Pelatihan Pelayanan KB untuk Bidan

DokterSehat.com Tingkatkan Kemampuan Bidan Berkualitas. Tuntutan kebutuhan akan pelayanan KB dan persalinan di masyarakat kini semakin tinggi. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut, maka Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengadakan pelatihan Contraceptive Technology Up to date (CTU), hari Senin (21/6) di RS Ibu dan Anak, Jl. Dupak No. 15A Surabaya. Pelatihan itu sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak.



Dalam pelatihan itu diikuti oleh sepuluh peserta, masing-masing dari Puskesmas Jagir, Dupak, Manukan, Dukuh Kupang, Gunung Anyar, Klampis Ngasem serta Bidan dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Pelatihan akan berlangsung selama empat hari dengan materi yang berbeda yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para Bidan yang ada di Surabaya.

“Pelatihan ini guna mengikuti perkembangan terkini tentang ilmu dan keahlian atau kemampuan Bidan,” tukas Yunarlis, Amd, salah satu panitia pelatihan ini.

Pelatihan CTU terkini, lanjut Yunarlis, semakin mudah dengan mengikuti langkah yang baku, lebih jelas dan mengikuti perkembangan teknologi terkini. Dengan pelatihan tersebut, hasil yang ingin dicapai yakni peserta mengusai teori dan tindakan. “Saya harap dengan pelatihan ini peserta mempunyai kemampuan yang berkompeten, mampu melayani sesuai dengan standar pemasangan AKR (Alat Kontrasepsi dalam Rahim) dan AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Rahim),” jelas Bidan dari Puskesmas Jeruk ini.

Sesuai yang telah dikatakan oleh Ketua P2KP, dr. Baksono, SpOG(K) dari RSU Dr. Soetomo dalam pembukaanya bahwa tujuan pelatihan itu untuk meningkatkan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. “Para Bidan ini adalah provider di masyarakat yang harus memberikan wawasan penting mengenai perencanaan kehamilan dan persalinan,” ungkapnya saat memberikan sambutan pembukaan pada pelatihan CTU.

Baca Juga:  Mengungkap Mati Suri

Saat ini untuk menghindari KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan), ada beberapa hal yang harus dilakukan, salah satunya menunda perkawinan di usia muda sampai pada usia matang dan mengatur atau merencanakan kehamilan. Hal itu guna untuk mendapatkan keturunan yang berkualitas. “Proses perencanaan itu dilakukan dengan KB alamiah atau KB modern, agar pelaksanaan KB menjadi aman sesuai dengan kondisi pasien, maka para tenaga kesehatan harus benar menguasai teori dan tindakan yang akan dilakukannya,” papar dokter yang akrab disapa dr. Baksono ini.

Lanjut ia katakan bahwa KB juga untuk mengatur kehamilan agar jarak anak yang pertama dan kedua tidak terlalu dekat agar keselamatan ibu terjaga. “Jika kehamilan telah direncanakan dengan baik, maka jarak antara anak pertama dan kedua bisa diatur untuk menghindari Angka Kematian Ibu dan Bayi, karena AKI dan AKB di Indonesia semakin meningkat,” ungkapnya.

Saat ini diyakini KB merupakan program yang strategis untuk menekan AKI dan AKB. Untuk itu kepala P2KP Surbaya menghimbau agar mengiatkan kembali langkah program KB. Karena saat ini program KB yang terjaring oleh BLKB hanya sedikit yang terjaring. Bahkan saat ini kehamilan yang tidak diinginkan semakin meningkat bersamaan dengan teknologi informasi semakin muda diakses, tak jarang pernikahan dini kerap terjadi dan itu harus dilakukan KB, baik secara alami dan modern, untuk mencegah kehamilan di usia muda.(Ima)

source