Probuphine, Mengatasi Ketergantungan Narkoba dengan Implan

DokterSehat.Com – Badan administrasi pangan dan obat-obatan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui penggunaan obat dalam bentuk implan lengan untuk mengobati ketergantungan heroin dan opioid lainnya. Implan ini merupakan terobosan dalam ketergantungan opioid yang selama ini sulit diatasi. Para ahli pun menyatakan bahwa implan ini dapat diandalkan untuk menjaga agar pecandu dapat menerima pengobatan yang tepat.

Probuphine

Implan berbentuk batang korek api yang disebut Probuphine ini mengandung buprenorphine, yaitu obat yang digunakan untuk mengatasi kondisi ketagihan dan putus obat pada pecandu. Empat buah implan dimasukkan ke lengan atas secara bersamaan dan mampu memberikan dosis obat yang dilepaskan perlahan selama enam bulan.

Selama ini buprenorphine tersedia dalam bentuk tablet atau selaput yang larut dalam mulut, namun seringkali pecandu tidak mengkonsumsinya atau menggantinya dengan narkotik ilegal. Bahkan pada beberapa kasus, buprenorphine dijual pada pecandu lainnya. Dalam bentuk implan, diharapkan perilaku pecandu tersebut dapat dicegah.

FDA menyetujui penggunaan Probuphine pada pecandu yang telah stabil dengan dosis buprnorphine sedang atau rendah. Mereka juga merekomendasikan pemberian Probuphine disertai dengan konseling serta dukungan psikososial yang memadai dari keluarga, teman, dan layanan kesehatan. Penyedia layanan kesehatan harus mengikuti program pelatihan pemasangan implan sebelum mendapatkan sertifikat dari FDA. Hanya mereka yang mempunyai sertifikat yang boleh memasang implan pada pasien pecandu.

Seperti obat pada umumnya, Proburphine juga memiliki efek samping, yaitu nyeri, rasa gatal, dan kemerahan pada lokasi implan. Efek samping yang lain dapat berupa nyeri kepala, depresi, dan sebagainya.

Buprenorphine merupakan agonis opioid parsial yang menghambat rasa ketagihan dan gejala putus obat, namun tidak menimbulkan euforia seperti heroin. Obat-obatan lain yang dapat bekerja sebagai pengganti opioid untuk mengatasi ketergantungan adalah methadone dan naltrexone. Methadone merupakan agonis opioid total yang mengaktivasi reseptor opioid di otak, namun bekerja secara lambat sehingga dapat mengatasi gejala putus obat tanpa euforia. Sedangan naltrexone adalah antagonis opioid yang menghambat reseptor opioid.

Baca Juga:  Alasan Mengapa Puting Perempuan Bisa Berubah Bentuk

Kira-kira kapan ya inovasi ini masuk dan diterima di Indonesia? Bila harganya terjangkau, tentu akan mempermudah proses rehabilitasi para pecandu narkoba.

Photo: FDA
Source: The Wall Street Journal