Retractile Testis

Doktersehat.com – Retractile testis adalah kondisi dimana testis tidak dapat menetap di dalam skrotum atau bergerak bolak-balik antara skrotum dan pangkal paha. Namun ketika retractile testisnya bergerak ke pangkal paha, testis itu masih bisa dikembalikan ke posisi semula di dalam skrotum dengan menggunakan tangan selama dilakukan pemeriksaan fisik.



Pada sebagian besar kasus yang terjadi pada anak-anak, masalah retractile testis ini akan sembuh dengan sendirinya sebelum atau selama masa pubertas. Saat puber, testis yang tidak pada tempatnya itu bergerak ke lokasi yang benar di dalam skrotum dan bertahan disitu secara permanen.

Tapi ada juga retractile testis yang tetap berada di pangkal paha dan tidak bisa dipindahkan lagi. Kondisi ini disebut dengan ascending testicle.

Penyebab

1. Spermatic cord (saluran pembuluh darah sperma) yang pendek atau panjangnya tak sepadan dengan pertumbuhan organ lainnya.

2. Testis tumbuh di dalam perut selama masa kehamilan, tapi setelah lahir testis akan turun ke dalam skrotum. Meski begitu terkadang struktur janinnya gagal melepaskan diri dari perut sehingga testisnya tertarik ke atas.

3. Jaringan parut akibat operasi hernia.

Gejala

1. Ketika didorong dari pangkal paha ke skrotum dengan tangan, testisnya tidak segera kembali ke pangkal paha.
2. Tahu-tahu muncul di dalam skrotum dan berada disana selama beberapa waktu.
3. Tahu-tahu menghilang lagi untuk beberapa waktu.

Pergerakan testis seringkali terjadi tanpa dibarengi rasa nyeri atau memunculkan ketidaknyamanan. Itulah mengapa retractile testis hanya dapat diketahui jika testisnya tak lagi terlihat atau terasa di dalam skrotum.

Lagipula jika mengalami retractile testis, posisi satu testis biasanya akan berbeda dengan posisi testis satunya. Misalnya seorang anak laki-laki bisa saja memiliki satu testis normal dan satu retractile testis.

Baca Juga:  Kenali 5 Jenis Kanker Mesothelioma

Pengobatan

1. Operasi

Jika testis tidak teraba atau masih jauh dari skrotum (misalnya di selangkangan), disarankan untuk terapi bedah.

2. Terapi hormon human chorionic gonadotropin (HCG)

Hormon HCG akan membantu testis memproduksi hormon. Jika kadar hormon pria meningkat, hal ini akan mendorong testis untuk turun ke skrotum. Terapi hormon ini bisa menyebabkan pubertas muncul lebih awal.

Sumber: detik.com