Khawatir Akan Radiasi Ultraviolet? Ini Solusinya

DokterSehat.Com – Bermain di pantai, berolahraga di luar ruangan, hiking, dan banyak aktivitas luar ruangan lainnya memang sangat menyenangkan. Anda akan merasakan bebas, segar, dan tentu saja gembira. Namun kekhawatiran akan radiasi ultraviolet seringkali mencegah kita untuk menikmati aktivitas di luar ruangan. Ancaman sunburn hingga kanker kulit membuat kita ogah ‘keluar’. Namun tenang, beberapa penemuan telah dibuat sehingga kita bisa tetap terlindung dari bahaya tersebut, mulai dari payung, topi, sunscreen, hingga sunblock, serta yang kurang populer, yaitu vitamin B3. Nyatanya, hasil penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa vitamin B3 cukup efektif dalam menghalangi radiasi sinar ultraviolet.

doktersehat-desa-hidup-sehat

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine dilakukan di Australia terhadap 386 partisipan penderita kanker kulit non melanoma (karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamous) selama lima tahun terakhir. “Kanker kulit non melanoma, mungkin bukan yang paling mematikan di antara seluruh kanker kulit, namun jumlah kasusnya banyak dan sifatnya yang kambuhan sehingga menghabiskan dana untuk pengambilannya”, seperti yang dinyatakan oleh dr. Richard Schilsky.

Pada penelitian ini, partisipan dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diberikan plasebo sebanyak dua kali sehari dan kelompok kedua diberikan vitamin B3 500 mg juga sebanyak dua kali sehari. Dalam penelitian ini, baik peneliti maupun partisipan tidak mengetahui siapa yang mendapatkan vitamin B3 dan siap yang mendapatkan plasebo hingga penelitian berakhir.

Hasilnya, setelah satu tahun, perkembangan kanker kulit pada kelompok yang mendapatkan vitamin B3 23 persen lebih kecil dibandingkan degan yang menerima plasebo. Dengan kata lain, pada kelompok vitamin B3, muncul rata-rata kurang dari 2 buah lesi kanker baru, sedangkan pada kelompok plasebo muncul 2,5 buah lesi kanker baru dalam satu tahun.

Baca Juga:  Delapan Manfaat Diet Sayuran

Selain penurunan jumlah kanker kulit, terdapat penurunan jumlah lesi prekanker baru (keratosis aktinik – ruam dengan skuama) pada kelompok vitamin B3 sebanyak 11 persen setelah 3 bulan dan 20 persen setelah 9 bulan.

Setelah diikuti hingga enam bulan setelah partisipan berhenti minum pil, angka kemunculan kanker kulit baru sama pada kedua kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat dari konsumsi vitamin B3 terjadi cukup cepat, namun konsumsi pil tersebut harus dilakukan secara rutin untuk mendapatkan hasil yang efektif. Dan tentu saja batasi paparan sinar matahari dan selalu gunakan sunscreen saat beraktivitas di luar ruangan.

Vitamin B3 yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk nikotinamid, bukan niasin. Nikotinamid berbeda dengan niasin dan berbagai bentuk vitamin B3 lainnya yang dapat menyebabkan flushing, nyeri kepala, dan masalah tekanan darah. Masalah tersebut tidak ditemukan dalam penelitian ini. “Nikotinamid hampir tidak memiliki efek samping,” kata dr. Schilsky.

Nikotinamid dapat membantu memperbaiki DNA pada sel yang rusak akibat paparan sinar matahari. Nikotinamid tidak sama dengan nikotin yang terkandung dalam tembakau, nikotinamid tidak menyebabkan ketergantungan. Masalahnya adalah saat ini masih cukup sulit untuk mendapatkan pil nikotinamid, bahkan di negara maju, sehingga harganya menjadi cukup mahal jika dibandingkan bentuk vitamin B3 yang lain, misalnya niasin atau vitamin B komplek.

Sumber: Sioux City Journal