Luka – Pengobatan

Berikut adalah pengobatan luka yang dapat dilakukan berdasarkan kondisi pasien dan luka tersebut.

doktersehat-kaki-lutut-sakit-amputasi-perban-gips-nyeri

  • Praktisi kesehatan akan memastikan bahwa tidak ada cedera yang berhubungan dengan luka (misalnya, jika seseorang jatuh dan luka di dagu, orang tersebut mungkin berisiko untuk mengalami fraktur rahang), dan bahwa risiko infeksi akan diminimalkan. Penampilan dari segi kosmetika untuk bekas luka yang tipis memang merupakan suatu tujuan, tapi bukan tujuan yang paling penting.
  • Penting untuk mengetahui kronologi cedera, karena mekanisme cedera akan mempengaruhi perawatan yang diberikan. Gigitan hewan akan memerlukan perawatan medis yang lebih daripada jatuh di tempat bermain, terlebih terkait dengan toksin serangga yang mungkin akan membahayakan tubuh dengan reaksi alergi.
  • Penting untuk mengetahui keadaan kebersihan cedera, dan apakah ada cedera awal yang mendasari.
  • Individu dengan diabetes, sirkulasi peredaran darah yang buruk, pasien dialisis, atau pasien yang sedang dalam tahap meminum obat yang dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh berada pada risiko tinggi infeksi; dan keputusan untuk memperbaiki luka dapat dipengaruhi oleh riwayat medis pasien.
  • Status imunisasi tetanus akan diperlukan untuk menentukan apakah imunisasi diperlukan.
  • Waktu onset dari ketika cedera awal terjadi, dan kapan perawatan medis didapatkan juga menjadi bahan pertimbangan. Semakin lama luka dibiarkan terbuka, semakin tinggi risiko infeksi jika dijahit. Panduan bagi banyak praktisi kesehatan adalah antara 6-12 jam. Jika luka lebih lama dari 6-12 jam, sebaiknya luka tidak dijahit.
  • Luka robek di ekstremitas termasuk tungkai, lengan, kaki dan tangan mungkin melibatkan tendon, saraf dan pembuluh darah. Cek fungsi anggota gerak adalah bagian penting dari pemeriksaan fisik.