Persediaan Darah PMI di Bengkulu Ternyata Banyak yang Mengandung HIV

DokterSehat.Com – Sebuah berita mengejutkan datang dari Palang Merah Indonesia (PMI) dari kota Bengkulu. Dari cukup banyak kantong darah yang sedianya ditujukan bagi mereka yang membutuhkan, pakar kesehatan ternyata menemukan banyak sekali yang sudah tercemar virus HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, hingga penyakit sifilis. Tak tanggung-tanggung, dalam kurung waktu 2016 hingga bulan Januari 2017 ini saja, sudah ditemukan 169 kantong darah yang mengandung berbagai virus penyakit berbahaya tersebut.

doktersehat-kantung-darah

Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Bengkulu, dr. Annelin Kurniati, berkata bahwa penemuan ini mengundang keprihatinan banyak pihak mengingat andai tidak benar-benar diteliti, bisa jadi banyak orang yang akhirnya tertular berbagai macam penyakit berbahaya justru saat mereka mendapatkan transfusi darah karena kebutuhan medis. Sebuah pertanyaan pun muncul, bagaimana bisa orang-orang yang mengidap penyakit berbahaya tersebut bisa lolos dari tes kesehatan sebelum melakukan donor darah?

Dr. Annelin berkata bahwa saat melakukan tes kesehatan, kebanyakan pendonor berada dalam kondisi sehat. Bahkan, pemeriksaan awal menunjukkan jika mereka dalam kondisi sangat sehat dan tidak mengidap penyakit berbahaya. Hanya saja, tes yang dilakukan ini masih berupa rapid test yang disinyalir hasilnya kurang efektif dalam menyaring mereka yang memiliki berbagai penyakit berbahaya. Alhasil, banyak orang yang memiliki penyakit berbahaya tetap lolos menjadi pendonor.

Yang cukup mengejutkan adalah, tes yang sebenarnya ditujukan untuk mencegah para pendonor yang memiliki berbagai penyakit berbahaya ini menyumbangkan darahnya justru belum sesuai dengan standar dari WHO. Hal ini berarti, tes ini memang masih beresiko tinggi untuk dipakai.

Sebenarnya, banyak pihak yang menyarankan PMI Bengkulu untuk memakai metode tes ELISA. Sayangnya, karena masih terkendala biaya yang besar, maka tes ini masih belum bisa diadopsi oleh PMI setempat. Sejauh ini, pihak PMI masih menggunakan metode pengecekan ulang agar bisa menyeleksi kembali darah-darah yang bisa digunakan dan yang tidak.