Penyebab Benjolan di Vagina dan Cara Penanganannya

Doktersehat-Penyebab-Benjolan-di-Vagina-dan-Cara-Penanganannya
Photo Source: demotywatory.pl

DokterSehat.Com – Menjaga kesehatan vagina adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh seorang wanita. Saat vagina mengalami gangguan maka hal itu bisa memengaruhi tingkat kesuburan, hasrat berhubungan seksual hingga kondisi kesehatan wanita secara keseluruhan.

Salah satu masalah yang harus diwaspadai oleh wanita adalah benjolan di vagina. Lantas, apa yang menyebabkan benjolan pada vagina? Benjolan yang tumbuh disekitar vagina dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab.

Beberapa penyebab benjolan di vagina di antaranya: sumbatan kelenjar, infeksi, kongenital atau tumor. Sementara itu, benjolan yang paling sering terjadi pada organ intim wanita ini adalah kista Bartholin, abses Bartholin, dan hymenal tag.

Kelenjar Bartholin merupakan sepasang kelenjar yang terdapat pada sisi kanan-kiri vagina. Kelenjar tersebut berfungsi mengeluarkan cairan untuk melumasi vagina. Dalam keadaan normal, kelenjar Bartholin tidak dapat terlihat dan teraba karena berukuran sangat kecil.

Gangguan pada kelenjar Bartholin yang sering terjadi adalah kista Bartholin dan abses Bartholin, di mana kedua hal ini merupakan penyebab tersering terjadinya benjolan pada vagina dan biasanya hanya mengenai salah satu kelenjar.

baca juga: Bahaya Varises Vagina pada Ibu Hamil

Kista Bartholin terjadi akibat adanya sumbatan pada saluran keluar kelenjar Bartholin, sehingga kelenjar membengkak dan membentuk kista. Kista Bartholin pada umumnya tidak nyeri, adanya nyeri dapat menunjukan bahwa ukuran kista sudah semakin membesar dan terjadi infeksi.

Sedangkan abses Bartholin terbentuk ketika kista Bartholin mengalami infeksi bakteri seperti Chlamydia, Gonorrhea, dan Escherichia coli. Pada abses Bartholin memiliki gejala seperti nyeri, kemerahan pada daerah sekitar vagina, terasa adanya gumpalan pada lubang vagina, tidak nyaman saat berjalan atau duduk, nyeri saat berhubungan seksual, hingga menimbulkan demam.

Selain beberapa penyebab di atas, penyebab benjolan pada vagina lainnya yang harus Anda ketahui, di antaranya:

  1. Varises di area vagina

Suatu kondisi di mana vena atau pembuluh darah di sekitar vulva Anda membengkak. Varises ini biasa terjadi pada sekitar 10% pada wanita yang sedang hamil atau mengalami masa menopause.

Gejala dari varises vagina ini berupa benjolan kebiruan akibat pembuluh darah membengkak di sekitar labia minora dan majora. Anda mungkin tidak mengalami rasa sakit, tapi terkadang akan merasa mengganjal, menyebabkan gatal, atau bahkan adanya pendarahan.

  1. Herpes genital

Penyakit kelamin ini disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV). Biasanya ditandai dengan adanya benjolan di lubang vagina atau bentol berair pada alat kelamin, anus, atau mulut. Herpes genital dapat menyebar melalui sentuhan, namun lebih sering menyebar melalui hubungan seksual.

  1. Kutil kelamin

Bentuk dari kutil ini biasanya berupa benjolan kecil dan memiliki warna seperti kulit. Kutil kelamin pada dasarnya bisa menghilang dengan sendirinya, tapi tak jarang juga akan hinggap dalam waktu yang lama dan menyebabkan infeksi. Kutil kelamin disebabkan oleh virus human papilloma genital (HPV).

  1. Ulkus mole (chancroid)

Chancroid atau ulkus mole adalah infeksi genital yang disebabkan bakteri Haemophilus ducreyi. Bakteri ini menghasilkan luka terbuka alias koreng yang muncul pada atau dekat organ reproduksi eksternal.

Wanita dapat mengembangkan empat atau lebih benjolan merah di labia, di antara labia dan anus, atau di paha. Setelah benjolan menjadi borok, atau terbuka, Anda mungkin mengalami sensasi terbakar atau nyeri saat buang buang air kecil atau buang air besar.

Penanganan Benjolan di Vagina

Melihat banyaknya penyebab benjolan di vagina, tentu sangat sulit untuk menentukan penyebabnya tanpa melakukan pemeriksaan dengan tenaga medis profesional. Penanganan sementara yang bisa Anda coba adalah merendam daerah vagina di bathtub atau dibasuh dengan air hangat.

Apabila dalam beberapa hari tidak ada perbaikan atau bahkan kista semakin membesar, disertai nyeri yang semakin hebat, demam, dan perdarahan pada vagina, segeralah pergi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Selain itu, pemberian terapi dapat diberikan berupa operasi untuk kembali membuka sumbatan dan mengeluarkan abses, serta pemberian antibiotik yang sesuai. Penegakan diagnosis kista dan abses Bartholini dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik oleh dokter, kultur hanya dilakukan untuk menentukan jenis bakteri penyebab terjadinya abses.

Pada umumnya tumor vagina tidak menimbulkan gejala sama sekali hingga mencapai ukuran yang cukup besar. Gejala atau tanda yang dapat timbul seperti sensasi tertekan, nyeri saat berhubungan seksual, sumbatan pada vagina atau uretra, atau perdarahan vagina.

Oleh karena itu, pemeriksaan rutin dapat mendeteksi kelainan yang baru muncul pada pasien-pasien yang tidak memiliki gejala. Pemeriksaan rutin yang dapat dilakukan seperti pemeriksaan pelvis rutin dan Pap Smear.

Jika sudah terbentuk tumor maka dapat dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan dan colposcopy. Faktor risiko tinggi terkena tumor vagina, antara lain: usia lebih dari 60 tahun, riwayat kanker serviks, riwayat prekanker daerah vagina, riwayat ibu menggunakan DES (diethylstilbesterol) selama dalam kandungan, riwayat penyakit menular seksual seperti HPV (Human Papiloma Virus), vaginal adenosis, dan kebiasaan merokok.

baca juga: Terlahir Tanpa Vagina, Wanita Ini Memakai Vagina Buatan dari Kulit Ikan

Sedangkan, benjolan pada vagina tidak hanya terjadi pada wanita dewasa tetapi juga bisa terjadi pada bayi perempuan. Meksi begitu benjolan di dalam vagina ini tidak berbahaya karena terbentuk dari hymen dan labia minora pengaruh hormon estrogen dari ibu. Seiring dengan menurunnya kadar esterogen pada bayi, maka hymenal tag akan hilang dalam beberapa minggu.

Anda juga harus waspada terhadap penggunaan produk pembersih kewanitaan karena bisa saja menimbulkan alergi atau iritasi, dan memengaruhi bakteri normal di vagina yang mencegah terjadinya infeksi.