Nyeri Perut Pada Anak

DokterSehat.Com – Anak sangat mungkin mengalami keluhan nyeri perut. Penyebabnya bisa beraneka ragam, mulai dari penyebab yang sederhana dan tidak berbahaya, hingga penyebab yang sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan bedah sesegera mungkin. Penanganan nyeri perut pada anak berbeda-beda tergantung pada penyebabnya.

6

Inilah jenis nyeri perut yang umum terjadi pada anak :

  • Dismenorea
    Nyeri datang bulan atau dismenorea adalah nyeri bulanan -jika siklus menstruasi teratur- yang dialami oleh setiap anak perempuan yang telah melewati haid pertama. Nyeri datang bulan bisa berupa hal normal atau bisa juga diakibatkan oleh penyakit tertentu.

    Nyeri datang bulan yang normal -tidak disebabkan penyakit, muncul dalam 6 bulan atau kurang sejak haid pertama. Nyeri datang bulan biasanya akan terasa seperti kram di bagian perut bawah selama 2-3 hari sebelum dan sesudah haid yang menjalar ke punggung atau paha. Nyeri kram akibat datang bulan bisa diredakan dengan obat pereda nyeri seperti paracetamol ataupun golongan anti inflamasi non-steroid (Non Steroid Anti Inflammatory Drugs atau NSAID).

  • Nyeri perut fungsional
    Tak hanya orang dewasa yang bisa mengalami stres, anak-anak pun bisa mengalami hal yang sama. Saat anak mengalami stres, akan muncul gejala yang mudah terlihat seperti nyeri perut. Jenis nyeri perut ini dinamakan nyeri perut fungsional. Anak yang mengalami nyeri perut fungsional tidak akan ditemukan kelainan pada pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Nyeri yang dapat hilang timbul atau menetap ini, umumnya sering dirasakan pada perut bagian tengah. Bila si kecil sedang berada di bawah tekanan atau kecemasan yang belebihan, rasa nyeri ini akan bertambah hebat. Cara membantu si kecil yang mengalami gangguan seperti ini bisa dilakukan dengan pendekatan psikologis, misalkan konseling yang bertujuan agar anak dapat mengatasi kekhawatirannya.
  • Infeksi saluran kemih
    Gangguan penyakit ini tidak bisa dianggap remeh bila terjadi pada anak. Apda bayi, infeksi saluran kemih bisa mengakibatkan gagal tumbuh, sulit minum atau makan dan demam. Sayangnya gejala infeksi ini terkadang sulit terlihat, apalagi pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Gejala yang muncul pada bayi usia 1-2 bulan bisa berupa diare dan muntah. Sedangkan pada anak usia 2 tahun ke atas, bila terkena infeksi ini akan memperlihatkan gejala yang lebih jelas, seperti anyang-anyang, nyeri saat berkemih, dan nyeri perut.

    Sama halnya seperti infeksi pencernaan, hindari sembarangan memberikan antibiotik tanpa resep dokter. Hal ini bertujuan untuk menghindari efek samping dari beberapa jenis antibiotik yang kurang baik jika diberikan pada anak-anak. Nyeri perut bagian bawah yang disebabkan oleh infeksi saluran kemih bisa diredakan dengan pemberian obat anti nyeri, seperti paracetamol dan obat anti nyeri lainnya.

  • Radang usus buntu akut
    Radang usus buntu akut merupakan salah satu contoh kegawatdarutan yang umum terjadi pada anak. Jika terdiagnosis penyakit ini, penanganannya tidak dapat ditunda untuk menghindari usus buntu yang sewaktu-waktu bisa pecah. Sebab, bila hal ini terjadi justru dapat membahayakan nyawa si kecil.  Gejala usus buntu pada anak memang tidak sejelas pada orang dewasa.  Biasanya anak akan merasakan nyeri yang makin hebat seiring waktu pada bagian perut. Bila dilakukan pemeriksaan, akan terlihat ketegangan pada bagian perut kanan bawah, bahkan bisa tersebar ke seluruh lapang perut. Anak juga akan mengalami demam, mual muntah, dan tidak mau makan. Jika usus buntu yang meradang telah pecah, maka akan mengiritasi selaput dinding perut. Pada kondisi ini, perut anak akan teraba keras seperti papan dan akan nyeri walau dengan penekanan ringan. Nadi anak akan meningkat dan perut anak dapat tidak terangkat pada saat pernapasan. Pemeriksaan untuk memastikan diagnosis radang usus buntu akut dapat dilakukan dengan USG (ultrasonografi) dan CT-Scan (Computerized tomography).
  • Infeksi saluran cerna
    Makanan jajanan yang kurang terjaga kebersihannya bisa membuat anak mengalami infeksi saluran cerna. Pasalnya, pada makanan yang kotor mengandung banyak kuman yang bisa sangat mudah masuk ke dalam perut si kecil. Apabila kuman tersebut sudah masuk ke dalam perut dan si kecil mengalami infeksi, biasanya mereka akan mengalami demam, lemas, dan nyeri perut. Gejala lain yang sering muncu adalah diare. Namun, tidak semua anak yang mengalami infeksi kuman mengalami diare, bisa saja ia malah tidak buang air besar selama satu minggu.

    Meskipun gangguan kesehatan ini termasuk dalam infeksi, namun hindari memberikan antibiotik tanpa pengawasan dokter, sebab tidak semua infeksi bisa sembuh dengan pemberian antibiotik yang sama. Pastikan anak banyak minum agar tidak kekurangan cairan. Perhatikan pula bentuk dan warna tinja si kecil dan laporkan kepada dokter, karena akan sangat membantu penegakan diagnosis. Dalam kasus infeksi saluran cerna pada anak sebaiknya Anda segera membawanya ke dokter untuk penanganan yang tepat.