna kulit.

Jika ruam merupakan efek samping kemoterapi yang Anda jalani, dokter akan menyarankan produk terbaik apa bagi kulit Anda. Jika gatal disebabkan ruam, dokter akan meresepkan antihistamine, obat yang digunakan untuk mencegah atau mengatasi reaksi alergi dan yang kadang diberikan untuk mengobati gatal akibat ruam. Diphenhydramine merupakan antihistamine yang dapat dibeli di apotek. Antihistamine dapat menimbulkan rasa kantuk dan membuat mulut kering.

Untuk ruam gatal, dokter mungkin juga meresepkan losion. Jika ruam tampaknya merupakan reaksi alergi obat, dokter akan meminta Anda menghentikannya. Jika ruam akibat herpes, dokter akan meresepkan obat antiviral.