Radang Paru Masih Mengintai Balita

Doktersehat.com – Tidak banyak  yang tahu bahwa kang penyakit pneumonia sangat berakibat buruk bagi perkembangan bayi.  Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap penyakit radang paru atau pneumonia membuat kalangan dunia kesehatan prihatin. Masih banyak masyarakat yang tak paham soal penyakit ini, sehingga banyak yang meninggal karena ini akibat tak ada deteksi dini, apalagi penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian Balita, selain diare.



Hal ini disampaikan Ketua UKK Respirologi Anak Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Bambang H Setyanto SpA(K) kepada kader posyandu di Surabaya. Menurut dr Bambang, Pneumonia ini bukanlah hal baru, karena penyakit ini sudah lama ada. “Jika dilihat dari angkanya, kematian akibat pneumonia jauh lebih tinggi dari gabungan sejumlah penyakit seperti tubercolosis, campak, malaria, HIV/AIDS dan demam berdarah,” kata Bambang.

Menurut dia, selama 2010, pasien pneumonia anak mencapai 51,78 persen dari total 506 anak yang menderita kelainan paru. Karena tak ada deteksi dini, pengobatannya pun dilakukan saat anak sudah dalam kondisi parah. Anak atau Balita sering tak tertolong karena memang sistem kekebalan tubuhnya masih lemah.

Gejala penyakit ini ditandai dengan gejala salesma, seperti demam, batuk, dan pilek selama 3-4 hari. Dalam kondisi berat, biasanya disertai gejalan nafas cepat dan atau nafas sesak. Ini bisa dicegah sejak awal. Sementara itu mengenai penyakit ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengharapkan seluruh kader Posyandu harus tanggap dan waspada. Kader harus lebih aktif mensosialisasikan pencegahan penyakit ini ke masyarakat.

Bayi dan balita termasuk dalam kelompok yang paling rawan mengalami gangguan kesehatan. Salah satu penyakit yang menjadi pembunuh balita utama di Indonesia adalah penumonia atau radang paru. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007, pneumonia menjadi penyebab kematian balita terbesar kedua setelah diare.

“Rata-rata anak kecil sistem kekebalan tubuhnya belum maksimal, sehingga mudah sekali kalau ada kuman masuk menjadi infeksi. Apalagi kalau kuman yang masuk itu sifatnya ganas,” ujar dr. Agus Dwi Susanto, dokter spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan, Kamis, (28/6/2012).

Agus menjelaskan, Pneumonia adalah radang paru-paru atau infeksi di jaringan paru yang disebabkan oleh kuman. Kuman tersebut bisa berupa bakteri, virus atau jamur yang sifatnya mikroorganisme. Cara penularannya melalui kontaminasi udara yang masuk melalui saluran napas, kemudian ke paru-paru, sehingga menimbulkan peradangan.

Menurut Agus, peradangan yang berlangsung lama dan luas akan membuat pasokan oksigen yang masuk melalui paru-paru berkurang karena ada jaringan yang terinfeksi. Tidak heran jika banyak pasien pneumonia meninggal karena kegagalan napas (oksigen yang masuk tidak maksimal).

Derajat penyakit pneumonia bisa bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Gejala utama pneumonia, baik pneumonia yang disebabkan virus atau bakteri, antara lain demam tinggi, batuk, sesak napas, lemas, atau tampak kelelahan dan dada terasa sakit, terutama bila batuk.

Pada kasus berat bisa terjadi penurunan suhu tubuh, kejang, penurunan kesadaran, suara napas keras dan kasar, tidak dapat makan, serta anak tampak biru (terutama di sekitar mulut).

“Intinya, kalau ada tanda-tandanya anak mengalami batuk, demam dan sesak napas, kita harus berpikir ada infeksi di jaringan paru,” ucapnya.

Berdasarkan data WHO dan UNICEF,  sekitar 50 persen pneumonia disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae (bakteri pneumokokus) dan 20 persen disebabkan Haemophilus influenzae tipe B (Hib). Sisanya disebabkan virus dan penyebab lain.

Strategi kunci dalam mengendalikan pneumonia adalah menurunkan angka kelahiran bayi prematur atau bayi berat lahir rendah, pemberian ASI eksklusif 6 bulan, gizi cukup dan seimbang di semua usia anak, imunisasi (khususnya DPT, campak, Hib, dan IPD), dan yang tak kalah penting menciptakan lingkungan bebas asap dan polusi.

“Tugas orang tua untuk memastikan dan menjaga agar anak mendapat asupan makanan yang cukup. Bayi juga harus mendapatkan  ASI karena menguatkan sistem kekebalan tubuh,” imbaunya.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003 menunjukkan, pneumonia tercatat menempati peringkat pertama penyebab kematian utama pada balita, lebih tinggi dibandingkan AIDS, Diare, TB, Malaria, dan Campak. Menurut UNICEF, pneumonia menjadi salah satu penyakit yang mengancam anak-anak. Ada sekitar 155 juta kasus pneumonia anak setiap tahun di dunia.

 

 

 

Sumber : health.kompas.com & centroone.com