Terinfeksi Hepatitis Saat Hamil, Ini Langkah yang Harus Anda Lakukan

Doktersehat - Ibu Hamil
Photo Credit: Flickr.com/Frode Slettum

DokterSehat.Com– Hepatitis adalah istilah umum penyakit yang merujuk pada peradangan yang terjadi di hati. Hepatitis umumnya disebabkan oleh infeksi virus, meskipun juga dapat disebabkan oleh kondisi lain.

Ada beberapa jenis virus hepatitis, yaitu hepatitis A,B,C, D dan E. Jika tidak tertangani dengan baik, hepatitis saat hamil bisa menyebabkan penyakit parah, kerusakan hati, bahkan kematian. Selain itu, sang ibu juga bisa menyebarkan virus ke janinnya.

Hepatitis B dan C adalah jenis hepatitis yang paling umum terjadi selama kehamilan. Sementara hepatitis B adalah bentuk hepatitis yang paling sering ditularkan dari ibu ke bayi di seluruh dunia.

Penyebab Hepatitis pada Ibu Hamil

Hepatitis B dan C menyebar melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi seperti cairan vagina atau air mani. Hubungan seks tanpa kondom atau penggunaan jarum bekas orang yang terinfeki adalah contoh bagaimana hepatitis menyebar.

Pada umumnya, hepatitis B dan C tidak menimbulkan gejala ketika awal infeksi virus mulai terjadi. Namun demikian, penyakit ini berjalan secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang hingga kemudian gejala mulai muncul. Saat gejala sudah muncul, umumnya kondisi kesehatan sudah memburuk.

Selain disebabkan oleh virus, hepatitis juga dapat terjadi akibat kerusakan pada hati oleh senyawa kimia, terutama alkohol. Konsumsi alkohol berlebihan akan merusak sel-sel hati secara permanen dan dapat berkembang menjadi gagal hati atau sirosis. Penggunaan obat-obatan melebihi dosis atau paparan racun juga dapat menyebabkan hepatitis.

Pada beberapa kasus, hepatitis bisa terjadi karena kondisi autoimun pada tubuh ibu hamil. Pada hepatitis yang disebabkan oleh autoimun, sistem imun tubuh justru menyerang dan merusak sel dan jaringan tubuh sendiri, dalam hal ini adalah sel-sel hati, yang pada akhirnya menyebabkan peradangan.

Dampak Hepatitis pada Ibu Hamil

Saat ibu hamil hamil didiagnosis menderita hepatitis, maka ia akan berisiko mengalami ketuban pecah dini, diabetes gestasional atau mengalami perdarahan berat. Ada juga peningkatan risiko komplikasi persalinan seperti plasenta abrupsio dan kematian bayi saat lahir.

Bayi dalam kandungan pada umumnya tidak terpengaruh oleh virus hepatitis milik ibunya selama kehamilan. Namun, mungkin ada beberapa peningkatan risiko tertentu saat persalinan, seperti bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat rendah (BBLR), atau kelainan anatomi dan fungsi tubuh bayi (terutama pada infeksi hepatitis B kronis).

Sementara itu, pada hepatitis kronis, virus akan berkembang biak di dalam sel-sel hati dan tidak dapat dimusnahkan oleh sistem imun. Virus yang berkembang biak secara kronis dalam hati penderita akan menyebabkan peradangan kronis dan dapat menyebabkan sirosis, kanker hati, atau gagal hati.

Penanganan Hepatitis untuk Ibu Hamil

Sejumlah tindakan penanganan umum yang dapat mendukung proses penyembuhan hepatitis, di antaranya:

  1. Penderita hepatitis sangat dianjurkan memperbaiki pola hidup dengan memperbaiki asupan makanan bernutrisi yang diolah secara higienis, perbanyak konsumsi air putih, cukupi istirahat, rutin berolahraga dan menghentikan kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, narkoba, dan perilaku seks bebas.
  2. Hepatitis B dan C ditangani dengan pemberian obat atau kombinasi obat-obatan resep dokter, yang perlu di konsumsi dalam jangka waktu panjang.
  3. Persalinan normal lewat vagina maupun operasi caesar sama amannya untuk pasien hepatitis B dan C. Tidak ada perbedaan dari tingkat penularan yang diketahui saat membandingkan kedua metode persalinan.

Selain menerapkan pola hidup sehat dan bersih, ibu hamil juga harus:

  1. Mencuci bahan makanan yang akan dikonsumsi, terutama kerang dan tiram, sayuran, serta buah-buahan.
  2. Tidak menyentuh tumpahan darah tanpa sarung tangan pelindung.
  3. Menjaga kebersihan sumber air agar tidak terkontaminasi virus hepatitis.
  4. Tidak berbagi pakai sikat gigi, pisau cukur, atau jarum suntik dengan orang lain.
  5. Jika Anda sudah selesai melaksanakan proses persalinan, bayi perlu segera mendapat vaksin dan antibodi untuk mencegah penularan virus. Teknik pencegahan demikian memiliki efektivitas hingga 95% untuk mencegah penularan virus.