Penderita Asma Menyebabkan Telat Hamil

DokterSehat.Com – Wanita yang memiliki asma tampaknya akan mengalami keterlambatan hamil, demikian laporan dari peneliti Denmark menunjukkan.

6

Apakah kecenderungan ini dikarenakan asma memiliki efek biologis secara langsung pada kesuburan ataukah karena asma dapat mengurangi frekunsi hubungan suami-istri, masih belum diketahui dengan  jelas. Namun para peneliti mengatakan bahwa ada hubungan antara asma dengan ketidaksuburan karena peningkatan waktu untuk hamil.

Pemimpin peneliti, Dr Elisabeth Juul Gade, mengatakan saat ini, temuan kami hanya dapat menunjukkan kecenderungan saja. Ada kebutuhan untuk studi klinis yang meneliti masalah ini secara umum. Temuan ini diterbitkan pada tanggal 14 November di jurnal European Respiratory edisi online.

Hubungan antara asma dan keterlambatan hamil

Dr. Len Horovitz, seorang spesialis paru-paru di Rumah Sakit Lenox Hill di New York, mengatakan bahwa hubungan antara asma dan keterlambatan kehamilan cukup jelas. Asma adalah penyakit inflamasi dan peradangan yang dapat terjadi di bagian tubuh mana saja. Bagian radang dari asma tidak hanya mempengaruhi tabung bronkial, namun juga tuba falopi, ujar Horovitz. Teori ini didukung oleh fakta bahwa wanita penderita asma yang telah dirawat dengan baik mengalami peningkatan kemampuan untuk hamil.

Dr Avner Hershlag , kepala dari Pusat Reproduksi Manusia di North Shore University Hospital, Manhasse, N.Y., mengutip sebuah penelitian di Inggris yang melibatkan lebih dari 500 ribu wanita. Ia mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam tingkat kesuburan antara wanita yang memiliki asma ataupun yang tidak.

Penelitian dari Denmark ini tidak menyoroti tingkat kesuburan yang sebenarnya, namun lebih pada keterlambatan untuk hamil, kata Hershlag. Secara keseluruhan, pasien yang mengalami atau tidak mengalami asma memiliki kesuburan yang sama. Jadi, pasien yang memiliki penyakit asma tidak perlu merasa cemas.

Baca Juga:  Dokter Ari Kusuma Januarto

Penelitian ini berdasarkan data lebih dari 15.200 wanita kembar Denmark yang berusia di bawah 42 tahun. Para wanita diminta mengisi kuesioner yang menanyakan hal-hal terkait asma dan kesuburan. Data tersebut tidak hanya berlaku bagi mereka yang kembar, namun juga digunakan untuk orang lain secara keseluruhan.

Para partisipan kemudian dibagi menjadi dua, yakni yang memiliki asma dan yang tidak memilikinya, serta mereka yang asmanya sedang dirawat ataupun yang tidak dirawat. Kemudian mereka ditanya apakah mereka telah mencoba untuk hamil selama lebih dari satu tahun ini, dan apakah hasilnya gagal atau sebaliknya.

Para peneliti menemukan bahwa hampir 1.000 wanita menderita asma. Kebanyakan dari mereka memiliki waktu yang lebih sulit untuk hamil dibandingkan wanita yang tidak memiliki asma ( 27 persen versus 21,6 persen ).

Tertundanya kehamilan secara signifikan jauh lebih lama pada wanita asma yang tidak diobati/dirawat (30,5 %) dibandingkan dengan wanita asma yang dirawat (23,8 %), kata para peneliti. Selain itu, wanita penderita asma di atas 30 tahun lebih mungkin untuk mengalami keterlambatan kehamilan (32,2 %) dibandingkan dengan wanita penderita asma di bawah usia 30 tahun (24,9 %).

Bagaimanapun juga, para peneliti menegaskan bahwa wanita penderita asma pada akhirnya juga bisa memiliki jumlah rata-rata anak yang sama seperti wanita yang tidak mempunyai asma, hanya masalah waktu yang membedakan, di mana wanita penderita asma cenderung lebih terlambat untuk hamil dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki penyakit asma.