Pengaruh Alergi Makanan dan Perilaku Buruk pada Anak

DokterSehat.Com– Ada beberapa penyebab anak berperilaku buruk, salah satunya makanan. Makanan dengan gizi yang buruk dapat menyebabkan gula darah rendah, kadar insulin tidak seimbang, dapat berdampak pada suasana hati anak. Demikian pula dengan alergi makanan. Pada beberapa anak yang memiliki alergi makanan, umumnya memiliki perilaku buruk meskipun bukan menjadi faktor yang dominan.



Makanan penyebab alergi

Sebagian besar alergi makanan pada anak dan dewasa dipicu oleh jenis makanan yang mengandung protein seperti susu, telur, kacang dan ikan atau makanan yang mengandung zat tambahan seperti pemanis, pengawet dan pewarna. Jenis alergi makanan pun beragam mulai dari alergi ringan hingga alergi berat atau anafilaksis yang dapat berujung pada kematian jika terlambat ditangani secara medis.

Reaksi alergi yang umum

Dilansir dari laman Live Strong, alergi umumnya disebabkan oleh pelepasan histamin dalam jaringan secara besar-besaran yang menyebabkan peningkatan aliran darah dan getah bening, peradangan dan penyumbatan. Beberapa reaksi alergi yang sering terjadi antara lain ruam kulit, kesulitan bernapas, sakit kepala, diare, mata bengkak.

Perilaku buruk dan kaitannya dengan alergi makanan

Selain reaksi tersebut, beberapa gejala perilaku buruk seperti kemarahan tiba-tiba, tantrum, perubahan suasana hati dan deperesi dapat dipicu oleh alergi makanan. Beberapa perilaku tersebut umumnya terkait dengan ketidakmampuan anak untuk mengungkapkan rasa tidak nyaman yang dialaminya.

Sedangkan beberapa bahan kimia yang digunakan sebagai zat tambahan pada makanan secara langsung mengubah tingkat hormon dan neurotransmitter di otak. Lebih lanjut, pelepasan histamin dan zat racun dapat menyebabkan peradangan di otak yang memicu perubahan perilaku dan kognitif.

Memang tidak semua perilaku buruk pada anak disebabkan oleh alergi makanan. Namun Anda perlu waspada jika alergi makanan dapat memicu perilaku buruk tersebut. Pada beberapa kasus, anak-anak yang berperilaku buruk salah didiagnosis dan dan diobati dengan obat-obatan psikotropika padahal masalah sebenarnya adalah alergi makanan.