Penyebab Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah

Doktersehat.com – Di Indonesia bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) menunjukkan angka yang cukup tinggi. Padahal, bayi yang terlahir dengan berat badan rendah berisiko lima kali lebih tinggi mengalami kematian ketimbang bayi yang lahir dengan berat normal.



 BBLR adalah bayi yang terlahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa melihat usia kehamilan. Umumnya, BBLR disebabkan oleh kelahiran prematur dan pertumbuhan janin terlambat (PJT).

Kelahiran pada usia kurang dari 37 minggu merupakan kelahiran prematur. Sementara pertumbuhan janin terlambat (PJT) adalah terjadinya gangguan pada  pertumbuhan janin hingga berat janin di bawah presentil 10.

Risiko BBLR disebabkan beberapa faktor, yaitu: risiko medis, risiko demografik, risiko fasilitas kesehatan, serta risiko perilaku dan lingkungan.

Faktor risiko medis meliputi kehamilan multipel yang disebabkan teknik bayi tabung hingga menghasilkan bayi kembar lebih dari dua, jarak kehamilan yang terlalu pendek dari kehamilan sebelumnya, tidak optimalnya kenaikan berat badan ibu, hipertensi, hipotensi, pendarahan pada trimester pertama atau kedua, adanya bakteri dalam urin, atau cairan ketuban yang terlalu banyak atau sedikit.

Faktor risiko demografik bisa dipengaruhi oleh usia ibu yang terlalu muda yakni kurang dari 16 tahun atau usianya terlalu tua, lebih dari 35 tahun. Selain itu, dipengaruhi pula tingkat pendidikan yang rendah serta kondisi sosio-ekonomi yang menjadi salah satu tolak ukur penentu status gizi anak.

Menurut Dokter spesialis anak, Risma Kerina Kaban, BBLR yang disebabkan usia ibu yang terlalu muda banyak ditemukan di pedesaan sedangkan di perkotaan usia ibu yang terlalu tua menjadi penyebat bayi dengan BBLR.

Faktor risiko perilaku dan lingkungan dipengaruhi pada saat masa kehamilan terpapar asap rokok, ibu mengonsumsi alkohol, asupan nutrisi yang buruk.

Baca Juga:  Apakah Ibu Hamil Diperbolehkan Mengecat Rambutnya?

Sementara faktor risiko fasilitas kesehatan meliputi perawatan kehamilan yang tidak rutin atau tidak dilakukan sama sekali.

Menurut Risma, fakor kemiskinan membuat ibu hamil enggan untuk memeriksakan kehamilannya. Padahal, pemeriksaan pada masa kehamilan penting untuk mencegah bayi lahir dengan berat badan kurang.

Sumber: kompas.com