Hepatitis C – Pemeriksaan Penunjang

Tes laboratorium akan dilakukan untuk mengevaluasi fungsi hati pasien (tes darah hati) dan untuk mencari antibodi hepatitis C (serologi). Jika tes ini menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki hepatitis C, pemeriksaan “viral load” hepatitis C akan dilakukan. Pemeriksaan ini adalah mencari materi genetik dari virus hepatitis C (HCV) dan mengukur jumlah virus hepatitis C yang beredar dalam darah pasien. Hal ini bermanfaat dalam menentukan apakah pengobatan yang tepat dan untuk memantau keberhasilan pengobatan (seberapa baik pasien merespons).

doktersehat-anemia-kurang-darah-konsultasi

Individu yang memiliki hepatitis C di masa lalu dan memberantas virus sendiri akan memiliki tes antibodi HCV positif, tapi tidak akan ada materi genetik virus hepatitis C (viral load tidak terdeteksi) dalam darah. Jika seseorang mengalami imunosupresi karena kondisi imunologi, kemoterapi kanker, imunoterapi atau HIV/ AIDS, hasil tes mungkin berbeda dan perlu dievaluasi sesuai klinis yang ditemukan.

Apa pemeriksaan lainnya dalam mendiagnosis hepatitis C?
Setelah diagnosis hepatitis C dilakukan, pemeriksaan lain mungkin dilakukan untuk menentukan apakah pasien telah mengalami fibrosis hati atau jaringan parut (sirosis). Hal ini dapat dilakukan dengan biopsi hati dengan jarum, dan memeriksa jaringan hati dibiopsi di bawah mikroskop. Biopsi hati ini jarang dilakukan sekarang karena tes non-invasif (tanpa melakukan perlukaan di hati) yang lebih mudah sudah tersedia, lebih mudah dicapai dan lebih murah.

Pencitraan hati dapat mengevaluasi fibrosis menggunakan USG dan MRI scan. Selain itu, perhitungan dengan menggunakan berbagai tes darah (FibroSure, FibroTest, Hepascore, FibroSpect, APRI) juga dapat memprediksi tingkat peradangan dan fibrosis yang ada. Pengujian genotipe biasanya akan dilakukan untuk menentukan apa subtipe dari hepatitis C yang pasien punya, karena ini akan berdampak pada obat apa yang digunakan untuk pengobatan. Pengujian untuk infeksi lain termasuk HIV, hepatitis A, dan hepatitis B juga biasanya dilakukan untuk menentukan apakah pasien mungkin memiliki kondisi lain yang dapat mempengaruhi pengobatan dan prognosis pasien.