Hipotensi – Penyebab (Obat, Kehamilan, Reaksi Alergi)

doktersehat-obat-pil-bekuan-darah
pic credit: sarah

Sebenarnya tekanan darah bisa berubah sepanjang hari, tergantung kepada kegiatan yang sedang dilakukan dan hal ini dianggap normal. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa obat, kelenjar endokrin, kehamilan dan alergi bisa menyebabkan hipotensi?

Berikut ini adalah beberapa obat yang menyebabkan hipotensi, diantaranya:

  • Obat diuretik seperti hydrochlorothiazide (Hydrodiuril), furosemide (Lasix) digunakan untuk mengontrol tekanan darah dengan menyebabkan ginjal untuk membuat lebih banyak urine dan penurunan volume intravaskular. Jika pasien kehilangan terlalu banyak air dan menjadi dehidrasi, tekanan darah rendah dapat terjadi.
  • Beta blockers dan calcium channel blockers, dua obat yang biasa diresepkan digunakan untuk pengobatan tekanan darah tinggi. Obat-obat ini dapat menyebabkan jantung berdetak terlalu lambat sehingga menyebabkan hipotensi. Setiap obat jantung perlu dipantau oleh dokter untuk mengevaluasi respon tubuh dan menentukan dosis yang tepat.
  • Obat-obatan seperti sildenafil (Viagra) dalam kombinasi dengan nitrogliserin dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan mengakibatkan tekanan darah rendah.

Hipotensi dan Kehamilan

Perubahan fisiologis normal pada kehamilan dapat meningkatkan ruang intravaskular, terutama di trimester pertama. Tentunya perubahan ini dapat menyebabkan tekanan darah rendah.

Kelenjar Endokrin

Fungsi kelenjar tiroid yang rendah (hypothyroidism) dapat berhubungan dengan tekanan darah rendah. Selain itu, kelainan kelenjar adrenal juga dapat menyebabkan penurunan kadar hormon kortison dalam tubuh. Dan tekanan darah rendah juga terlihat dalam situasi ini.

Sementara itu, fungsi hipofisis abnormal rendah juga akan menyebabkan hipotensi. Untuk diketahui, orang dengan diabetes dapat mengalami tekanan darah rendah ketika gula darah mereka turun terlalu rendah. Jika gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia), dehidrasi dan tekanan darah rendah juga dapat terjadi melalui mekanisme yang berbeda.

Reaksi Alergi

Reaksi alergi mayor (syok anafilatik) dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah yang ditandai dengan pembuluh darah dan tekanan darah rendah, terkait dengan:

  • Sesak napas
  • Mengi
  • Kesulitan menelan
  • Kulit kemerahan disertai gatal

Hipotensi Ortostatik

Selain alergi, kehamilan, fungsi kelenjar endokrin, dan konsumsi obat-obatan tertentu yang bisa menyebabkan hipotensi, terdapat satu hal lagi yang menjadi penyebabnya yaitu hipotensi ortostatik.

Hipotensi ortostatik adalah tekanan darah rendah relatif yang terjadi ketika perubahan posisi tubuh, misal dari tidur ke duduk, atau dari duduk ke berdiri, atau dari jongkok ke berdiri. Ketika berdiri dengan cepat, mungkin diperlukan satu atau dua detik bagi tubuh untuk melakukan penyesuaian dalam menyempitkan pembuluh darah dan mendorong darah ke otak. Jika ada penundaan, maka tekanan darah rendah relatif dapat menyebabkan gejala. Hal ini dapat diperburuk atau terlihat lebih sering pada pasien yang sedang hamil, memiliki diabetes, dehidrasi, atau mengonsumsi obat tekanan darah tinggi.

Untuk diketahui, salah satu komplikasi dari diabetes adalah kerusakan saraf di tubuh, termasuk di sistem saraf otonom. Pada orang-orang dengan diabetes yang memiliki disfungsi otonom, hipotensi ortostatik dapat terjadi. Pembuluh darah tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan posisi yang cepat.

Dan yang terakhir, penyebab lain dari hipotensi adalah ketika seseorang ingin buang air kecil atau buang air besar. Saat kedua kondisi itu, saraf vagus terangsang sehingga  meningkatkan asetilkolin dalam tubuh dan melebarkan pembuluh darah.

Hal ini menyebabkan tekanan darah turun dan mengurangi pasokan darah ke otak. Meskipun menakutkan dan dapat mengakibatkan pingsan, hal ini akan pulih dengan sendirinya dan reda dengan cepat.

 

Hipotensi – Halaman Selanjutnya: 1 2 3 4 5
ikuti-kontes-sehatitubaik-menangkan-berbagai-hadiah-menarik