Demam Scarlet – Penyebab

Demam scarlet (dikenal sebagai scarlattin di referensi literatur lama) adalah sindrom yang ditandai oleh faringitis eksudatif (radang tenggorokan dengan adanya cairan nanah), demam, dan eksantema berwarna merah terang, disebabkan oleh eksotoksin dari kuman streptococcus pyrogenic (SPE) jenis A, B, dan C yang dihasilkan oleh kelompok A streptococcus beta-hemolitikus (GABHS) ditemukan dalam sekresi dan discaj dari hidung, telinga, tenggorokan, dan kulit. Demam scarlet dapat terjadi setelah infeksi streptokokus pada luka atau luka bakar, serta infeksi saluran pernapasan atas. Wabah terkait makanan juga telah dilaporkan.

doktersehat-anak-panas-demam-flu-sakit

Demam scarlet biasanya terjadi pada anak usia 2–10 tahun meskpun dapat terjadi pada anak yang lebih tua atau dewasa.

Insiden dan mortalitas terkait dengan penyakit yang dulu pernah ditakuti ini telah menurun secara signifikan karena pengenalan dan meluasnya penggunaan antibiotik.

Karena begitu menular, demam scarlet menjadi epidemi, terutama di abad ke-19. Pada tahun 1923, suami dan istri tim George dan Gladys Dick mengidentifikasi bakteri streptokokus yang bertanggung jawab untuk menyebabkan demam scarlet, dan tak lama kemudian mereka mengisolasi racun yang bertanggung jawab untuk menyebabkan ruam karakteristik demam scarlet. Hal ini menyebabkan adanya perkembangan kekebalan individu atau kerentanan terhadap demam scarlet untuk mematenkan perkembangan vaksin.

Vaksin ini tidak lagi digunakan, karena penyakit ini telah tereliminasi dengan penggunaan antibiotik.

Apa penyebab demam scarlet?
Demam Scarlet disebabkan oleh infeksi kelompok eksotoksin yang memproduksi streptococci beta-hemolytic grup A (GABHS), terutama Streptococcus pyogenes. Pelepasan toksin tertentu bertanggung jawab untuk karakteristik ruam berwarna merah yang dapat dilihat pada demam scarlet. Dalam sebagian besar kasus, demam scarlet terjadi sebagai akibat infeksi faring oleh bakteri streptokokus (radang tenggorokan), meskipun juga dapat terjadi sebagai akibat dari infeksi streptokokus di area tubuh lainnya, meskipun jarang, seperti kulit. Diperkirakan bahwa demam scarlet berkembang pada sampai dengan 10% dari individu yang mengalami faringitis streptokokus.

Baca Juga:  Serangan Jantung - Epidemiologi dan Patofisiologi

Demam scarlet dapat terjadi setiap saat sepanjang tahun, meskipun lebih umum selama musim dingin dan musim semi. Bakteri streptokokus biasanya menyebar melalui droplet pernapasan udara ditularkan oleh orang yang terinfeksi atau oleh individu yang membawa bakteri tetapi tidak mengalami gejala (karier/ pembawa penyakit yang asimptomatik). Infeksi streptokokus juga dapat ditularkan dengan kontak langsung sekret yang terinfeksi dan melalui makanan. Transmisi di sering terjadi di lingkungan yang ramai di mana individu kontak dekat satu sama lain (misalnya, sekolah atau pusat-pusat penitipan anak).