Pekerja yang Dapat Jatah Cuti Sakit Jadi Jauh Lebih Sehat

Doktersehat.com – Pekerja seringkali dihadapkan pada situasi yang berisiko bagi kesehatannya, bahkan dari tempat kerjanya sendiri seperti akibat terlalu lama duduk atau berada di pabrik yang berpolusi tinggi.Perusahaan juga sudah seharusnya memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan para karyawannya. Penemuan teranyar mengungkapkan, karyawan yang mendapat bayaran cuti sakit cenderung lebih sehat dan produktif ketimbang pekerja lain yang tidak mendapatkan akses ini.



Oleh karena itu perusahaan yang baik tentu akan memperhatikan hal semacam ini dan memberikan hak yang sesuai dengan risiko pekerjaan yang diberikan.

Lagipula sebelumnya sebuah studi pernah mengungkapkan bahwa pekerja yang diberi hak secara memadai cenderung lebih produktif dan inovatif.

Senada dengan hal itu, sebuah studi mengemukakan bahwa pekerja yang mendapatkan jatah cuti ketika sakit terbukti lebih sehat dibandingkan pekerja yang tidak mendapatkannya.

Temuan tersebut didukung hasil laporan US Centers for Disease Control dan Prevention National Institute for Occupational Safety and Health. Dalam laporannya mereka menemukan bahwa pekerja yang mendapat bayaran cuti sakit 28 persen lebih rendah untuk menderita cedera fatal karena pekerjaan.

Mereka yang bekerja di sektor industri dengan risiko tinggi, seperti pekerja konstruksi, manufaktur dan kesehatan (yang sering menderita sakit, keseleo, patah tulang dan cedera kronis) akan mendapatkan manfaat dari adanya pembayaran cuti sakit.

“Studi ini menyoroti bagaimana pekerjaan dan kesehatan personal saling terkait,” kata Dr John Howard, dalam rilis berita CDC.

“Ini konsep dari total kesehatan pekerja. Perusahaan harus berupaya menciptakan lingkungan yang sehat baik di rumah maupun di tempat kerja. Karena kemajuan perekonomian suatu negara tergantung pada kemampuan dan produktifitas pekerja,” tambahnya.

Peneliti menekankan bahwa pekerja yang bergerak di bidang industri berisiko tinggi seperti konstruksi, pabrikan dan industri kesehatan yang sering mengalami nyeri, keseleo, patah tulang dan luka kronis mendapatkan keuntungan paling banyak dari kebijakan ini.

Baca Juga:  Memperbesar Payudara dengan Diet yang Tepat

Oleh karena itu, peneliti memperingatkan jika pekerja yang sakit atau stres tidak mendapatkan waktu rehat dari pekerjaannya maka risiko cederanya akan semakin besar.

Studi sebelumnya juga melaporkan bahwa kurang tidur, kelelahan dan penggunaan obat-obatan tertentu bisa berkontribusi terhadap cedera yang terjadi di tempat kerja.

“Banyak pekerja yang merasa tertekan untuk bekerja di saat mereka sakit, terlebih karena takut kehilangan penghasilan mereka. Semakin sedikit orang yang tetap bekerja saat sakit maka hal ini akan mendorong situasi kerja yang lebih aman dan semakin sedikitnya cedera yang mungkin terjadi di tempat kerja,” ujar ketua tim peneliti Abay Asfaw seperti dilansir dari HealthDay, Kamis (2/8/2012).

Studi ini telah dipublikasikan dalam American Journal of Public Health.

Sumber : kompas.health.com &detikhealth.com