Penyebab Bau Mulut (Halitosis)

DokterSehat.Com – Bau mulut (Halitosis) adalah bau tidak sedap yang tercium ketika penderita menghembuskan nafasnya.

doktersehat-mulut-bau

Halitosis psikogenik merupakan suatu keyakinan bahwa nafas seseorang bau, padahal sebenarnya tidak. Masalah ini bisa terjadi pada orang yang cenderung untuk melebih-lebihkan sensasi tubuh yang normal. Kadang-kadang halitosis psikogenik disebabkan oleh kelainan jiwa yang serius, seperti skizofrenia. Seseorang dengan pikiran yang obsesif bisa memiliki perasaan kotor yang berlebihan. Seseorang yang paranoid bisa memiliki khayalan bahwa organnya rusak. Keduanya bisa beranggapan atau berkeyakinan bahwa nafas mereka bau.

Penyebab

  1. Makanan
    Konsumsi makanan seperti bawang putih, bawang merah, atau petai dapat menyebabkan bau mulut. Kandungan makanan tersebut diserap ke dalam aliran darah selama proses pencernaan. Di dalam paru-paru, bau tajam lantas ditransfer ke udara yang kemudian dihembuskan melalui hidung. Bau mulut yang disebabkan makanan mungkin bertahan hingga 72 jam.
  1. Kebersihan mulut yang tidak terjaga dan penyakit periodontal
    Kebersihan mulut yang buruk mengakibatkan akumulasi sisa makanan dalam mulut. Berbagai jenis bakteri dalam mulut kemudian menguraikan sisa makanan dan melepaskan gas hidrogen sulfida yang menyebabkan bau busuk. Jarang menyikat gigi menyebabkan bakteri dan partikel makanan membentuk lapisan lengket tidak berwarna pada gigi. Seiring waktu, lapisan ini semakin menumpuk sehingga membentuk plak dan memicu kerusakan gigi serta penyakit periodontal.
  1. Hidung dan tenggorokan
    Penyebab bau mulut mungkin berhubungan dengan hidung. Setiap zat asing yang terjebak dalam hidung dapat menimbulkan bau mulut. Infeksi sinus, misalnya, menyebabkan keluarnya cairan dari sinus yang melewati bagian belakang tenggorokan sehingga menimbulkan bau busuk. Beberapa jenis infeksi tenggorokan juga memicu bau mulut. Aktivitas bakteri di tonsil bisa pula menyebabkan bau mulut ringan.
  1. Tembakau dan alkohol
    Tembakau dan alkohol menyebabkan mulut kering yang berakhir dengan bau mulut. Selain itu, zat pada rokok seperti tar dan nikotin bisa menumpuk di dalam mulut dan memicu penyakit periodontal serta bau mulut. Demikian juga, konsumsi alkohol berpotensi mengakibatkan masalah pencernaan yang juga dihubungkan dengan bau mulut.
  1. Mulut kering dan puasa
    Bau mulut umum dirasakan saat bangun pagi. Hal ini disebabkan oleh penurunan produksi air liur selama tidur. Oleh karena itu, air liur memiliki peran yang sangat penting dalam membersihkan dan melembabkan mulut. Selain itu, air liur memiliki kemampuan membunuh bakteri di dalam mulut. Itu sebab, penurunan produksi air liur akan menyebabkan bau mulut. Puasa juga memicu bau mulut akibat terjadinya pemecahan bahan kimia (ketoasidosis).
  1. Penyakit dan penyebab lain
    Beberapa jenis kanker bisa menyebabkan bau mulut, begitu juga dengan infeksi paru-paru dan abses. Selain itu, gagal ginjal menghasilkan napas berbau seperti urin, sedangkan bau amis menandakan adanya masalah pada hati. Diabetes dan asam refluks kronis dapat pula menyebabkan bau mulut. Sebagian orang mungkin mengalami bau mulut karena intoleransi laktosa. Dehidrasi menyebabkan masalah pencernaan dan sembelit juga merupakan salah satu penyebab bau mulut. Gigi palsu dapat pula memicu halitosis jika tidak dibersihkan dengan benar.
Baca Juga:  Ingin Lebih Berbahagia? Konsumsi Makanan Berwarna Kuning

Gejala
Tercium bau yang tidak sedap ketika penderita menghembuskan nafasnya.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya.

Pengobatan
Penyebab fisik dapat dikoreksi atau disingkirkan. Sebagai contoh, orang bisa berhenti makan bawang putih atau memperbaiki kebersihan mulutnya. Banyak pewangi mulut dan semprotan mulut yang bisa dipakai, yang terbaik adalah yang mengandung klorofil. Atau bisa juga dengan menggunakan arang yang diaktifkan yang akan menyerap bau.

Dokter bisa membantu meyakinkan penderita halitosis psikogenik, bahwa nafas mereka tidak bau. Bila masalahnya berlanjut, mungkin diperlukan bantuan dari seorang prikoterapis.