Persepsi yang Keliru Mengenai Vaksin

DokterSehat.Com – Sebelum ditemukannya vaksin, banyak penduduk meninggal dunia akibat penyakit infeksi. Cacar merupakan penyakit yang sangat fatal pada abad ke-19. Ditemukannya vaksin berawal dari adanya tradisi masyarakat Turki menggoreskan nanah dari sapi yang menderita penyakit cacar sapi kepada manusia untuk melindungi dari penyakit cacar (smallpox, variola). Tradisi ini diteliti dan dipublikasikan oleh Edward Jenner dari Inggris pada tahun 1978. Sejak saat itulah konsep vaksinasi berkembang pesat. Berkat program imunisasi yang berkelanjutan, cacar dapat dieradikasi dan dunia dinyatakan bebas cacar pada tahun 1979.

doktersehat-polio

Walaupun telah banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa imunisasi sangat bermanfaat dalam pencegahan penyakit infeksi, dalam masyarakat masih sering muncul persepsi yang keliru mengenai imunisasi sebagai berikut:

  1. Penyakit hilang dengan perbaikan higiene dan sanitasi, tidak perlu vaksin.

Kondisi sosial ekonomi yang membaik pasca perang dunia ke-II memiliki dampak positif bagi penyakit difteri yang dulu sering menjadi wabah dan mematikan banyak warga di Eropa. Angka kejadian penyakit menurun sejalan dengan perbaikan sanitasi dan higiene. Faktor lain seperti nutrisi yang baik, ditemukannya antibiotik, berkurangnya kepadatan penduduk, dan angka kelahiran yang menurun dianggap ikut berpartisipasi dalam menurunkan penularan penyakit. Namun penurunan penyakit difteri secara permanen baru tampak setelah program imunisasi dijalankan secara luas. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan angka kejadian penyakit jangka panjang.

Pada tahun 1970-an timbul ketakutan warga negara maju, seperti Inggris, Swedia, dan Jepang terhadap efek samping vaksin. Penurunan imunisasi pertusis  (batuk rejan) kala itu menyebabkan epidemi pertusis dan menumbulkan banyak kematian. Di Jepang, penurunan imunisasi pertusis menyebabkan munculnya 130.000 kasus baru dan 41 meninggal pada tahun 1979. Hal ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan kejadian pertusis pada tahun 1974 yang hanya 393 kasus tanpa kematian.

Hal tersebut menunjukkan manfaat imunisasi lebih besar dari sekedar perbaikan sanitasi, sehingga imunisasi harus dilakukan terus menerus untuk mencegah terjadinya penyakit.

  1. Anak yang sakit kebanyakan telah divaksinasi.
Baca Juga:  Minuman Berenergi dan Minuman Ringan Ternyata Bisa Merusak Gigi

Pernyataan tersebut merupakan salah satu bentuk kampanye negatif yang dilakukan oleh kelompok antivaksin. Dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi mungkin lebih banyak daripada anak sakit yang belum diimunisasi. Hal ini mungkin saja terjadi karena efektivitas vaksin umumnya sebesar 85-95%, tergantung respon individu. Selain itu proporsi anak yang diimunisasi lebih banyak daripada yang tidak. Ilustrasi hal tersebut dapat Anda baca di sini.

  1. Vaksin menimbulkan efek samping berbahaya, kesakitan, bahkan kematian.

Umumnya vaksin menimbulkan efek samping yang ringan dan sementara, seperti nyeri pada bekas suntikan dan demam rinigan. Dinyatakan oleh Institute of Medicine pada tahun 1994 bahwa risiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah. Sebelum memutuskan untuk tidak menggunakan vaksin, alangkah baiknya kita mengerti berapa besar risiko dibandingkan dengan manfaat vaksin.

  1. Penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi sudah tidak ada, sehingga tidak perlu imunisasi.

Angka kejadian penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi memang telah menurun drastis. Namun, angka kejadian penyakit tersebut masih cukup tinggi di negara lain. Dengan berkembangnya sistem transportasi dan mudahnya orang-orang bepergian, kuman penyakit mudah masuk secara tidak sengaja dan menimbulkan wabah.

Sebagai contoh adalah KLB polio di Indonesia tahun 2005. Laboratorium Biofarma Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut. Anak tersebut tidak pernah mendapatkan imunisasi polio sebelumnya. Dari analisis genetik, diketahui bahwa virus tersebut berasal darI Afrika Barat dan masuk ke Indonesia melalui Nigeria dan Sudan.

Bagaimanapun, penting bagi anak untuk mendapatkan imunisasi. Imunisasi dapat melindungi anak dari penyakit, walaupun risiko terjadinya penyakit itu kecil. Imunisasi juga dapat melindungi anak lain yang tidak dapat diimunisasi karena alergi berat atau tidak berespon terhadap vaksin. Jadi berikan vaksin sesuai jadwal untuk anak Anda.