Penyusutan Otak Bisa Terjadi Karena Kurang Tidur

DokterSehat.Com – Pakar kesehatan sudah berkali-kali menyerukan pada masyarakat untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup setiap harinya. Dengan mendapatkan waktu tidur yang berkualitas setiap harinya, kita memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat, melakukan proses detoksifikasi pada tubuh, hingga melakukan penggantian dan regenerasi sel-sel tubuh yang rusak atau sudah menua. Jika kita kurang mendapatkan waktu tidur yang cukup, sebagai contoh kurang dari 6-7 jam setiap harinya, dikhawatirkan kita bisa mendapatkan masalah kesehatan yang berbahaya. Bahkan, sebuah studi terbaru menunjukkan fakta dimana mereka yang sering kurang tidur akan mengalami penyusutan otak dengan signifikan.

doktersehat-Multiple-Sclerosis

Sebuah penelitian yang mempelajari waktu tidur dan dampaknya bagi kesehatan tubuh dirilis dalam jurnal Neurology oleh American Academy of Neurology menunjukkan fakta dimana para orang tua yang cenderung memiliki kualitas tidur yang buruk akan mengalami penyusutan otak yang cukup cepat. Penelitian ini sendiri melibatkan 147 orang dewasa dengan rentang usia 20 tahung hingga 84 tahun. Para partisipan ini kemudian dicek kondisi kesehatannya dengan scan MRI untuk mengetahui dampak gangguan tidur atau kurangnya kualitas tidur dengan volume otaknya. Selain kurang tidur, penyusutan otak ini sendiri juga bisa didapatkan pada mereka yang cenderung memiliki gangguan tidur layaknya kerap terbangun di dini hari.

Pakar kesehatan yang terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan jika buruknya kualitas tidur, khususnya yang disebabkan oleh waktu tidur yang sangat kurang setiap harinya akan berimbas pada terganggunya proses restorasi dan perbaikan otak yang seharusnya terjadi saat kita tidur dengan nyenyak. Karena hal inilah otak pun pada akhirnya mengalami penyusutan dengan cepat.

Penelitian ini sendiri menunjukkan fakta mengerikan dimana jika seseorang jarang mendapatkan waktu tidur yang cukup, kesehatan otak pun akan mengalami gangguan dan bisa membuat penyakit layaknya alzheimer lebih cepat muncul.