Penyakit Kuning – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Doktersehat-Penyakit Kuning-Penyebab-Gejala-dan-Pengobatan
Photo Credit: Flickr.com/alialatas2010

DokterSehat.Com – Penyakit kuning adalah suatu kondisi di mana kulit, mukosa, dan bagian putih mata (sklera) berubah warna menjadi kuning. Hal ini disebabkan karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah.

Bilirubin adalah hasil pemecahan sel darah merah yang sudah tua. Normalnya, hati akan merombak bilirubin dan membuangnya ke dalam usus sehingga dapat dikeluarkan bersamaan dengan tinja.

Jika proses di atas mengalami gangguan dan bilirubin terlambat masuk ke hati atau saluran empedu, maka zat ini akan bertumpuk di dalam darah dan mengendap di kulit sehingga terlihatlah gejala sakit kuning.

baca juga: Pengobatan Alami Untuk Penyakit Kuning

Penyebab Penyakit Kuning

Penyakit kuning terjadi ketika proses pembuangan zat bilirubin yang merupakan hasil dari penguraian sel darah merah mengalami gangguan sehingga bertumpuk di dalam darah dan jaringan tubuh.

Penyakit kuning atau biasa disebut jaundice bisa disebabkan oleh beberapa proses, yaitu:

  • Pre-hepatik (sebelum bilirubin dirombak oleh sel hati)

Pada kasus ini penyakit kuning terjadi karena pemecahan sel darah merah yang meningkat (hemolisis) melebihi kemampuan sel hati untuk membuang bilirubin dari dalam darah. Contoh dari kondisi ini adalah: malaria, anemia sel sabit, sferositosis, talasemia, defisiensi G6PD, obat-obatan, dan autoimun.

  • Hepatik (gangguan proses di dalam organ hati)

Sakit kuning dalam hal ini terjadi karena ketidakmampuan sel hati dalam merombak dan membuang bilirubin, seperti: hepatitis (baik karena virus maupun alkohol), sirosis hepatis, obat-obatan, sindrom Crigler-Najjar, sindrom Gilbert, dan kanker hati.

  • Post-hepatik (setelah bilirubin dibuang oleh hati)

Penyakit kuning disebabkan oleh adanya obstruksi atau sumbatan dalam saluran pembuangan bilirubin. Penyebab sumbatan ini antara lain: batu empedu, kanker, penyempitan saluran empedu, infeksi pada saluran empedu, kelainan saluran empedu yang ada sejak lahir, pankreatitis, parasit (misalnya cacing), dan kehamilan.

Selain itu, bayi baru lahir biasanya mengalami kuning pada usia 2-3 hari dan bisa berlangsung hingga usia 7-14 hari. Hal ini karena terjadinya pemecahan sel darah merah bayi untuk diganti dengan sel darah merah yang baru.

Penyakit kuning yang muncul di luar dari periode waktu ini sering kali tidak normal dan perlu mendapat perhatian dokter. Sakit kuning yang abnormal dapat terjadi karena: ketidakcocokan dengan golongan darah ibu atau kurang minum ASI.

Gejala Penyakit Kuning

Gejala yang muncul bersama sakit kuning di antaranya adalah:

  • Kulit, mukosa, dan bagian putih mata (sklera) berubah warna menjadi kuning.
  • Tinja berwarna putih.
  • Air kemih berwarna gelap.
  • Kulit gatal.
  • Gejala lain dari penyakit yang mendasarinya, misalnya mual dan muntah, nyeri perut, demam, badan lemah, nafsu makan menurun, nyeri kepala, kaki bengkak, perut membesar, dan sebagainya.
  • Kuning yang tidak normal pada bayi, juga dapat menimbulkan gejala seperti: sulit minum ASI, lemas, suara tangis melengking, dan kejang.

Pengobatan Penyakit Kuning

Pengobatan penyakit kuning tergantung dari penyebab, jenis, dan tingkat keparahannya. Sebagai contoh, operasi mungkin akan ditawarkan oleh dokter jika penyakit kuning disebabkan oleh saluran empedu yang tersumbat.

Contoh lainnya adalah transfusi darah, jika penyakit kuning disebabkan anemia sel sabit. Jika penyakit kuning disebabkan oleh kerusakan hati yang sudah sangat parah, kemungkinan dokter akan menawarkan transplantasi atau pencangkokan hati.

baca juga: Sakit Kuning Pada Penderita Kanker

Pencegah Penyakit Kuning

Karena ada ragam masalah kesehatan yang bisa menyebabkan penyakit kuning, maka tidak semua kasus dapat dicegah. Meski begitu, untuk meminimalkan risiko terkena penyakit tersebut, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Hindari konsumsi alkohol, karena dapat menyebabkan hepatitis alkoholik, sirosis, dan pankreatitis.
  • Vaksin hepatitis.
  • Profilaksis malaria bila akan bepergian ke daerah endemis.
  • Hindari perilaku yang berisiko tertular hepatitis B, misalnya penggunaan narkoba suntik atau seks bebas.
  • Jaga kebersihan agar terhindar dari makanan yang terkontaminasi virus hepatitis A.
  • Hindari obat-obatan yang dapat menyebabkan hemolisis, terutama pada orang dengan defisiensi G6PD.
  • Hindari obat-obatan atau jamu yang dapat merusak organ hati, kecuali jika obat tersebut memang sangat dibutuhkan.

Sementara itu, jika dijumpai ada gejala penyakit kuning selain kuning yang normal pada bayi baru lahir seperti yang telah dijelaskan di atas, segera hubungi dokter. Tanyakan pada dokter apakah penyebab kuning, pemeriksaan apa saja yang diperlukan, bagaimana perkembangan penyakit tersebut, apa pilihan terapinya, dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah keadaan semakin memburuk.