Pemerintah Menjamin Vaksinasi Ulang Memakai Vaksin Asli

DokterSehat.Com – Kasus vaksin palsu terus bergulir seiring dengan dipublikasikannya beberapa rumah sakit yang ternyata memakai vaksin palsu ini. Banyak orang tua yang kemudian menuntut rumah sakit dan fasilitas kesehatan tersebut karena sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan anak-anaknya. Pemerintah dan pakar kesehatan pun menyebutkan jika mereka akan segera memberikan vaksinasi ulang pada anak-anak yang sebelumnya telah diberi vaksin palsu. Menteri Kesehatan Nila Moeloek bahkan memastikan bahwa vaksin palsu tidak akan memberikan dampak apapun bagi tubuh anak dan sebaiknya anak segera divaksinasi ulang untuk mendapatkan perlindungan dari berbagai macam penyakit.

doktersehat-vaksin-ulang-kolera

Kali ini, pemerintah tidak lagi mau kecolongan dan memastikan bahwa mereka akan memakai vaksin asli yang diproduksi oleh Bio Farma. Sebagaimana diketahui, vaksin yang diproduksi oleh Bio Farma telah diekspor hingga ke 130 negara sehingga dipastikan mereka akan menjaga kualitas vaksinnya sebaik mungkin. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan; M. Subuh, bahkan menjamin bahwa stok vaksin asli untuk program vaksinasi ulang ini akan cukup dan dananya juga sudah tersedia dari stok imunisasi rutin nasional yang bisa mencapai Rp 1,2 triliun per tahun.

M. Subuh juga mengungkapkan jika ada dua jenis vaksin yang akan diberikan untuk program imunisasi ulang ini, yakni vaksin pentavalen yang bisa memberikan perlindungan maksimal pada penyakit layaknya DPT atau difteri, anti tetanus, dan juga pertusis, Hepatitis B, HiB atau Haemophilus Influenza tipe B, dan juga vaksin oral polio. Setelah itu, barulah vaksin campak akan diberikan pada anak pada bulan berikutnya.

Untuk mendapatkan informasi mengenai vaksinasi ulang, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek bahkan sudah mengeluarkan pusat informasi melalui nomor telepon di 1500567. Bahkan, Kementerian Kesehatan juga sudah menyiapkan satgas khusus untuk menanggulangi vaksin palsu ini dan melakukan verifikasi data anak agar tidak ada anak yang sebelumnya diberi vaksin palsu yang tertinggal.